Militer AS Kerahkan Lebih dari 15 Kapal Perang untuk Blokade Selat Hormuz, Dua Kapal Terkait Tiongkok Putar Balik

EtIndonesia. Setelah 13 April pukul 10.00 pagi, blokade Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz resmi mulai berlaku. Pada hari yang sama, setidaknya dua kapal tanker minyak dan kapal kimia yang terkait dengan Tiongkok langsung berbalik arah.

Menurut laporan CBS, sebuah kapal tanker bernama “Rich Starry” yang semula menuju Tiongkok mengubah arah sekitar 20 menit setelah blokade dimulai. Kapal ini berbendera Malawi, namun karena Malawi adalah negara tanpa laut, kapal tersebut diduga menggunakan bendera palsu (flag of convenience).

Kapal lain bernama “Ostria” juga meninggalkan selat pada waktu yang hampir bersamaan. Kapal ini berbendera Botswana, yang juga merupakan negara tanpa laut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) memperingatkan bahwa blokade ini berlaku untuk semua kapal, tanpa memandang bendera yang digunakan.

Menurut laporan media, pihak AS telah mengerahkan lebih dari 15 kapal perang dalam operasi ini, termasuk satu kapal induk, beberapa kapal perusak berpeluru kendali, satu kapal serbu amfibi, serta kapal perang lainnya.

Kapal-kapal ini akan membentuk sistem blokade tiga dimensi. Mereka tidak hanya mampu melakukan intersepsi di laut, tetapi juga dapat melakukan inspeksi naik kapal menggunakan helikopter. Beberapa kapal juga memiliki kemampuan untuk mengarahkan kapal dagang ke area tertentu dan kemudian melakukan penahanan.

Komando Pusat AS melalui akun resminya menyebutkan bahwa kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7) sedang menjalankan misi penerbangan malam di Laut Arab.

Diketahui, kapal USS Tripoli mampu membawa jet tempur siluman F-35B dan pesawat angkut MV-22 Osprey. Dalam kondisi operasi intensif, kapal ini dapat dengan cepat dikerahkan dan membawa lebih dari 20 pesawat tempur F-35B.

Laporan tersebut juga mengutip pensiunan letnan jenderal angkatan laut Kevin Donegan yang menyatakan bahwa efek blokade ini tidak akan langsung terlihat. Menurutnya, dampak blokade membutuhkan waktu untuk berkembang dan akan muncul secara bertahap.

Perlu dicatat, militer AS tidak sepenuhnya menutup Selat Hormuz, melainkan memblokade kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Artinya, kapal yang menuju tujuan lain masih dapat melintas secara normal.

Data pelayaran terbaru menunjukkan bahwa banyak kapal tanker dan kapal kargo mulai menghindari wilayah tersebut. Perusahaan pelayaran juga telah menerima pemberitahuan dari militer AS untuk mengikuti instruksi saat melintas di kawasan itu.

Garda Revolusi Iran dalam pernyataannya menyebut bahwa Selat Hormuz masih berada di bawah “kendali penuh” mereka, dan memperingatkan akan membuka tembakan terhadap kapal perang yang mendekat.

Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap tegas. Ia berulang kali menulis di media sosial bahwa militer AS telah “siap sepenuhnya”, dengan pernyataan “Locked and Loaded” (senjata siap ditembakkan). (Hui)

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine