Diduga Terjadi Kecurangan dalam Pemilu Daerah Korea Selatan, Warga Gelar Demonstrasi Besar-Besaran

EtIndonesia.com Pemilihan daerah yang digelar di Korea Selatan pada 3 Juni 2026 diduga diwarnai kecurangan pemilu, sehingga memicu aksi protes warga yang berlangsung sejak malam hari  3 Juni hingga saat ini.

Sejumlah warga setempat mengaku telah merekam rekaman kamera pengawas yang diduga memperlihatkan petugas pemilu melakukan manipulasi suara. Selain itu, sebagian warga juga menuduh adanya individu dari pihak luar yang menyamar sebagai polisi dan melakukan tindakan represif saat membubarkan massa.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa dari universitas terkemuka Korea Selatan, Seoul National University Student Council, disebut memimpin gerakan pernyataan bersama yang diikuti oleh organisasi mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh negeri. Sejumlah pengamat menilai bahwa gerakan mahasiswa berskala besar berpotensi meletus dalam waktu dekat.

Aksi Protes Berlangsung Semalaman

Para demonstran meneriakkan:“Pemilu tidak sah! Terjadi kecurangan pemilu!”

Menurut laporan tersebut, pemicu utama protes adalah kontroversi mengenai kekurangan surat suara pada hari pemungutan suara 3 Juni. Disebutkan bahwa di 17 tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh Korea Selatan terjadi kehabisan surat suara sehingga proses pemungutan suara sempat terhenti.

Di beberapa TPS, pemilih dikabarkan harus menunggu lebih dari satu setengah jam.

Dugaan Manipulasi Surat Suara

Sebagian warga juga mengunggah rekaman kamera pengawas yang kemudian menimbulkan kecurigaan publik. Dalam rekaman tersebut, petugas pemilu terlihat membuka segel kotak suara dan memasukkan sejumlah besar surat suara dari luar.

Selain itu, terdapat tuduhan bahwa sebagian surat suara dibuang ke tempat sampah dan tidak ikut dihitung. Warga juga mengklaim bahwa bukti-bukti yang mereka temukan terkait kotak suara disita secara paksa oleh polisi, yang kemudian memicu bentrokan antara aparat dan masyarakat.

Dalam salah satu insiden, seorang ibu yang menggendong bayinya terlihat berhadapan langsung dengan polisi.

Seorang warga terdengar berkata:“Apakah ketua komisi pemilihan ada di lokasi? Apa yang kalian lakukan ini jelas-jelas melanggar hukum! Apa sebenarnya yang sedang dilakukan polisi?”

Bentrokan dengan Aparat

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sejumlah warga lanjut usia melakukan aksi duduk damai, namun kemudian diangkat dan diseret oleh aparat keamanan.

Dalam rekaman lain, polisi anti huru-hara terlihat membawa senapan saat berhadapan dengan massa.

Seorang demonstran terdengar meneriakkan kepada petugas:“Tidakkah kalian merasa malu? Sungguh memalukan!”

Tuduhan Adanya “Polisi Palsu”

Sebagian pengguna internet Korea Selatan mengklaim menemukan kejanggalan pada sejumlah petugas yang bertugas mengamankan demonstrasi.

Menurut tuduhan yang beredar, beberapa petugas diduga mengenakan tanda nama yang tampak seperti transliterasi nama berbahasa Mandarin. Selain itu, ada individu berambut cokelat bergelombang yang dinilai tidak sesuai dengan standar penampilan kepolisian Korea Selatan. Sebagian petugas juga terlihat mengenakan penutup wajah.

Karena itu, muncul spekulasi di media sosial bahwa mungkin terdapat pihak luar yang menyusup ke dalam barisan aparat keamanan.

Seorang warga dalam rekaman mengatakan:“Ada orang yang menyamar sebagai polisi, ada polisi palsu! Dia tidak bisa memberikan penjelasan yang masuk akal. Seragamnya juga tidak memiliki nama. Jika benar polisi, mengapa bahkan rekan-rekannya tidak dapat mengidentifikasinya?”

Mahasiswa Mulai Bergerak

Sejumlah anak muda Korea Selatan mulai menyampaikan kekhawatiran mereka kepada komunitas internasional melalui media sosial, dengan menyatakan bahwa demokrasi di Korea Selatan sedang mengalami gejolak.

Menurut laporan tersebut, organisasi mahasiswa dari beberapa universitas ternama seperti Seoul National University, Korea University, dan Sungkyunkwan University, bersama berbagai organisasi mahasiswa daerah lainnya, telah mengeluarkan pernyataan terbuka terkait dugaan kecurangan dalam pemilu daerah.

Sejumlah analis memperkirakan bahwa situasi ini berpotensi berkembang menjadi gerakan mahasiswa berskala nasional.

Pada aksi demonstrasi 6 Juni, para peserta juga menyanyikan lagu kebangsaan Korea Selatan.“Rakyat Korea akan selamanya terlindungi dengan jalan Korea! Semangat! Semangat!”

Situasi Terus Berkembang

Hingga  6 Juni sore waktu Korea Selatan, berbagai bantuan logistik dilaporkan terus mengalir ke lokasi demonstrasi di pusat Kota Seoul.

Menurut laporan tersebut, kontroversi seputar pemilu daerah ini berpotensi memicu aksi demonstrasi jangka panjang di Korea Selatan, dan dampak lanjutan dari perkembangan tersebut masih terus menjadi perhatian publik.

Televisi NTD, Huang Liangjian dan Ning Yuxiang melaporkan.

INSPIRASI ERABARU

Sosok Moch. Afan Zulkarnain: Mengajar dengan Hati, Menginspirasi Generasi Digital

oleh: Sang Fajar Dunia pendidikan Indonesia terus berubah dengan cepat, terutama setelah pandemi COVID-19. Transformasi digital menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari, dan guru-guru di...

Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada Tubuh Kitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine