EtIndonesia. Suatu hari, seorang pemuda secara tidak sengaja bertemu dengan dosennya semasa kuliah. Sang profesor tua dengan penuh perhatian menanyakan kabarnya.
Pertanyaan sederhana itu seolah menjadi hujan di tengah kemarau panjang bagi si pemuda. Sejak lulus dan bekerja di perusahaan tempatnya sekarang, ia merasa hidupnya penuh ketidakberuntungan. Tanpa menahan diri, ia mencurahkan semua keluh kesahnya—tentang atasan yang sulit, rekan kerja yang tidak mendukung, peluang yang tak kunjung datang.
Profesor tua itu mendengarkan dengan sabar. Setelah pemuda itu selesai berbicara, ia mengangguk pelan dan berkata,
“Kelihatannya keadaanmu memang belum ideal. Tapi yang lebih penting, pernahkah kamu berpikir untuk mengubah keadaan itu? Untuk membuat hidupmu menjadi lebih baik?”
Pemuda itu segera menjawab,
“Tentu saja saya ingin hidup lebih baik, Profesor! Apakah ada rahasianya?”
Sang profesor tersenyum misterius.
“Ada. Besok malam, kalau kamu punya waktu, datanglah ke alamat ini.”
Ia menyerahkan sebuah kartu nama.
Keesokan malamnya, pemuda itu datang ke rumah sang profesor. Rumah itu sederhana, terletak di pinggiran kota.
Profesor menyambutnya dengan gembira. Ia mengeluarkan dua kursi santai dan mengajak pemuda itu duduk di halaman, mengobrol sambil menatap langit malam.
Mereka berbincang santai cukup lama. Namun pemuda itu mulai gelisah. Ia datang untuk mendapatkan solusi, bukan sekadar melihat bintang.
“Profesor, bagaimana caranya agar hidup saya menjadi lebih baik?” tanyanya tak sabar.
Profesor itu tersenyum dan menunjuk ke langit.
“Bisakah kamu menghitung berapa banyak bintang di atas sana?”
Pemuda itu menggaruk kepalanya.
“Tentu saja tidak bisa. Tapi apa hubungannya dengan saya?”
Profesor menatapnya dalam-dalam dan berkata dengan lembut,
“Di siang hari, benda terjauh yang bisa kita lihat adalah matahari. Namun di malam hari, kita dapat melihat benda-benda langit yang jaraknya miliaran kali lebih jauh dari matahari. Dan bukan hanya satu—jumlahnya tak terhitung.”
Pemuda itu terdiam. Ia menengadah menatap bintang-bintang, lalu menunduk merenung.
Profesor melanjutkan,
“Aku tahu hidupmu sedang tidak mudah. Tapi jika sejak muda kamu selalu berjalan mulus tanpa hambatan, mungkin seumur hidup kamu hanya akan melihat satu matahari. Pertanyaannya adalah: ketika hidupmu memasuki malam, mampukah kamu melihat bintang-bintang yang lebih jauh dan lebih banyak?”
Hikmah Cerita
Kemajuan manusia dibangun dari dua hal: keberhasilan dan kegagalan.
Keberhasilan memberi harapan dan semangat untuk melangkah maju. Kegagalan memberi pelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja, hidup bukan hanya tentang mengejar kesuksesan. Justru dalam kegagalanlah sering kali tersimpan pelajaran paling berharga. Pengalaman-pengalaman itu akan menjadi bekal untuk menghadapi gelombang yang lebih besar di masa depan.
Kesuksesan dan kegagalan ibarat siang dan malam. Keduanya memperlihatkan sisi dunia yang berbeda. Keduanya membuat kita merasakan hangat dan dinginnya kehidupan.
Tanpa malam, kita hanya mengenal matahari.
Tanpa kegagalan, kita mungkin tak pernah melihat “bintang” yang lebih jauh dalam diri kita sendiri. (Jhon)


