Semangkuk Mi Instan Paling Enak di Dunia

EtIndonesia. Ia adalah seorang ayah tunggal yang harus membesarkan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun seorang diri.

Setiap kali anaknya pulang bermain dengan teman-temannya dalam keadaan terluka atau menangis, rasa kehilangan terhadap istrinya yang telah meninggal selalu kembali terasa di hatinya. Ia sering merasakan kesedihan yang dalam, karena anaknya harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.

Peristiwa ini terjadi pada suatu hari ketika ia harus pergi keluar kota untuk bekerja.

Pagi itu ia harus mengejar kereta, sehingga tidak sempat menemani anaknya sarapan. Ia pun buru-buru keluar rumah.

Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak pernah tenang.
Ia terus memikirkan anaknya.

Apakah anaknya sudah makan?
Apakah anaknya menangis?

Perasaan khawatir itu membuat hatinya tidak pernah benar-benar tenang.

Bahkan setelah tiba di tempat tujuan, ia masih terus menelepon ke rumah untuk memastikan keadaan anaknya.

Namun setiap kali ditelepon, sang anak selalu berkata dengan sangat pengertian:

“Papa jangan khawatir.”

Meski begitu, hati sang ayah tetap gelisah.
Akhirnya ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan segera pulang.

Ketika ia tiba di rumah, anaknya sudah tertidur pulas.

Barulah ia merasa lega.

Perjalanan yang melelahkan membuat tubuhnya terasa sangat letih. Ia bersiap untuk tidur.

Namun tiba-tiba ia terkejut.

Di bawah selimut, ternyata ada semangkuk mi instan yang sudah tumpah!

Melihat itu, ia langsung marah besar.

“Anak ini!”

Dalam kemarahannya, ia memukul pantat anaknya yang masih tertidur.

“Mengapa kamu begitu nakal sampai membuat Papa marah?
Kamu membuat selimut menjadi kotor seperti ini!
Siapa yang akan mencucinya?”

Sejak istrinya meninggal, ini adalah pertama kalinya ia menghukum anaknya.

Sambil menangis tersedu-sedu, sang anak mencoba menjelaskan:

“Aku tidak nakal… ini… ini makan malam untuk Papa.”

Ternyata, anak itu menyiapkan dua mangkuk mi instan.

Satu mangkuk untuk dirinya sendiri.
Dan satu lagi khusus untuk ayahnya.

Ia ingin menunggu ayahnya pulang agar mereka bisa makan bersama.

Namun karena takut mi instan ayahnya menjadi dingin, ia memasukkan mangkuk itu ke dalam selimut agar tetap hangat.

Mendengar penjelasan itu, sang ayah tidak berkata apa-apa lagi.

Ia hanya memeluk anaknya dengan erat.

Ia menatap mangkuk mi instan yang sudah mengembang dan hanya tersisa setengah di dalam mangkuk.

Dengan suara bergetar ia berkata:

“Anakku… ini adalah… mi instan paling lezat di dunia.” (Jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine