EtIndonesia.com Pada 4 Juni, putra sulung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump Jr., menyatakan dalam sebuah acara publik bahwa ia tidak akan memilih untuk berinvestasi di Tiongkok karena menurutnya tindakan tersebut adalah sesuatu yang bodoh.
“Kita Tidak Bisa Berpura-pura Bahwa Tiongkok adalah Sekutu”
Menurut laporan Bloomberg, dalam sebuah acara investor di Zurich, Donald Trump Jr. ditanya apakah ia akan berinvestasi di Tiongkok. Ia menjawab : “Saya tidak akan melakukannya.”
Ia kemudian menambahkan:”Kita tidak bisa berpura-pura bahwa Tiongkok adalah sekutu. Melakukan itu adalah tindakan yang bodoh.”
Donald Trump Jr. mengatakan bahwa salah satu hal yang paling diperhatikan adalah sistem hukum di Tiongkok. Menurutnya, sistem tersebut tidak menguntungkan perusahaan asing.
“Saya tidak dapat mengingat ada perusahaan non-Tiongkok yang pernah memenangkan gugatan ketika berbisnis di Tiongkok.”
Donald Trump Jr. bersama adiknya, Eric Trump, menjabat sebagai Wakil Presiden Eksekutif The Trump Organization. Sejak Presiden Donald Trump kembali ke Gedung Putih, Donald Trump Jr. disebut aktif mencari berbagai proyek investasi dan pengembangan di luar negeri.
Sebuah dana perwalian atas namanya juga memiliki 50,09% saham di Trump Media & Technology Group, perusahaan induk dari platform media sosial Truth Social yang disukai Presiden Trump.
Selain itu, Donald Trump Jr. juga dilaporkan telah menandatangani sejumlah kesepakatan dengan modal dari Timur Tengah dan investor asing lainnya. Beberapa pengamat bahkan menganggapnya sebagai salah satu calon potensial dalam pemilihan presiden Amerika Serikat di masa mendatang.
Trump: Komunisme Membawa Kehancuran dan Kematian
Pernyataan Donald Trump Jr. tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan 37 tahun peristiwa 4 Juni (Tiananmen). Sehari sebelumnya, Presiden Donald Trump mengunggah pernyataan yang mengkritik komunisme dan menyebut bahwa ideologi tersebut membawa kehancuran dan kematian.
Dalam unggahannya, Trump menulis: “Pada awalnya, kaum komunis selalu dapat memenangkan pemilih, atau seperti yang mereka katakan, mendapatkan dukungan ‘rakyat’. Namun pada akhirnya, negara atau kota akan menuju kehancuran. Kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya akan terus bermunculan, dan seluruh negeri akhirnya jatuh ke dalam kemiskinan, kekotoran, dan kriminalitas. Ingatlah, semuanya dimulai dengan apa yang tampak sebagai ‘dukungan rakyat’ yang luar biasa, lalu berakhir dengan kematian dan kehancuran yang tak terhindarkan.”
Pada hari yang sama, Trump menjelaskan kepada wartawan NTD di Gedung Putih bahwa ia melihat apa yang disebutnya sebagai kebijakan bernuansa komunis di kota-kota Amerika seperti New York dan Los Angeles, misalnya gagasan tentang perumahan gratis, makanan gratis, dan berbagai fasilitas gratis lainnya.
Trump mengatakan: “Anda bisa melihat gejala itu sekarang di New York, Los Angeles, dan beberapa wilayah California. Orang-orang dijanjikan tidak perlu membayar sewa, mendapatkan rumah gratis, makanan gratis, dan segala sesuatu secara gratis. Tetapi pada akhirnya semua itu akan berakhir, dan 100 persen akan mengarah pada kematian, kehancuran, dan kawasan kumuh.”
Pada Peringatan 4 Juni, Menteri Luar Negeri AS Mengkritik Pemerintahan PKT
Pada hari peringatan peristiwa 4 Juni, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio merilis pernyataan berbahasa Mandarin yang mengkritik pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Dalam pernyataannya, Rubio mengatakan: “Tanggal 4 Juni menandai 37 tahun sejak Partai Komunis Tiongkok memerintahkan militernya untuk menyerang ribuan demonstran damai di Lapangan Tiananmen dan daerah sekitarnya. Dunia tidak pernah melupakan hari itu.”
Ia juga menulis: “Kami mengenang mereka yang kehilangan nyawa dan menghormati perjuangan mereka. Sensor yang sekeras apa pun tidak dapat menghapus sejarah. Mereka yang berkorban demi membela kebebasan berekspresi dan hak untuk berkumpul secara damai pada akhirnya akan memperoleh keadilan.”
oleh Luo Tingting /Wen Hui


