EtIndonesia. Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang tukang pos paruh baya.
Sejak usia dua puluh tahun, ia sudah mulai bekerja sebagai tukang pos.
Setiap hari ia harus menempuh perjalanan sejauh lima puluh kilometer untuk mengantarkan surat ke desa-desa.
Hari demi hari berlalu.
Ia mengantar berbagai kisah kehidupan—
kabar gembira, kabar duka, harapan, dan kesedihan—
ke rumah-rumah penduduk.
Tanpa terasa, dua puluh tahun telah berlalu.
Banyak orang datang dan pergi.
Banyak hal telah berubah.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Jalan dari kantor pos menuju desa itu selalu gersang dan sunyi.
Sejauh mata memandang, tidak ada pohon, tidak ada bunga.
Yang ada hanyalah debu yang beterbangan di sepanjang jalan.
Sering kali ia berpikir dalam hati:
“Berapa lama lagi aku harus melewati jalan yang begitu tandus ini?”
Setiap kali membayangkan bahwa ia harus mengayuh sepeda melewati jalan yang penuh debu itu sepanjang hidupnya, ia selalu merasa sedikit menyesal.
Suatu hari, setelah selesai mengantarkan surat dan hendak pulang, ia melewati sebuah toko bunga.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya.
“Ya… inilah caranya!”
Ia masuk ke dalam toko bunga dan membeli sekantong benih bunga liar.
Mulai keesokan harinya, setiap kali ia berangkat atau pulang, ia menaburkan benih-benih bunga itu di sepanjang jalan yang ia lalui.
Hari pertama…
hari kedua…
Sebulan…
dua bulan…
Ia terus menaburkan benih bunga tanpa pernah berhenti.
Beberapa waktu kemudian, sesuatu yang menakjubkan mulai terjadi.
Di sepanjang jalan yang selama dua puluh tahun hanya dipenuhi debu itu, mulai bermekaran bunga-bunga kecil berwarna merah, kuning, dan berbagai warna lainnya.
Musim panas menghadirkan bunga musim panas.
Musim gugur menghadirkan bunga musim gugur.
Bunga-bunga itu bermekaran sepanjang tahun tanpa henti.
Bagi penduduk desa, benih dan harum bunga itu bahkan lebih membahagiakan daripada surat-surat yang selama puluhan tahun diantarkan oleh tukang pos tersebut.
Kini, di jalan yang tidak lagi dipenuhi debu, tetapi dipenuhi kelopak bunga, tukang pos itu mengayuh sepedanya sambil bersiul.
Ia tidak lagi merasa kesepian.
Ia juga tidak lagi merasa hidupnya penuh kesedihan.
Karena jalan yang ia lalui setiap hari…
telah berubah menjadi jalan yang penuh bunga. 🌸


