Iran Pecahkan Gencatan Senjata, Rudal-Rudal Mengguncang Langit Israel

Rentetan rudal Iran memicu sirene peringatan serangan udara di berbagai wilayah Israel, menurut pernyataan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) 

Jacki Thrapp dan T.J. Muscaro

EtIndonesia.com Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menuduh Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel pada 7 Juni.

“Sirene peringatan dibunyikan di sejumlah wilayah di seluruh negeri setelah terdeteksi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel,” tulis IDF dalam sebuah unggahan di platform X.

Menurut IDF, sistem pertahanan udara dikerahkan untuk mencegat ancaman itu.

Serangan rudal Iran segera memicu respons keras dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.

“Malam ini Teheran harus terbakar!” seru Ben-Gvir dalam unggahannya di X pada 7 Juni.

Serangan 7 Juni  merupakan pertama kalinya rezim Iran menargetkan Israel sejak gencatan senjata sementara mulai berlaku pada awal April.

Beberapa jam setelah serangan Iran, IDF mengeluarkan pembaruan yang menyatakan bahwa mereka akan “menghantam musuh dengan kekuatan penuh begitu lampu hijau diberikan.”

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem mengumumkan penutupan kantor utamanya serta kantor cabangnya di Tel Aviv pada 8 Juni, dan menginstruksikan seluruh personelnya untuk berlindung di tempat.

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Gilad Erdan, mengirim pesan kepada Presiden AS Donald Trump melalui X dengan mengatakan, “Tuan Presiden, Iran menipu Anda, Israel menghormati Anda, Israel harus membalas dengan keras.”

Trump mengatakan kepada Fox News bahwa tindakan agresi terbaru tersebut “jelas tidak akan membantu proses negosiasi.”

“Apa yang saya sarankan kepada Iran: Anda sudah menembakkan rudal-rudal Anda, itu sudah cukup. Kembalilah ke meja perundingan dan buat kesepakatan,” kata Trump kepada Trey Yingst dari Fox News pada 7 Juni.

Serangan rudal ini terjadi hanya beberapa jam setelah Trump mengatakan dalam wawancara di acara “Meet the Press” bahwa Amerika Serikat “sangat dekat” untuk mencapai kesepakatan dengan para pejabat Iran.

“Kami sedang melakukan negosiasi yang sangat baik dengan orang-orang yang sekarang memimpin negara itu,” kata Trump. “Ini adalah kelompok ketiga yang berurusan dengan kami, dan mereka berbeda. Bisa dikatakan ini sebenarnya merupakan perubahan rezim, karena mereka adalah orang-orang yang sangat berbeda. Saya melihat mereka lebih rasional dan sangat cerdas.”

Ebrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, membela serangan rudal Iran ke Israel pada 7 Juni.

“Pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat di Teluk Persia dan kejahatan rezim Zionis terhadap Palestina dan Lebanon menunjukkan bahwa kalian hanya memahami bahasa kekuatan dan kekerasan,” tulis Azizi. “Karena itu, Front Perlawanan juga akan berbicara kepada kalian dengan bahasa yang sama.”

Sebelumnya pada hari yang sama, Israel melancarkan serangan ke sejumlah kawasan di Beirut. Ini merupakan pertama kalinya Israel menargetkan ibu kota Lebanon sejak Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pekan lalu.

“Kedua pihak sepakat, dengan arahan Amerika Serikat, untuk segera memajukan pembentukan zona percontohan di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan mengambil kendali eksklusif atas wilayah tersebut tanpa kehadiran aktor non-negara,” demikian bunyi pernyataan bersama mengenai gencatan senjata yang dirilis pada 3 Juni.

Israel juga melancarkan serangan udara di Lebanon selatan pada 6 Juni yang menewaskan sembilan orang, termasuk tiga anggota militer Lebanon.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut para korban yang gugur sebagai “syuhada” dan mengecam serangan tersebut sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon serta hukum dan norma internasional.”

Pernyataan Aoun juga menegaskan upaya negaranya untuk meyakinkan Washington agar turun tangan menghentikan meningkatnya serangan di wilayah selatan Lebanon. Ia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk “memikul tanggung jawabnya dan mengakhiri serangan-serangan berulang ini.”

Israel dan Lebanon dijadwalkan menggelar perundingan tambahan dalam pertemuan trilateral bersama Amerika Serikat pada pekan 22 Juni guna mencapai kesepakatan jangka panjang.

Namun, Hezbollah di Lebanon, kelompok yang ditetapkan Amerika Serikat sebagai organisasi teroris, tidak menyetujui kesepakatan tersebut.

Hezbollah secara historis bersekutu dengan rezim Islam Iran dan terus melancarkan serangannya sendiri terhadap Israel, termasuk setelah serangan kelompok teroris Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.

Pertempuran yang terus berlangsung antara Hezbollah dan Israel di wilayah Lebanon telah memperumit upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung yang melibatkan Iran.

Beberapa hari sebelumnya, Trump mengonfirmasi laporan bahwa ia telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menghentikan kampanye militer Israel di Lebanon dalam percakapan telepon pada 1 Juni.

“Saya agak terganggu dengan dia yang terus-menerus berperang dengan Lebanon,” kata Trump. “Pada suatu titik saya berkata, ‘Bibi, kita harus menghentikan ini.’”

Namun setelah percakapan tersebut, Netanyahu menegaskan bahwa sikap Israel terhadap Hezbollah “tetap tidak berubah.”

Dalam wawancaranya di acara “Meet the Press,” Trump mengatakan bahwa meskipun dirinya dan Netanyahu adalah “rekan yang hebat,” keduanya memiliki perbedaan pandangan “dalam beberapa hal.”

Presiden AS itu juga mengatakan bahwa ia tidak menuntut Lebanon menjadi bagian dari kesepakatan jangka pendek, tetapi berharap situasi di negara tersebut membaik.

“Saya ingin melihat Lebanon memiliki kehidupan yang lebih baik,” ujarnya. “Saya ingin melihat serangan yang lebih terarah terhadap Hezbollah. Saya pikir serangan itu harus lebih terarah, dan kami dapat membantu mereka dalam hal itu, atau kami bisa merekomendasikan Suriah. Suriah sedang melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam membereskan situasinya.”

Trump juga mengatakan kepada Axios bahwa ia akan menelepon Netanyahu dan mendesaknya agar tidak melakukan serangan balasan terhadap Iran.

Kimberly Hayek dan Ryan Morgan berkontribusi dalam laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Sosok Moch. Afan Zulkarnain: Mengajar dengan Hati, Menginspirasi Generasi Digital

oleh: Sang Fajar Dunia pendidikan Indonesia terus berubah dengan cepat, terutama setelah pandemi COVID-19. Transformasi digital menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari, dan guru-guru di...

Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada Tubuh Kitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine