EtIndonesia. Ada seorang kakek tua, tipikal petani desa. Sepanjang hidupnya, dia memiliki satu kegelisahan—tidak besar, tapi juga sama sekali tidak kecil—yaitu pintu kayu rumahnya selalu berbunyi nyaring setiap kali dibuka dan ditutup.
Bunyinya tajam, kering, dan menusuk telinga, sering membuat hatinya gelisah dan seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.
Sejak kapan bunyi itu muncul, tak seorang pun tahu pasti. Sebelum menikah, dia hanya perlu menahan suara pintu yang dia buat sendiri. Namun setelah istrinya masuk ke rumah, dia mulai harus menahan bunyi yang dibuat orang lain.
Yang paling menyebalkan adalah, dia tidak pernah tahu kapan pintu itu akan dibuka atau ditutup, seberapa cepat atau seberapa keras. Kadang tiba-tiba terdengar bunyi aneh—panjang atau pendek, ringan atau berat—yang membuat kakek itu butuh waktu lama untuk kembali tenang.
Anak demi anak lahir, dan bunyi pintu pun semakin sering terdengar dari tahun ke tahun.
Ketika cucu-cucu mulai lahir, suara itu meningkat berlipat-lipat, dan kegelisahan sang kakek pun ikut berlipat-lipat.
Perlahan-lahan, wataknya menjadi pemarah. Dia sering meledak hanya karena hal-hal kecil, hingga anak dan cucunya takut mendekatinya.
Bagi dirinya, di satu sisi, bunyi itu sangat menjengkelkan; namun di sisi lain, hidup tanpa kegelisahan seolah justru tak terbayangkan.
Setetes Minyak
Suatu hari, sang kakek jatuh sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidur sepanjang hari.
Suatu ketika, cucunya yang masih duduk di bangku SMP masuk ke kamar.
Begitu suara pintu berhenti, sang kakek menghela napas dan berkata : “Setiap kali mendengar pintu itu berbunyi, aku langsung merasa tidak enak.”
Mendengar itu, sang cucu pergi ke dapur, mengambil sebotol minyak, lalu meneteskan masing-masing satu tetes minyak pada engsel pintu.
Setelah beberapa kali pintu dibuka dan ditutup, bunyi itu lenyap tanpa jejak.
Sebulan kemudian, sang kakek meninggal dunia.
Baru menjelang akhir hidupnya, dia menyadari apa yang sebenarnya membawa kegelisahan sepanjang hidupnya, dan betapa mudahnya menghilangkan kegelisahan itu sejak awal.
Kegelisahan yang Kita Pelihara Sendiri
Cerita yang terdengar absurd ini benar-benar pernah terjadi, dan dalam bentuk lain, terjadi di sekitar kita setiap saat.
Misalnya, pernah terlihat seorang wanita muda berpakaian modis dan cantik berjalan di jalanan kota, namun di hidungnya terdapat tahi lalat hitam yang menonjol, sedikit lebih besar dari biji kedelai.Itu jelas bukan tahi lalat pemanis wajah.
Bisa dipastikan, dia telah bercermin ribuan kali, dan ribuan kali pula merasa terganggu olehnya. Namun entah mengapa, dia tidak pernah benar-benar melakukan sesuatu untuk menghilangkannya.
Padahal, di rumah sakit biasa pun, menghilangkan tahi lalat seperti itu hanyalah perkara sepele bagi dokter— beberapa menit saja sudah selesai, bahkan mungkin tanpa meninggalkan bekas luka.
Lalu bagaimana dengan “kebisingan” dalam batin kita dan “tahi lalat” dalam kepribadian kita sendiri?
Rasanya, setiap orang pasti memilikinya.
Jika kita tidak berusaha menanganinya secara langsung, kegelisahan itu akan menemani kita seumur hidup.
Renungan
Saat pertama membaca cerita ini, aku sempat berpikir: Kalau memang sangat terganggu oleh bunyi pintu, mengapa tidak memperbaikinya saja? Atau setidaknya dipukul, disetel, atau diperbaiki sedikit?
Mengapa harus membiarkan diri sendiri hidup dalam ketidaknyamanan?
Namun setelah merenung lebih dalam, barulah kusadari: banyak orang dalam hidup sebenarnya tahu persis sumber penderitaannya, namun memilih mengabaikannya, seperti kakek dalam cerita ini.
Misalnya, kita tahu begadang merusak kesehatan, tetapi tetap melakukannya— lalu ketika tubuh mulai “protes”, kita malah mengeluh.
Kita tahu seseorang tidak mencintai kita, namun tetap memaksakan diri, menyakiti diri sendiri dan menyusahkan orang lain.
Bahkan lebih banyak penderitaan yang berasal dari keinginan dalam hati— karena tidak mampu memenuhinya kita menderita, namun juga tidak rela melepaskannya.
Padahal, pintu yang berisik hanya butuh setetes minyak untuk kembali tenang. Dan setetes minyak untuk meredam keinginan batin adalah: rasa cukup, rasa syukur, dan kemampuan menghargai apa yang dimiliki.
Tambahan Renungan: Selembar Kertas
Lahir selembar kertas, memulai hidup seumur hidup;
Lulus selembar kertas, berjuang seumur hidup;
Pernikahan selembar kertas, tersiksa seumur hidup;
Jabatan selembar kertas, bertarung seumur hidup;
Uang selembar kertas, bersusah payah seumur hidup;
Kehormatan selembar kertas, mengejar nama seumur hidup;
Berobat selembar kertas, menderita seumur hidup;
Surat duka selembar kertas, mengakhiri beban hidup selamanya;
Memudarkan kertas-kertas itu, tercerahkan seumur hidup;
Melupakan kertas-kertas itu, bahagia seumur hidup.(jhn/yn)


