Presiden Kuba Mengumumkan Dialog dengan AS Demi “Mengakhiri Konfrontasi”, FBI Akan Berkunjung ke Kuba

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengumumkan melalui televisi nasional bahwa Kuba sedang melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Menurut laporan, belum lama ini Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga melakukan pertemuan rahasia di kawasan Karibia dengan cucu mantan pemimpin Kuba Raúl Castro.

EtIndonesia. Pada Jumat (13 Maret), pemimpin Kuba melalui siaran televisi nasional dan konferensi pers menyatakan bahwa Kuba sedang melakukan dialog dengan Amerika Serikat. Ini merupakan pertama kalinya pemerintah Kuba secara terbuka mengakui adanya kontak resmi dengan AS.

Dalam video yang disiarkan televisi nasional, Díaz-Canel mengumumkan kabar tersebut dan kemudian mengadakan konferensi pers. Ia mengatakan bahwa fokus pembicaraan tersebut adalah mencari solusi terhadap perbedaan bilateral antara kedua negara melalui dialog, dan menambahkan bahwa faktor internasional telah mendorong komunikasi ini.

Ia menyatakan berharap negosiasi ini dapat membantu kedua negara yang telah lama menjadi lawan untuk “keluar dari konfrontasi”, dengan tujuan menentukan langkah-langkah konkret yang dapat menguntungkan rakyat kedua negara serta mengidentifikasi bidang kerja sama untuk menghadapi ancaman dan menjaga keamanan serta perdamaian kawasan.

Pernyataan terbuka seperti ini sangat jarang dari pemimpin Kuba. Sebelumnya Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan perwakilan Kuba. Namun pihak Kuba selama ini selalu menyangkal adanya kontak resmi.

Rubio Bertemu Diam-Diam dengan Cucu Castro

Pada hari yang sama, Trump segera menanggapi melalui platform media sosial Truth Social dengan mengatakan:

“Kuba telah mengkonfirmasi bahwa mereka sedang melakukan pembicaraan dengan pejabat pemerintahan Trump. Ini meningkatkan harapan akan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.”

Tak lama setelah pernyataan Díaz-Canel, dua pejabat Amerika mengungkapkan bahwa pada akhir bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan para ajudan seniornya bertemu di kawasan Karibia dengan cucu Raúl Castro, yaitu Raúl Guillermo Rodríguez Castro.

Blokade Energi AS Membuat Kuba Mengalami Krisis

Pada Januari tahun ini, setelah Amerika Serikat menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro, pemerintahan Trump memberlakukan blokade minyak terhadap Kuba. Hal ini memukul keras negara tersebut yang selama puluhan tahun sangat bergantung pada bantuan Venezuela.

Dalam konferensi pers, Díaz-Canel mengakui bahwa situasi di Kuba saat ini sangat serius. Ia mengatakan bahwa akibat “blokade energi” dari Amerika Serikat, selama tiga bulan tidak ada bahan bakar yang masuk ke Kuba.

Saat ini Kuba hanya mengandalkan gas alam, energi surya, dan pembangkit listrik tenaga panas untuk mempertahankan operasi energi. Kekurangan bahan bakar minyak dan diesel telah memaksa dua pembangkit listrik ditutup serta membatasi kemampuan pembangkit tenaga surya.

Selain itu, minggu lalu wilayah Kuba bagian barat mengalami pemadaman listrik besar-besaran yang menyebabkan jutaan orang kehilangan listrik.

“Dampaknya sangat besar,” kata Díaz-Canel. Ia menyebutkan bahwa lebih dari 115 toko roti di pulau tersebut terpaksa beroperasi menggunakan kayu bakar atau batu bara.

Kuba Menunjukkan Itikad Baik: Izinkan FBI Masuk dan Membebaskan Tahanan

Pemerintah Kuba juga mengumumkan beberapa langkah yang dianggap sebagai “sinyal niat baik”.

Menurut laporan dari situs PBS, dalam sesi tanya jawab setelah pidato, Díaz-Canel menyinggung sebuah insiden penembakan terhadap kapal dari Florida yang terjadi di perairan Kuba baru-baru ini. Ia mengonfirmasi bahwa pejabat dari Federal Bureau of Investigation (FBI) akan segera mengunjungi Kuba untuk menyelidiki kasus tersebut, dan kedua pihak akan terus bertukar informasi.

Selain itu, Díaz-Canel juga mengonfirmasi bahwa 51 orang akan dibebaskan dari penjara di Kuba dalam beberapa hari ke depan. Pengumuman tersebut sebelumnya disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Kuba pada 12 Maret. Namun pemerintah Kuba tidak menjelaskan siapa saja tahanan yang akan dibebaskan.

Beberapa organisasi memperkirakan bahwa lebih dari 1.000 tahanan politik saat ini masih ditahan di penjara Kuba.

Trump: Rezim Komunis Kuba Akan Segera Berakhir

Belakangan ini pemerintahan Trump terus memberi sinyal bahwa rezim Partai Komunis Kuba kemungkinan akan segera berubah.

Pada Sabtu lalu dalam pertemuan para pemimpin Amerika Latin Shield of the Americas Summit, Trump mengatakan bahwa Kuba komunis kini telah mencapai titik akhir. Ia juga menekankan bahwa perubahan bersejarah yang terjadi di Venezuela kemungkinan juga akan terjadi di Kuba. (hui)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine