EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty Television (NTD), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Namun, ia juga mengakui bahwa Teheran masih mungkin mengubah sikapnya di kemudian hari.
Seiring kemajuan perundingan yang disebut berjalan lancar, Trump mengatakan bahwa ia berharap dapat bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba. Sementara itu, situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Kuwait dan Bahrain menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran. Di Kuwait, sedikitnya satu orang dilaporkan tewas dan 63 orang lainnya terluka.
Trump: Iran Sudah Setuju Tidak Memiliki Senjata Nuklir
Trump mengatakan bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Ia juga menyebut bahwa jika proses negosiasi terus berjalan dengan baik, dirinya “mungkin” akan bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba, pada suatu waktu nanti.
Trump mengatakan:”Kita tidak boleh membiarkan mereka (Iran) memiliki senjata nuklir. Ya, mereka sudah menyetujuinya. Mereka mungkin bisa berubah pikiran, tetapi ini adalah salah satu hal yang harus mereka setujui, dan mereka telah menyetujuinya. Ini adalah hal yang paling penting.”
Trump juga mengkonfirmasi bahwa Mojtaba ikut terlibat dalam proses perundingan. Menurutnya, ia mendengar bahwa kondisi kesehatan Mojtaba kurang baik, namun tetap memberikan dukungan selama negosiasi berlangsung.
Presiden AS itu juga menyebut bahwa blokade laut yang dilakukan militer AS kemungkinan akan berlanjut hingga Hari Buruh Amerika Serikat pada 7 September tahun ini. Meski demikian, ia mengisyaratkan bahwa langkah blokade terhadap Iran mungkin dapat segera diselesaikan apabila tercapai kesepakatan.
Kuwait Diserang, Bentrokan AS-Iran Kembali Terjadi
Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa sebuah drone Iran menyerang Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait.
Serangan tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 63 orang terluka. Tujuh korban dilaporkan harus menjalani operasi darurat. Bandara juga sempat ditutup untuk sementara waktu.
Rekaman dari lokasi menunjukkan dinding luar terminal runtuh, fasilitas di dalam bangunan mengalami kerusakan, serta asap dan api memenuhi area bandara. Puing-puing dan pecahan material terlihat berserakan di lokasi kejadian.
Insiden ini disebut sebagai salah satu peristiwa dengan jumlah korban luka terbanyak yang terjadi di negara-negara Arab Teluk dalam lebih dari tiga bulan terakhir. Peristiwa tersebut juga menambah tekanan terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rapuh.
Pada saat yang sama, United States Central Command (CENTCOM) mengkonfirmasi bahwa Iran meluncurkan sejumlah rudal dan drone ke negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Menurut CENTCOM:
- Dua rudal yang diarahkan ke Kuwait jatuh atau hancur di tengah perjalanan.
- Tiga rudal yang ditembakkan ke Bahrain berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Meski demikian, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah berhasil menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, sebuah pangkalan udara, dan beberapa helikopter.
Militer AS membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa seluruh serangan Iran gagal mencapai sasaran.
CENTCOM juga menyatakan bahwa sejauh ini sedikitnya 125 kapal dagang telah mematuhi instruksi blokade dan berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran. Selain itu, enam kapal yang dianggap melanggar aturan blokade telah dilumpuhkan.
Sebelumnya, militer AS menembakkan rudal Hellfire ke kapal tanker M/T Lexie yang sedang menuju Iran.
Menurut pihak militer AS, kapal tersebut selama 24 jam berulang kali menolak mematuhi instruksi yang diberikan. Karena itu, AS melakukan serangan yang melumpuhkan ruang mesin kapal guna mencegahnya melanjutkan pelayaran ke Iran.
Inflasi Iran Melonjak, Dikhawatirkan Memicu Krisis Politik Baru
Menurut laporan Associated Press, tingkat inflasi tahunan berdasarkan indeks harga konsumen Iran pada bulan Mei mencapai 77,2 persen.
Kenaikan harga untuk kebutuhan sehari-hari seperti obat-obatan dan layanan komunikasi bahkan mencapai 113,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Lembaga kajian ekonomi Iran Bamdad Institute for Economic Studies menyebut laju kenaikan harga saat ini sebagai sesuatu yang “belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II”. Meski demikian, pemerintah Iran dinilai tidak terlalu menonjolkan pentingnya data ekonomi tersebut.
Baru-baru ini, Central Bank of Iran juga mengeluarkan laporan yang untuk pertama kalinya mengakui bahwa mata uang Iran, rial, telah mengalami depresiasi yang sangat tajam.
Sekitar sepuluh tahun lalu, satu dolar AS masih dapat ditukar dengan sekitar 32.000 rial. Kini nilai tukarnya telah merosot hingga lebih dari 1,7 juta rial per dolar AS.
Sejumlah pengamat menilai bahwa lonjakan inflasi yang sangat tinggi menunjukkan dampak tekanan militer dan ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Mereka juga memperingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu krisis politik atau ketidakstabilan pemerintahan di masa mendatang.
Laporan oleh Wang Ziyi, NTD Television, Amerika Serikat.


