EtIndonesia. Nilai diri seseorang sering kali dibangun di atas “aura” yang ada di belakangnya. Bahkan seorang selebritas pun belum tentu auranya berasal dari dirinya sendiri—melainkan dari organisasi, sistem, dan kepentingan yang menciptakan nilainya.
Sejujurnya, aku tidak suka mendengar orang mengeluh. Tetapi melihat seorang sahabat lama duduk di depanku dengan wajah letih dan penuh kekecewaan, aku hanya bisa bersabar mendengarkannya.
Ia berkata, “Sekarang aku baru sadar betapa realistisnya orang-orang itu. Dulu mereka membungkuk-bungkuk di hadapanku. Sekarang, mana ada satu pun yang mau menolong? Padahal dulu aku begitu baik pada mereka…”
Dulu, temanku adalah eksekutif senior di sebuah perusahaan besar. Ia punya kuasa dan pengaruh. Banyak orang mendekat, menjilat, dan mencari perhatiannya. Ia bangga dengan jaringan relasinya yang luas.
Namun setelah ia keluar dan mendirikan perusahaan sendiri, perlahan-lahan orang-orang mulai menjauh. Hingga akhirnya perusahaannya tutup. Kini ia duduk di depanku, mengutuk si ini dan si itu tanpa henti.
Aku melirik jam. Mengeluh seperti ini tidak akan menyelesaikan apa pun. Tidak membantunya, juga tidak membantu siapa pun. Maka aku memotong pembicaraannya dan bertanya,
“Kamu pikir kamu ini siapa?”
Ia terdiam. Tangan yang memegang cangkir kopi tampak gemetar karena marah.
“Pernahkah kamu berpikir, dulu orang mendekatimu bukan karena dirimu pribadi, melainkan karena perusahaanmu?”
Kebanyakan orang tidak pernah menyadari hal ini. Mereka merasa hebat di satu tempat, lalu mengira akan tetap hebat di mana pun. Padahal, yang membuat mereka “hebat” adalah otoritas yang diberikan organisasi. Orang-orang yang memuji dan mendekat sebenarnya mengincar keuntungan yang bisa mereka dapatkan.
Seorang senior di kawasan teknologi pernah berkata, ini disebut “nilai organisasi”. Jika seseorang dipisahkan dari perusahaannya, sering kali ia bukan siapa-siapa. Orang tidak benar-benar mengincar dirinya, tetapi kepentingan yang melekat pada jabatannya. Begitu ia turun, perhatian pun beralih kepada penggantinya. Itu hal yang wajar.
Kesalahpahaman ini muncul karena kita lupa siapa diri kita sebenarnya. Kita enggan mengakui bahwa aura yang kita nikmati berasal dari tim dan sistem di belakang kita.
Seorang senior lain pernah menceritakan pengalamannya. Setelah ia meninggalkan perusahaan ternama, suatu hari ia makan bersama penggantinya. Mereka bertemu pemasok lama yang dulu sangat akrab dengannya.
Begitu ia memperkenalkan penggantinya, suasana langsung berubah. Ia mendadak menjadi orang luar. Pemasok itu seketika memusatkan perhatian pada penggantinya sebagai tokoh utama. Perubahannya begitu cepat hingga ia sendiri terkejut.
Ada pula orang yang sudah menikmati keuntungan besar, tetapi pelit berbagi sedikit demi memperluas pasar. Ia lupa bahwa jaringan dan saluran distribusi nilainya jauh lebih besar daripada satu produk kecil.
Bukankah membangun usaha berarti mengejar keberhasilan?
Bahkan para kaisar yang memperluas wilayah pun terlebih dahulu menjanjikan pembagian wilayah dan gelar kepada para pengikutnya. Tanpa pembagian keuntungan, siapa yang mau berjuang mati-matian?
Siapa yang benar-benar berjuang demi dirimu? Bukankah sebagian besar karena melihat keuntungan?
Inilah soal cara pandang dan kebesaran jiwa. Kita mungkin punya produk bagus, mungkin juga punya kemampuan. Tetapi jika itu membuat kita besar kepala, di situlah benih kegagalan mulai tumbuh.
Produk memiliki siklus hidup. Ketika masanya tiba, ia harus dilepas. Selama masa emasnya, kita harus mendorongnya sekuat tenaga. Jangan sampai karena terlalu sibuk menghitung orang lain mendapat berapa, kita justru kehilangan seluruh peluang.
Tak perlu naif. Jangan berpikir orang akan selamanya percaya pada produkmu atau pada dirimu. Mungkin iya—untuk pertama kali. Paling lama setahun. Setelah itu, tak ada yang akan terus percaya hanya karena reputasi lama.
Orang yang mengeluh tentang dunia yang kejam dan hanya mengejar keuntungan, pernahkah ia mendengar orang lain berbisik di belakangnya, “Jangan bodoh”?
Ada juga senior yang sudah lama meninggalkan jabatannya, tetapi masih bisa “mengendalikan” unit lamanya dan bahkan memengaruhi keputusan.
Aku penasaran, bagaimana mungkin seseorang tanpa jabatan dan tanpa kekuasaan formal justru terlihat lebih berpengaruh?
Dalam suasana santai ditemani sebotol minuman mahal, ia mengungkapkan kuncinya: pembagian keuntungan.
Dulu ketika masih menjabat, ia hanya bisa memberi keuntungan kecil. Kini setelah tidak lagi terikat jabatan, ia bisa memberi keuntungan lebih besar tanpa takut kehilangan posisi. Maka pengaruhnya justru semakin luas.
“Jangan terlalu percaya pada diri sendiri. Percayalah pada uang,” katanya terus terang.
Dalam dunia bisnis, setelah kita meninggalkan bangku sekolah, hanya ada dua jenis teman yang akan bertahan sampai tua:
Pertama, sahabat sejati yang rela berkorban tanpa pamrih.
Kedua, teman yang sejak awal sudah jelas soal kepentingan—hubungan yang transparan dan saling menguntungkan.
Nilai diri kita selalu terkait dengan aura di belakang kita. Bahkan seorang bintang besar pun belum tentu bercahaya karena dirinya sendiri, melainkan karena sistem dan kepentingan yang menopangnya.
Tentu saja dunia ini masih menyimpan persahabatan yang tulus dan kisah yang indah. Namun prasyaratnya, kita harus cukup cerdas dan fleksibel. Ketika ada yang ingin menarik kita naik, jangan sibuk menilai apakah tangan itu bersih atau kotor. Jika sudah hampir jatuh ke jurang tetapi masih memilih-milih, lebih baik benar-benar jatuh saja.
Ada pepatah: “Orang yang patut dikasihani sering kali memiliki sisi yang patut disesali.”
Bersikaplah rendah hati. Tangkap setiap peluang yang bisa menambah nilai diri. Anggaplah diri kita bukan siapa-siapa—justru dari situlah kita akan melihat arah masa depan dengan lebih jelas.
Hikmah Cerita
Tulisan ini berbicara lugas tentang sisi realistis dunia.
Memang benar, dalam dunia bisnis, kepentingan hampir selalu menjadi dasar hubungan. Sikap ramah, pujian, atau perhatian dari orang lain belum tentu karena kepribadian kita yang luar biasa. Sering kali, itu karena keuntungan yang melekat pada posisi kita.
Lingkungan seperti ini mudah menimbulkan ilusi: merasa diri sangat hebat, sangat berpengaruh, bahkan merasa dihormati karena kebesaran pribadi. Namun ketika kepentingan di belakang kita hilang, jaringan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekej
ap.Jika kita memahami realitas ini sejak awal, maka ketika suatu hari mengalaminya, kita tidak akan terlalu terpukul.
Tentu saja, ada orang-orang yang benar-benar bersinar dari dalam dirinya sendiri—tanpa bergantung pada organisasi atau kepentingan. Tetapi jumlahnya sangat sedikit, seperti bintang yang benar-benar memancarkan cahaya sendiri di tengah luasnya alam semesta. (jhon)


