Polisi Korea Selatan Tahan Tiga Preman Partai Komunis Tiongkok yang Menyerang Praktisi Falun Gong di Pulau Jeju

EtIndonesia.com Tiga pria warga negara Tiongkok menyerang praktisi Falun Gong yang sedang memasang papan informasi di depan Toko Bebas Bea Shilla di Pulau Jeju, Korea Selatan pada Selasa 2 Juni 2026 sekitar pukul 18.00. 

 Insiden tersebut mengakibatkan dua praktisi terluka. Ketiga pelaku kini telah ditahan, dan pihak kepolisian menyatakan akan menangani kasus ini secara tegas sesuai hukum.

Seorang praktisi Falun Gong bertanya:

“Apa yang sedang Anda lakukan?”

Salah seorang pria Tiongkok menjawab:

“Kalian menentang Partai Komunis. Kalian harus segera menyingkirkan semua ini.”

Pada 2 Juni sore, tiga pria Tiongkok tiba-tiba memprovokasi para praktisi Falun Gong yang sedang memasang papan informasi di depan Toko Bebas Bea Shilla di Jeju Island.

Salah satu pria berbaju hitam berteriak:”Singkirkan!”

Para praktisi kemudian meminta seseorang untuk segera menghubungi polisi.

Seorang pria berkacamata mengancam:”Telepon kedutaan. Bereskan semua barang kalian. Kalau tidak, saya akan menghancurkannya sekarang juga.”

Menurut laporan, ketiga pria tersebut terus merusak papan informasi dan melakukan kekerasan terhadap praktisi yang berusaha menghentikan mereka.

Seorang praktisi mengatakan:”Saya tidak menggunakan kekerasan.”

Pria berkacamata itu membalas:”Bukankah kamu mau memukul orang?”

Praktisi menjawab:”Andalah yang memukul lebih dulu.”

Namun pria itu terus memprovokasi dengan berulang kali menanyakan apakah praktisi tersebut ingin berkelahi.

Dalam bentrokan tersebut, seorang praktisi bernama Jiang dan seorang praktisi Korea Selatan mengalami luka-luka.

Jiang menjelaskan:”Saya berdiri di depan untuk menghentikan mereka. Pemimpin kelompok itu yang mengenakan pakaian hijau tiba-tiba menyerang saya dari belakang, memeluk tubuh saya, lalu melemparkan saya ke bangku batu di samping. Saya terbentur cukup keras. Dia juga memukul sisi kanan wajah saya. Bagian belakang kepala saya membentur bangku batu, dan lutut kanan saya mengalami memar.”

Praktisi lainnya, Wang, mengatakan:”Saat rekan kami berhasil melepaskan diri, pria berkacamata itu mengangkat jam tangannya seperti senjata dan hendak menyerang. Saya kemudian berdiri di tengah untuk mencegahnya. Praktisi Korea Selatan juga berusaha berbicara dengan baik-baik dan meminta mereka berhenti merusak papan informasi, tetapi mereka tidak mau mendengarkan. Pada akhirnya, tangan praktisi Korea itu terluka karena ditarik dengan kasar.”

Sekitar belasan menit kemudian, polisi Korea Selatan tiba di lokasi dan membawa ketiga pria tersebut untuk diperiksa.

Di luar Toko Bebas Bea Shilla di Pulau Jeju, para praktisi Falun Gong memasang papan informasi besar bergambar di sepanjang trotoar. (Foto disediakan oleh narasumber)
Para praktisi Falun Gong memasang papan informasi besar bergambar di luar Toko Bebas Bea Shilla di Pulau Jeju. (Foto disediakan oleh narasumber)

Wang mengatakan bahwa ketiga pria itu tampak seperti wisatawan, namun mereka tidak terlihat berbelanja di toko bebas bea tersebut. Selama insiden berlangsung, mereka juga beberapa kali menyiratkan bahwa mereka memiliki “latar belakang yang kuat”.

Menurut Wang : “Mereka memprovokasi kami dengan mengatakan, ‘Kalau kalian berada di Tiongkok, saya pasti sudah membunuh kalian.’ Mereka juga mengancam akan kembali keesokan harinya untuk merusak papan informasi kami lagi. Selama kejadian, mereka menelepon seseorang dan mengatakan akan memanggil lebih banyak orang untuk menghentikan kegiatan kami. Mereka juga mengatakan bahwa mereka menghubungi konsulat PKT.”

Koordinator Falun Dafa di Jeju, Park Dong-seok, mengatakan bahwa insiden serupa pernah terjadi sebelumnya, tetapi kali ini ketiga orang tersebut melakukan kekerasan secara bersama-sama sehingga dianggap jauh lebih serius dan terindikasi sebagai tindakan yang terorganisasi.

“Kemarin saya bersama dua korban pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Saya merasa polisi pada awalnya tampak ingin mengecilkan peristiwa ini. Karena itu saya menjelaskan bahwa sebelumnya tidak pernah terjadi kekerasan seberat ini. Jika kasus ini dibiarkan begitu saja, orang akan meremehkan Korea Selatan. Setelah mendengar penjelasan saya, sikap polisi berubah. Mereka menjadi lebih ramah dan mengatakan, ‘Kami mengerti, dan akan menanganinya secara tegas sesuai hukum.'”

Saat ini, ketiga warga negara Tiongkok tersebut telah ditahan dan polisi Jeju telah membuka penyelidikan resmi.

Video insiden tersebut juga telah tersebar luas di media sosial.

Sejumlah warganet Korea Selatan mengungkapkan keterkejutan mereka, dengan komentar seperti:

  • “Para pendukung Partai Komunis ini menggunakan kekerasan di negara orang lain.”
  • “Larangan keluar negeri dan deportasi mereka agar tidak pernah menginjakkan kaki di Korea lagi.”
  • “Kekerasan seperti ini tidak boleh ditoleransi di Korea Selatan. Kami mendukung praktisi Falun Gong yang berani mempertahankan kebenaran serta nilai-nilai demokrasi dan kebebasan.”
  • “Kita harus memprotes Konsulat Jenderal PKT terkait masalah ini.”

Media Taiwan juga melaporkan kejadian tersebut. Beberapa komentar warganet antara lain:

  • “Mereka bukan warga Tiongkok biasa; orang biasa tidak akan datang dan merusak stan seperti itu.”
  • “Dulu di Hong Kong mereka juga sering mengganggu stan informasi Falun Gong dengan cara seperti ini.”
  • “Mereka telah mempermalukan rakyat Tiongkok.”

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang menggabungkan latihan meditasi dengan ajaran moral yang berpusat pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. 

Pada tahun 1990-an, Falun Gong menjadi praktik spiritual dengan pertumbuhan tercepat di Tiongkok. Karena memandang popularitasnya, kemandiriannya dari kontrol negara, serta prinsip-prinsip ajarannya sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan ideologi resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang ateis, rezim tersebut melancarkan kampanye penganiayaan yang brutal terhadap Falun Gong pada tahun 1999.

Berbagai laporan menunjukkan bahwa para praktisi Falun Gong masih menghadapi penganiayaan yang kejam hingga saat ini, termasuk penyiksaan, kerja paksa, pencucian otak, pengawasan ketat, pembunuhan, serta pengambilan organ hidup secara paksa. 

Sementara itu, para praktisi Falun Gong menanggapi penganiayaan tersebut melalui aksi protes damai dan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, baik di dalam maupun di luar Tiongkok, menurut Falun Dafa Information Center yang berbasis di Washington, yang melaporkan perkembangan penganiayaan terhadap disiplin spiritual tersebut di Tiongkok.

Pulau Jeju merupakan salah satu destinasi wisata populer di Korea Selatan, dan wisatawan Tiongkok dapat masuk tanpa visa. Di beberapa lokasi wisata di Jeju, praktisi Falun Gong sering memasang papan informasi untuk memperkenalkan Falun Dafa kepada wisatawan Tiongkok dan menyampaikan informasi mengenai penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok.

Pada April dua tahun lalu, beberapa wisatawan Tiongkok juga dilaporkan membuat keributan di depan Toko Bebas Bea Shilla dan menjatuhkan papan informasi Falun Gong. Mereka kemudian ditangkap oleh polisi Jeju sesuai prosedur hukum.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada TubuhKitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok...

Mengapa Kopi yang Anda Seduh Tidak Enak? Perhatikan Empat Detail Penting Ini

EtIndonesia.com Bagi banyak orang, hari yang menyenangkan dimulai dengan secangkir kopi. Namun, terkadang meskipun biji kopi yang digunakan cukup baik, hasil seduhannya terasa terlalu...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine