EtIndonesia. Produsen aluminium terbesar di Timur Tengah, Emirates Global Aluminium (EGA), pada 28 Maret menyatakan bahwa rudal dan drone Iran menyerang fasilitas produksi penting mereka di Uni Emirat Arab, menyebabkan “kerusakan signifikan”. Fasilitas Aluminium Bahrain juga dilaporkan ikut diserang dengan dua karyawan mengalami luka ringan.
Sebelumnya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa sebagai balasan atas serangan terhadap dua pabrik baja Iran, mereka menargetkan Aluminium Bahrain dan Emirates Global Aluminium.
IRGC mengklaim kedua perusahaan tersebut memiliki keterkaitan dengan perusahaan militer dan dirgantara Amerika Serikat, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Menurut laporan Reuters, EGA dalam pernyataannya menyebut fasilitas Al Taweelah yang berlokasi di kawasan ekonomi Khalifa di Abu Dhabi menjadi sasaran serangan. Beberapa karyawan dilaporkan terluka, namun tidak ada yang dalam kondisi mengancam jiwa.
EGA menyatakan bahwa mereka masih menilai tingkat kerusakan akibat serangan di kompleks peleburan Al Taweelah tersebut, dan belum mengumumkan apakah operasional akan dihentikan.
Di sisi lain, Aluminium Bahrain melalui kantor berita resmi negara, Bahrain News Agency, menyatakan bahwa keselamatan karyawan selalu menjadi prioritas utama dan mengkonfirmasi dua pekerja mengalami luka ringan. Namun, mereka tidak merinci detail serangan maupun tingkat kerusakan fasilitas.
Sebagai salah satu produsen aluminium terbesar dunia, Aluminium Bahrain menyatakan sedang mengevaluasi dampak insiden terhadap operasional dan akan mengumumkan perkembangan lebih lanjut.

Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, jalur pelayaran di Selat Hormuz praktis terhenti. Kawasan Teluk Persia yang menyumbang sekitar 9% pasokan aluminium global kini kesulitan menyalurkan produk ke pasar dunia melalui jalur normal.
Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa EGA berencana mengalihkan ekspor aluminium dan impor bahan baku melalui Pelabuhan Sohar di Oman. Diketahui, pabrik peleburan Al Taweelah milik EGA memproduksi sekitar 1,6 juta ton aluminium cor pada 2025, serta memiliki kilang alumina terdekat yang memproduksi 2,4 juta ton bahan baku tahun lalu.
Sementara itu, Aluminium Bahrain sebelumnya telah menutup tiga lini produksi peleburan aluminium yang mencakup sekitar 19% dari total kapasitasnya, guna menjaga kelangsungan operasional. Pada 4 Maret, perusahaan juga mengumumkan kondisi “force majeure” karena tidak dapat mengirim produk ke pelanggan.
Gangguan produksi ini menjadi contoh terbaru dampak konflik antara AS dan Israel melawan Iran terhadap industri aluminium di Timur Tengah.
Harga aluminium sendiri sudah menunjukkan tren kenaikan sebelum konflik Iran pecah. Dengan meningkatnya kekhawatiran pasar akan pengetatan pasokan dan menurunnya stok global, harga diperkirakan masih akan terus naik. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


