Melewatkan Kesempatan

EtIndonesia. Seorang pemuda sangat ingin menikahi putri cantik seorang peternak. Ia pun datang melamar.

Sang peternak memandangnya dari atas hingga bawah, lalu berkata,
“Kita pergi ke ladang. Saya akan melepaskan tiga ekor banteng secara berurutan. Jika kamu berhasil menangkap ekor salah satunya, kamu boleh menikahi putriku.”

Mereka pun menuju ladang. Pemuda itu berdiri dengan tegang, menunggu banteng pertama dilepaskan.

Tak lama kemudian, pintu kandang terbuka. Seekor banteng berukuran sangat besar dan tampak garang berlari lurus ke arahnya.

Pemuda itu terkejut. “Ini banteng terbesar dan terburuk yang pernah kulihat. Mungkin banteng berikutnya akan lebih mudah,” pikirnya. Ia pun membiarkannya lewat.

Pintu kandang terbuka lagi. Banteng kedua keluar—lebih besar dan lebih ganas dari yang pertama.

“Ini mengerikan! Banteng ketiga pasti lebih baik,” katanya dalam hati. Ia buru-buru meloncat ke balik pagar dan membiarkan banteng kedua lewat.

Tak lama kemudian, pintu kandang terbuka untuk ketiga kalinya.

Kali ini, wajah pemuda itu berseri. Banteng ketiga kecil dan kurus. Tampak lemah dan jauh lebih mudah ditangkap.

“Inilah kesempatan yang tepat!” pikirnya.

Saat banteng itu berlari mendekat, ia bersiap, menghitung waktu, lalu melompat untuk meraih ekornya.

Namun—banteng itu tidak memiliki ekor.


Kesempatan Datang, Lalu Pergi

Setiap orang dalam hidup pasti diberi kesempatan. Namun kesempatan sering kali tidak datang dalam bentuk yang nyaman atau sempurna.

Kadang ia tampak besar dan menakutkan.
Kadang ia terasa berisiko.
Kadang ia terlihat “terlalu sulit”.

Karena berharap ada pilihan yang lebih baik, kita menunda.
Karena menunggu yang lebih ideal, kita melepas yang ada di depan mata.

Namun ketika kesempatan yang “sempurna” akhirnya datang, bisa jadi ia sudah tidak memiliki “ekor” untuk kita raih.


Terlalu Banyak Pilihan, Justru Kehilangan

Sering kali kegagalan bukan karena tidak ada peluang.
Justru karena terlalu banyak pilihan.

Kita menjadi ragu.
Kita ingin yang paling mudah, paling aman, paling sempurna.

Padahal hidup jarang memberi yang sempurna. Ia memberi yang cukup—asal kita berani mengambilnya.

Kesempatan sering kali tidak kembali dua kali.
Dan waktu tidak pernah menunggu sampai kita benar-benar siap.


Renungan

Terkadang kesempatan pertama memang sulit.
Kesempatan kedua mungkin lebih menakutkan.
Tetapi yang ketiga—yang terlihat paling mudah—bisa jadi sudah tidak lagi lengkap.

Belajarlah menilai peluang bukan dari tampilannya saja, tetapi dari keberanian diri sendiri.

Karena hidup bukan tentang menunggu kesempatan yang paling ideal,
melainkan tentang berani menangkap kesempatan yang ada, sebelum ia berlalu.

Jangan sampai suatu hari kita menyadari bahwa yang hilang bukanlah peluang—
melainkan keberanian kita untuk mengambilnya. (jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine