Upaya Mediasi Usulkan Gencatan Senjata 45 Hari di Timur Tengah, Lanjutkan Negosiasi Perdamaian Permanen

EtIndonesia. Media online Amerika Serikat, Axios, pada 5 April mengutip empat sumber dari AS, Israel, dan kawasan yang mengetahui jalannya negosiasi, melaporkan bahwa saat ini sedang dibahas proposal gencatan senjata selama 45 hari, sebagai langkah awal menuju kesepakatan damai permanen.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang ultimatum selama 20 jam untuk memberikan waktu tambahan bagi negosiasi.

Hambatan Utama: Selat Hormuz dan Uranium yang Diperkaya Tinggi

Saat ini, hambatan utama dalam perundingan adalah Iran tidak bersedia melepaskan dua kartu tawar penting pada tahap awal, yaitu:

  • Selat Hormuz
  • Uranium yang diperkaya tingkat tinggi

Rencana Dua Tahap

Menurut laporan Axios, mediator sedang membahas kesepakatan dua tahap:

  1. Tahap pertama: Gencatan senjata selama 45 hari, selama periode ini kedua pihak akan melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen.
  2. Tahap kedua: Mencapai kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang.

Jika diperlukan lebih banyak waktu, masa gencatan senjata juga dapat diperpanjang.

Peluang Kesepakatan Masih Kecil

Sumber menyebutkan bahwa kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam 48 jam ke depan masih rendah. Namun, upaya terakhir ini dianggap sebagai satu-satunya peluang untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih besar.

Ultimatum Trump Diperpanjang

Batas waktu 10 hari yang sebelumnya ditetapkan oleh Trump seharusnya berakhir pada Senin (6 April), namun pada Minggu ia memperpanjangnya 20 jam, sehingga batas akhir menjadi Selasa (7 April) pukul 20:00 waktu Timur AS.

Rencana Serangan Sudah Siap

Dua sumber menyebutkan bahwa rencana serangan udara besar-besaran oleh AS dan Israel terhadap fasilitas energi Iran telah siap dilaksanakan. Namun, perpanjangan waktu diberikan untuk membuka peluang terakhir bagi diplomasi.

Peran Negara Mediator

Empat sumber menyebutkan bahwa negosiasi saat ini dimediasi oleh beberapa negara, termasuk:

  • Pakistan
  • Mesir
  • Turkiye

Selain itu, komunikasi juga dilakukan melalui utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui pesan singkat.

Kekhawatiran Eskalasi di Kawasan Teluk

Seorang sumber yang mengetahui langsung situasi tersebut menyatakan bahwa mediator sangat khawatir jika AS dan Israel menyerang infrastruktur energi Iran, maka balasan Iran dapat merusak fasilitas minyak dan air di negara-negara Teluk Persia.

Mediator telah memperingatkan Iran bahwa tidak ada lagi ruang untuk tawar-menawar, dan 48 jam ke depan adalah kesempatan terakhir untuk mencapai kesepakatan dan menghindari kerusakan besar.

Iran Tetap Bersikap Keras

Sebelumnya, pejabat Iran setidaknya secara terbuka masih mempertahankan sikap keras dan menolak kompromi.

Pada 5 April, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa situasi di Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang,” terutama bagi Amerika Serikat dan Israel. (Hui)

Sumber : ntdtv.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine