Gabattha: Ketika Orang Menghormati Harta, Bukan Diri Kita

EtIndonesia. Di India kuno, ada seorang pemuda bernama Gabattha (Transliterasi-red). Ia lahir dari keluarga yang sangat kaya. Sejak muda ia gemar bergaul dan memiliki banyak teman. Hidupnya dipenuhi pesta, jamuan, dan pertemanan yang tampak hangat.

Namun setelah ayahnya meninggal dunia, ia tidak pandai mengelola usaha keluarga. Harta yang begitu besar perlahan-lahan habis. Usaha merugi, kekayaan menyusut, dan akhirnya keluarganya jatuh miskin.

Saat ia kaya, rumahnya tak pernah sepi.

Saat ia miskin, pintunya tak lagi diketuk.

Teman-teman dan kerabat yang dahulu gemar makan minum bersamanya bukan hanya tidak lagi datang, bahkan mereka sengaja menghindar—takut jika Gabattha meminjam uang kepada mereka.

Ia sangat kecewa dan terluka.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengubah nasib. Ia menjual sisa harta terakhirnya dan pergi merantau ke negeri yang jauh. Tak ada seorang pun yang mengantar kepergiannya, karena ia sudah tak memiliki teman.

Ia pergi selama tiga puluh tahun.


Kembalinya Sang Perantau

Suatu hari, beberapa orang asing datang dan membeli sebidang tanah luas di kota itu. Mereka membangun sebuah rumah mewah yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Orang-orang pun bertanya-tanya.
Ternyata kabar beredar: Gabattha akan pulang dengan penuh kejayaan.

Kerabat dan kenalan yang dulu menghindarinya kini mulai bercerita dengan bangga bahwa mereka pernah mengenalnya.

Pada hari kepulangannya, jalanan dipenuhi orang. Rombongannya panjang, dipenuhi barang-barang berharga dari negeri jauh. Di barisan paling depan berjalan seorang pria tua berambut putih dan tubuh berisi.

Tak banyak yang mengenalinya.

Orang-orang terus bertanya kepada lelaki tua itu,
“Di mana Gabattha?”

Ia terus menunjuk ke arah belakang rombongan dan berkata,
“Di belakang.”

Orang-orang mencari-cari, namun akhirnya mereka mulai curiga bahwa lelaki tua itulah Gabattha.

Dengan tenang ia berkata:

“Saya tidak salah menjawab. Saya tidak membawa emas, tidak mengenakan pakaian kebesaran. Yang kalian tunggu bukanlah saya yang dahulu miskin. Yang kalian sambut sebenarnya adalah kereta-kereta di belakang saya—yang membawa harta berharga. Itulah yang kalian ingin hormati dan dekati.”

Kata-kata itu membuat banyak orang terdiam.


Apa yang Sebenarnya Kita Lihat?

Dalam hidup, manusia sering melihat permukaan:
jabatan, kekayaan, gelar, penampilan.

Kita mudah mengira bahwa semua itu adalah keseluruhan diri seseorang. Padahal, semua itu bisa berubah oleh waktu.

Hari ini seseorang kaya, besok bisa bangkrut.
Hari ini seseorang tampan atau cantik, esok usia menggerogoti.
Hari ini seseorang punya gelar tinggi, besok mungkin tak lagi relevan.

Jika kebahagiaan kita bergantung pada hal-hal yang bisa berubah, maka kebahagiaan itu pun rapuh.


Tentang Gagal dan Berhasil

Tak ada hidup yang benar-benar mulus tanpa gelombang. Kegagalan adalah bagian dari perjalanan.

Yang menyedihkan bukanlah kegagalan itu sendiri, melainkan sikap menyerah setelah gagal.

Selama seseorang belum mencapai akhir hidupnya, tak seorang pun berhak menilai ia gagal atau berhasil. Sejarah menunjukkan banyak orang yang gagal di masa muda tetapi berjaya di kemudian hari. Ada pula yang sukses di awal hidup namun berakhir tragis.

Kegagalan sering kali justru membuka mata kita.
Ia menyingkap siapa yang hanya teman saat senang, dan siapa yang benar-benar tulus.

Ketika semua “bungkus” dilepas, kita mulai melihat wajah asli dunia.


Pertanyaan untuk Diri Kita

Kisah ini mengajak kita merenung:

Jika suatu hari gelar, kekayaan, dan reputasi kita hilang—
apa yang masih tersisa?

Apakah orang tetap menghormati kita karena karakter?
Ataukah selama ini mereka hanya menghormati “kereta di belakang kita”?

Mencari kebahagiaan yang sejati berarti menemukan diri yang tidak tergantung pada waktu, status, atau harta.

Diri yang tetap bernilai meski tanpa sorotan.
Diri yang tetap bermakna meski tanpa tepuk tangan.

Karena pada akhirnya, harta bisa mengundang kerumunan.
Tetapi hanya karakter yang mampu mempertahankan hormat yang tulus. (Jhon)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine