Kisah Warga Tiongkok “Menempuh Jalur Ilegal” ke Jerman, Berjalan Kaki Menyeberangi Pegunungan Bersalju dan Terowongan

EtIndonesia. Seiring dengan pengetatan kebijakan pengungsi di Amerika Serikat, semakin banyak warga Tiongkok beralih ke Eropa, menempuh “jalur ilegal” menuju Jerman untuk mengajukan suaka. Mereka berjalan kaki melintasi hutan, pegunungan bersalju, dan terowongan gelap, menghadapi berbagai kesulitan demi mengejar kebebasan.

Warga Tiongkok Antusias Menempuh Jalur ke Jerman

Baru-baru ini, di media sosial Tiongkok beredar banyak “panduan perjalanan ilegal ke Jerman”. Bagi mereka yang ingin “kabur” ke Jerman, sebagian besar akan terlebih dahulu terbang ke Serbia yang bebas visa bagi warga Tiongkok, lalu naik bus ke Bosnia dan Herzegovina, yang juga bebas visa.

Kemudian, dari kota perbatasan Bihać di Bosnia, mereka berjalan kaki melintasi hutan dan pegunungan untuk masuk ke negara tetangga, Kroasia. Negara ini termasuk wilayah Schengen (mencakup sebagian besar Uni Eropa serta beberapa negara non-Uni Eropa seperti Norwegia dan Swiss). Dari Kroasia ke negara-negara Schengen lainnya, umumnya tidak perlu menunjukkan paspor atau melalui pemeriksaan perbatasan.

Setelah mencapai wilayah dalam Kroasia, para migran ini melanjutkan perjalanan dengan kereta atau mobil melalui Slovenia dan Italia, terus menuju barat hingga akhirnya tiba di Jerman.

Perjalanan Berat dan Berbahaya

Seorang blogger Tiongkok bernama “You Yao Dao Fan Le” pada 1 April mengunggah video dengan pesan, “Turun dari kuda dan bertanya tentang masa depan, cara berpikir menentukan nasib, memilih dengan kaki.” Dalam video tersebut terlihat beberapa pria Tiongkok membawa ransel, menembus hutan, mendaki pegunungan bersalju, dan menyalakan api unggun di malam hari untuk menghangatkan diri di tengah salju.

Blogger lain, “Xiao Fengli (European Pineapple)”, pada 30 Maret membagikan video perjalanan sebelumnya menuju Jerman, dengan komentar, “Sampai-sampai kemudian melihat gunung saja sudah merasa takut.” Dalam video itu terlihat mereka tidak hanya mendaki gunung, tetapi juga menyeberangi terowongan kereta yang gelap gulita—menunjukkan betapa beratnya perjalanan tersebut.

Hingga saat ini, masih banyak warga Tiongkok yang menempuh jalur ini. Blogger “Langke Xiaobei” pada 13 Maret mengatakan: “Setelah melalui berbagai kesulitan, akhirnya tiba di Jerman. Sepanjang perjalanan, kami mendaki gunung bersalju, menyeberangi sungai kecil, melewati semak berduri, jalan berlumpur, dan akhirnya baru sampai tujuan setelah tiga kali percobaan. Benar-benar sangat berat dan melelahkan.”

Daya Tarik Kesejahteraan Jerman

Sebagian besar yang meninggalkan Tiongkok melalui jalur ini adalah pembangkang politik atau mereka yang mengalami tekanan politik. Namun, ada juga yang merasa kecewa terhadap kondisi politik dan ekonomi di dalam negeri, dan ingin mendapatkan kebebasan serta kehidupan yang lebih baik. Sistem kesejahteraan Jerman yang relatif baik juga menjadi salah satu faktor yang menarik mereka mengambil risiko tersebut.

Seorang blogger bernama “Golden Instructor” dalam video pada 17 September 2025 menceritakan kehidupannya setelah berhasil mendapatkan suaka di Jerman.

Ia mengatakan bahwa dirinya tiba di Jerman melalui jalur ilegal pada Oktober 2024, hanya membawa 6.000 yuan. Kini, ia telah berhasil memperoleh status pengungsi. Pemerintah memberinya tempat tinggal, tunjangan hidup sekitar 1.000 euro per bulan, serta subsidi perumahan sekitar 500 euro.

“Totalnya sekitar 1.500 euro per bulan. Hidup di sini cukup layak, bahkan masih bisa menabung sedikit,” ujarnya. Ia juga menyebut untuk sementara tidak berencana bekerja dan ingin menjadi kreator konten, karena bantuan pemerintah dapat diterima setidaknya selama dua tahun. “Artinya, selama dua tahun ini saya tidak perlu bekerja, selama permohonan suaka disetujui.”

Menurut data dari Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi Jerman (BAMF), dalam lima tahun terakhir jumlah pemohon suaka asal Tiongkok terus meningkat. Dari Januari hingga November 2025, terdapat sekitar 1.600 warga Tiongkok yang mengajukan suaka di Jerman—angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pada September 2025, Tiongkok menempati peringkat kedelapan sebagai negara asal pencari suaka, setelah negara-negara seperti Afghanistan, Suriah, dan Somalia yang mengalami konflik dan perang. (Hui)

Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine