EtIndonesia. Kanada, sebelumnya menjadi tujuan favorit mahasiswa internasional, kini sedang mengalami perubahan besar di pasar pendidikan luar negeri. Akibat pengetatan kebijakan, jumlah pelajar asing menurun drastis, bahkan untuk pertama kalinya ada universitas negeri yang mengumumkan penutupan.
Menurut data terbaru dari Immigration, Refugees and Citizenship Canada, pada November 2025 jumlah mahasiswa internasional baru yang masuk ke Kanada hanya 2.485 orang. Padahal pada akhir 2023, angka tersebut pernah mencapai lebih dari 95.000 orang.
Dalam waktu kurang dari dua tahun, jumlah mahasiswa baru internasional mengalami penurunan tajam hingga sekitar 97%.
Perubahan ini berkaitan dengan penyesuaian kebijakan populasi dan imigrasi Kanada dalam beberapa tahun terakhir.
Perdana Menteri Mark Carney sebelumnya mengusulkan untuk menurunkan jumlah penduduk sementara—termasuk mahasiswa internasional dan pekerja asing—dalam total populasi, dari 7,5% menjadi di bawah 5% sebelum tahun 2027. Dalam target ini, kebijakan terhadap mahasiswa internasional menjadi fokus utama penyesuaian.
Di bawah berbagai kebijakan tersebut, tingkat persetujuan visa pelajar baru di Kanada turun dari 51% menjadi sekitar 30%, dengan jumlah penerbitan visa turun menjadi sekitar 115.000 pada tahun 2025.
Pengetatan kebijakan ini juga berdampak pada sejumlah institusi pendidikan yang bergantung pada mahasiswa internasional. Salah satunya adalah Manitoba Institute of Trades and Technology, yang baru-baru ini mengumumkan penutupan akibat penurunan tajam jumlah mahasiswa asing, menjadikannya lembaga pendidikan negeri pertama di Kanada yang tutup karena alasan tersebut.
Namun, universitas papan atas seperti University of Toronto, University of British Columbia, dan McGill University masih mempertahankan proporsi mahasiswa internasional yang relatif stabil.
Para analis menyebut bahwa pendidikan luar negeri di Kanada kini sedang beralih dari model “ekspansi skala besar” menuju “seleksi kualitas”.
Reporter NTD Television, Xiao Chang, melaporkan dari Kanada.


