Skandal Pemerkosaan dengan Obat Bius yang Libatkan Mahasiswa Tiongkok Gegerkan Jerman, Grup Mereka Beranggotakan 150 Ribu Orang 

EtIndonesia. Baru-baru ini, sidang kasus pemerkosaan dengan obat bius yang melibatkan mahasiswa Tiongkok di Jerman digelar dan mengungkap keberadaan jaringan lintas negara yang beroperasi di Inggris, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Para pelaku menggunakan Telegram dan WeChat untuk berkomunikasi dalam bahasa Mandarin. Pengacara korban mengungkapkan bahwa jumlah anggota grup tersebut mencapai 150 ribu orang.

Menurut laporan media Jerman dan pengungkapan warganet, ini adalah kelompok kriminal lintas negara dengan anggota inti mahasiswa Tiongkok. Mereka bertukar metode kejahatan melalui Telegram dan grup WeChat, sementara para korban sebagian besar adalah perempuan Tiongkok. Saat ini, beberapa anggota inti yang telah ditangkap berjumlah lima orang.

Orang pertama adalah Shao Zhiting, lulusan magister Fakultas Kedokteran Universitas Peking yang pernah bekerja di Rumah Sakit Kanker Beijing. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral kedokteran di Jerman dan memperoleh lisensi dokter setempat. Peran utamanya dalam kelompok adalah menyediakan informasi dosis obat bius dan sumber anestesi bagi anggota grup. Sidangnya sedang berlangsung di Berlin dan putusan belum dijatuhkan. Sidang lanjutan dijadwalkan pada 18 dan 20 Mei. Sebelumnya, sudah ada dua kali persidangan terkait kasusnya.

Orang kedua adalah Zhang Dapeng, pemimpin kelompok berusia 44 tahun, lulusan Institut Teknologi Harbin dan manajer perusahaan otomotif Lotus di Frankfurt. Ia dijatuhi hukuman 14 tahun penjara. Zhang menggunakan grup WeChat dan platform Xiaohongshu untuk mencari mahasiswi penyewa kamar, lalu melakukan pemerkosaan dengan obat bius saat mengajak korban melihat tempat tinggal.

Orang ketiga adalah Jiang Zhongyi, 28 tahun, mahasiswa magister robotika di Universitas Teknik München. Ia beberapa kali menggunakan obat bius untuk memperkosa pacarnya sendiri.

Orang keempat adalah Zhou Tong, 25 tahun, mahasiswa di Berlin, dengan modus kejahatan serupa dan dijatuhi hukuman 5 tahun 9 bulan penjara.

Selain itu, ada tersangka bernama Xu Xukaiyuan di Hamburg, Jerman, yang merupakan salah satu anggota kelompok tersebut. Setelah ditangkap, ia bunuh diri karena takut menghadapi hukuman.

Sumber yang mengetahui kasus ini juga menyebutkan bahwa Zou Zhenhao dan Xu Chao yang sebelumnya dihukum di Inggris, serta Wang Sizhe, mahasiswa doktoral teknik elektro di University of Southern California yang ditangkap di California, Amerika Serikat, juga terkait dengan kelompok ini. Modus operandi mereka sangat mirip.

Laporan menyebutkan bahwa sebelumnya salah satu korban Zhang Dapeng pernah memperingatkan perempuan di Jerman melalui platform Xiaohongshu agar berhati-hati, sehingga kasus ini mulai mendapat perhatian publik. Pada September 2024, korban melapor ke polisi. Berdasarkan informasi di internet, polisi menduga adanya kejahatan berantai. Polisi Jerman kemudian menangkap Zhang pada November dan akhirnya membongkar jaringan pelaku lainnya.

Setelah menangkap Zhang Dapeng, polisi Jerman menemukan banyak grup percakapan terkait obat bius dan pemerkosaan di ponselnya. Dari anggota grup tersebut, polisi berhasil mengidentifikasi dan menangkap Zhou Tong, Jiang Zhongyi, dan Shao Zhiting.

Disebutkan bahwa di ponsel Zhang terdapat 25 grup percakapan terkait, termasuk grup dengan ribuan anggota. Salah satu grup besar di ponsel Jiang Zhongyi memiliki sekitar 4.500 anggota. Mereka mendiskusikan cara melakukan kejahatan, membagikan video aksi kriminal, bahkan melakukan siaran langsung.

Menurut pengacara korban, Zhou Tong sebagai salah satu pelaku utama aktif di banyak grup percakapan dengan jumlah anggota berkisar antara 50 ribu hingga 150 ribu orang.

Hakim menyatakan bahwa grup-grup tersebut dipenuhi komentar yang “sangat merendahkan perempuan”. Dalam persidangan, hakim berkali-kali menggunakan istilah seperti “aneh”, “setingkat iblis”, “anti-kemanusiaan”, dan “kehilangan nurani manusia” untuk menggambarkan kejahatan yang terekam dalam video-video tersebut.

Sejumlah warganet menganalisis bahwa karena para pelaku menggunakan WeChat dan berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, kemungkinan besar sebagian anggota tinggal di Tiongkok. Mereka juga menilai bahwa mengingat pengawasan ketat pemerintah Tiongkok terhadap pengguna WeChat, pihak berwenang seharusnya mengetahui aktivitas para pelaku. Namun hingga kini belum terlihat adanya penyelidikan dari polisi Tiongkok terkait kasus tersebut.

Saat ini, pihak peradilan Jerman telah mengkonfirmasi lebih dari 44 korban. Polisi menyebut masih banyak korban potensial lain yang sedang diidentifikasi, sehingga jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah. Polisi juga menyerukan agar para korban potensial lainnya segera menghubungi pihak berwenang.

Laporan gabungan reporter Li Li / Editor Xia

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Membangun Kekayaan: Pelajaran dari Tiga Tokoh Besar dalam Sejarah Tiongkok

Kerja keras dapat menopang kehidupan. Namun, kerja keras jarang menghasilkan kekayaan atau harta besar dengan sendirinya. Perbedaan antara sekadar mencari nafkah dan membangun kekayaan...

Mengapa Biksu Menyapu Halaman yang Sama Setiap Hari

Menyapu halaman, mengepel lantai: bagaimana pekerjaan sehari-hari di biara menjadi salah satu praktik meditasi tertua di dunia. Masuklah ke hampir setiap biara Buddha, dan Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine