EtIndonesia.com – Sejumlah negara Eropa dalam beberapa tahun terakhir semakin meningkatkan pengawasan terhadap dugaan aktivitas intelijen yang terkait dengan partai komunis Tiongkok. Dari Republik Ceko hingga Prancis, berbagai kasus yang melibatkan individu yang dituduh mengumpulkan informasi sensitif untuk kepentingan Beijing mulai terungkap ke publik.
Perkembangan ini dianggap sebagai sinyal bahwa negara-negara Eropa kini semakin terbuka dalam menghadapi apa yang mereka pandang sebagai ancaman infiltrasi asing. Jika sebelumnya banyak kasus semacam ini ditangani secara tertutup demi menjaga stabilitas hubungan diplomatik dan ekonomi, kini tren tersebut tampak mulai berubah.
Republik Ceko Proses Kasus Perdana Berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional Baru
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian terjadi di Republik Ceko.
Pada Juni 2026, Pengadilan Kota Praha secara resmi menerima berkas perkara terhadap Yang Yiming, seorang wartawan yang bertugas di Praha untuk surat kabar Tiongkok, Guangming Daily.
Jaksa menuduh Yang melakukan pengumpulan informasi mengenai sejumlah politisi Republik Ceko yang diketahui memiliki hubungan dekat dengan Taiwan. Informasi tersebut diduga dikumpulkan untuk kepentingan lembaga intelijen Tiongkok.
Kasus ini diproses berdasarkan Pasal 318A Undang-Undang Keamanan Nasional Republik Ceko, sebuah regulasi baru yang mengatur aktivitas tidak sah yang dilakukan atas nama kekuatan asing.
Apabila dinyatakan bersalah oleh pengadilan, Yang terancam hukuman hingga lima tahun penjara.
Perkara ini memiliki arti penting karena menjadi kasus pertama yang diproses berdasarkan undang-undang baru tersebut. Banyak pengamat menilai kasus ini akan menjadi tolok ukur bagaimana Republik Ceko menangani dugaan aktivitas intelijen asing di masa mendatang.
Selain itu, kasus tersebut juga dianggap menunjukkan perubahan pola operasi intelijen modern yang tidak selalu melibatkan agen rahasia profesional. Individu dengan profesi sipil, termasuk jurnalis, akademisi, peneliti, maupun pelaku bisnis, kini dinilai dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi strategis.
Mengapa Republik Ceko Menjadi Perhatian Beijing?
Para analis menilai Republik Ceko memiliki posisi yang cukup unik dalam hubungan antara Eropa dan Taiwan.
Pengamat politik Tang Jingyuan menjelaskan bahwa Republik Ceko selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu negara Eropa yang relatif terbuka dalam menjalin hubungan dengan Taiwan.
Isu mengenai Selat Taiwan, hubungan ekonomi dengan Taipei, serta kerja sama politik dan teknologi antara kedua pihak mendapat perhatian cukup besar di negara tersebut.
Karena itulah, menurut sejumlah pengamat, perkembangan politik di Republik Ceko memiliki nilai strategis bagi Beijing.
Mereka berpendapat bahwa pemerintah Tiongkok memiliki kepentingan untuk memantau berbagai dinamika politik yang berkaitan dengan Taiwan di negara tersebut.
Tang juga menilai bahwa tekanan yang muncul terhadap Republik Ceko tidak hanya berkaitan dengan hubungan bilateral semata, tetapi juga dapat dipandang sebagai bagian dari persaingan pengaruh yang lebih luas antara Tiongkok dan negara-negara Barat.
Dugaan Keterlibatan Jaringan yang Lebih Luas
Pakar studi Tiongkok dari lembaga penelitian Sinopsis di Praha, Martin Hála, menyatakan bahwa praktik pengumpulan informasi melalui jaringan non-tradisional bukanlah hal baru.
Menurutnya, sebagian wartawan luar negeri yang bekerja untuk media tertentu dari Tiongkok diduga memiliki hubungan dengan aktivitas pengumpulan informasi yang berkaitan dengan kepentingan negara.
Hála juga menyoroti peran sistem Front Persatuan (United Front) yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian berbagai badan intelijen Barat.
Menurut sejumlah laporan dan penelitian akademis, sistem tersebut memungkinkan individu dari berbagai latar belakang profesi untuk berkontribusi dalam pengumpulan informasi yang dianggap bermanfaat bagi kepentingan nasional Tiongkok.
Model seperti ini dinilai membuat aktivitas infiltrasi menjadi lebih sulit dideteksi karena tidak selalu dilakukan oleh agen intelijen profesional yang bekerja secara formal.
Yunani Ungkap Dugaan Kebocoran Rahasia Militer
Republik Ceko bukan satu-satunya negara yang menghadapi kasus serupa.
Di Yunani, pada Februari 2026, seorang perwira Angkatan Udara ditangkap setelah diduga membocorkan informasi rahasia kepada pihak yang terkait dengan Tiongkok.
Kasus tersebut memicu perhatian besar karena menyangkut keamanan militer dan pertahanan nasional.
Sebelumnya, pada Juli 2025, aparat Yunani juga menahan empat warga negara Tiongkok yang diduga memotret fasilitas militer sensitif di sekitar Pangkalan Udara Tanagra, salah satu instalasi pertahanan penting negara tersebut.
Insiden itu mendorong otoritas Yunani memperketat pengawasan terhadap aktivitas warga asing di sekitar lokasi-lokasi strategis.
Prancis Bongkar Dugaan Jaringan Pengumpulan Informasi Melalui WeChat
Di Prancis, perkembangan serupa terjadi pada Februari 2026.
Kantor Kejaksaan Paris menangkap empat orang, termasuk dua warga negara Tiongkok, yang diduga menggunakan aplikasi komunikasi WeChat untuk memperoleh informasi sensitif yang berkaitan dengan pemerintah dan militer Prancis.
Penyelidikan masih berlangsung, namun kasus tersebut memperlihatkan bagaimana platform komunikasi digital kini menjadi salah satu sarana yang diawasi secara ketat oleh lembaga keamanan Eropa.
Otoritas Prancis menilai bahwa ancaman keamanan modern tidak lagi terbatas pada aktivitas spionase konvensional, melainkan juga mencakup pengumpulan data melalui jaringan digital dan komunikasi daring.
Kasus Serupa Bermunculan di Berbagai Negara Eropa
Menurut berbagai laporan keamanan Eropa, sejak 2024 sejumlah negara telah mengungkap kasus yang berkaitan dengan dugaan aktivitas intelijen Tiongkok.
Negara-negara yang pernah melaporkan penyelidikan atau penangkapan terkait kasus serupa antara lain:
- Jerman
- Inggris
- Swedia
- Norwegia
- Belgia
- Belanda
Kasus-kasus tersebut mencakup berbagai dugaan pelanggaran, mulai dari pencurian teknologi, pengumpulan informasi politik, pengawasan terhadap komunitas diaspora, hingga aktivitas yang berkaitan dengan sektor pertahanan dan keamanan nasional.
Perubahan Sikap Eropa terhadap Dugaan Infiltrasi Tiongkok
Sejumlah akademisi dan analis keamanan menilai bahwa gelombang penangkapan dan penyelidikan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan perubahan besar dalam cara negara-negara Eropa memandang ancaman intelijen asing.
Selama bertahun-tahun, banyak negara Barat memilih menangani kasus spionase secara tertutup guna menghindari ketegangan diplomatik maupun gangguan terhadap hubungan perdagangan dengan Tiongkok.
Namun, menurut sejumlah pengamat, situasi kini mulai berubah.
Keputusan Republik Ceko untuk secara terbuka membawa kasus Yang Yiming ke pengadilan dipandang sebagai sinyal bahwa negara-negara Eropa semakin bersedia mengungkap dugaan aktivitas intelijen asing kepada publik.
Bagi banyak analis, langkah tersebut menunjukkan bahwa isu keamanan nasional kini semakin diprioritaskan dibandingkan pertimbangan ekonomi semata.
Perkembangan ini juga memperlihatkan meningkatnya kewaspadaan Eropa terhadap persaingan geopolitik global yang semakin kompleks, khususnya dalam hubungan antara negara-negara Barat dan Tiongkok yang terus mengalami dinamika baru dalam beberapa tahun terakhir. (***)


