Kekurangan Surat Suara di Pemilu Daerah Korea Selatan Picu Protes Puluhan Ribu Orang, Presiden Lee Jae-myung Minta Maaf

EtIndonesia.com  Perhatian kini tertuju pada Korea Selatan. Dalam pemilihan daerah yang berlangsung pada 3 Juni, terjadi kekurangan surat suara di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS), yang menyebabkan proses pemungutan suara sempat dihentikan atau tertunda selama beberapa jam. Sebagian pemilih bahkan memutuskan untuk tidak memberikan suara mereka. Insiden ini memicu protes besar-besaran yang melibatkan ribuan orang.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, menyampaikan permintaan maaf melalui pernyataan publik. Ia menyatakan penyesalan atas kekurangan surat suara yang dinilai telah mengganggu hak politik warga negara, serta meminta dilakukan penyelidikan menyeluruh.

Protes dan Tuduhan Kecurangan Pemilu

Para demonstran meneriakkan slogan:

“Pemilu tidak sah!”

“Pemilu curang!”

Aksi protes berlangsung hingga larut malam. Pemicunya adalah kontroversi serius terkait kekurangan surat suara pada hari pemungutan suara.

Menurut laporan tersebut, sebanyak 17 TPS di berbagai wilayah Korea Selatan mengalami kehabisan surat suara, sehingga proses pemungutan suara harus dihentikan sementara.

Beberapa pemilih dikabarkan menunggu lebih dari satu setengah jam tanpa kepastian. Selain itu, beredar rekaman kamera pengawas yang menimbulkan kecurigaan di kalangan warga.

Dalam video tersebut, petugas pemilu terlihat membuka segel kotak suara dan memasukkan sejumlah besar surat suara dari luar ke dalam kotak. Adegan ini memicu dugaan adanya manipulasi pemungutan suara.

Laporan tersebut juga menyebut adanya tuduhan bahwa sejumlah surat suara ditemukan di tempat sampah dan tidak dihitung. Bahkan, ketika warga menemukan bukti yang diduga terkait kotak suara, polisi disebut-sebut mengambil barang bukti tersebut secara paksa, yang kemudian memicu ketegangan antara polisi dan warga.

Seorang ibu yang menggendong bayi juga terlihat berhadapan langsung dengan aparat kepolisian.

Bentrokan Verbal antara Warga dan Polisi

Beberapa warga mempertanyakan tindakan aparat dan menuduh adanya pelanggaran hukum.

Seorang warga terdengar berteriak:”Apakah penanggung jawab komisi pemilihan ada di sini? Apa yang kalian lakukan ini jelas-jelas melanggar hukum! Apa sebenarnya yang sedang dilakukan polisi?”

Warga lainnya menyerukan generasi muda untuk ikut turun ke jalan:”Generasi usia 20-an dan 30-an harus mengubah keadaan ini. Tolong datang ke Handball Gymnasium di Olympic Park. Kita harus melakukan perubahan.”

Tuduhan Adanya “Polisi Palsu”

Laporan tersebut juga menyebut bahwa sebagian warga memperhatikan hal-hal yang dianggap tidak biasa pada aparat keamanan yang bertugas.

Menurut sejumlah warganet Korea Selatan:

  • Ada petugas yang label namanya diduga menggunakan transliterasi nama berbahasa Mandarin.
  • Di antara barisan polisi terdapat seorang pria berambut cokelat bergelombang setengah panjang, padahal aturan kepolisian Korea Selatan umumnya melarang gaya rambut tertentu.
  • Sejumlah petugas mengenakan penutup wajah saat bertugas.

Temuan-temuan tersebut memicu spekulasi di media sosial mengenai kemungkinan adanya orang luar yang menyamar sebagai polisi.

Dalam sebuah rekaman, seorang warga terdengar berkata:

“Ada orang yang menyamar sebagai polisi! Dia tidak bisa menjelaskan identitasnya. Seragamnya bahkan tidak memiliki nama. Dia mengaku polisi, tetapi sekarang bahkan tidak bisa menemukan rekan kerjanya sendiri. Coba jelaskan!”

Kekhawatiran Meluas di Kalangan Mahasiswa

Menurut laporan tersebut, kontroversi pemilihan daerah dan tindakan aparat telah menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat.

Beberapa pemuda Korea Selatan mulai menyebarkan informasi berbahasa Inggris di media sosial untuk menarik perhatian dunia internasional terhadap situasi demokrasi di Korea Selatan.

Disebutkan pula bahwa organisasi mahasiswa dari sejumlah universitas ternama, termasuk:

  • Seoul National University
  • Korea University
  • Sungkyunkwan University

serta berbagai organisasi mahasiswa daerah lainnya, mengeluarkan pernyataan terbuka mengenai dugaan kemungkinan kecurangan dalam pemilu daerah tersebut.

Beberapa analis memperkirakan bahwa kontroversi ini berpotensi berkembang menjadi gerakan mahasiswa berskala besar.

Pada aksi protes tanggal 6 Juni, para demonstran bahkan menyanyikan lagu kebangsaan Korea Selatan.

Mereka menyanyikan: “Rakyat Korea akan selamanya menjaga Republik Korea.”

Potensi Aksi Jangka Panjang

Hingga sore hari 6 Juni waktu Korea Selatan, bantuan logistik dari berbagai daerah terus berdatangan ke lokasi aksi di pusat Kota Seoul.

Menurut laporan NTDTV, kontroversi seputar pemilihan daerah ini berpotensi memicu gelombang demonstrasi jangka panjang di Korea Selatan, dan perkembangan selanjutnya masih menjadi perhatian publik.

Laporan gabungan oleh Huang Liangjian dan Ning Yuxiang, NTDTV.

INSPIRASI ERABARU

Sosok Moch. Afan Zulkarnain: Mengajar dengan Hati, Menginspirasi Generasi Digital

oleh: Sang Fajar Dunia pendidikan Indonesia terus berubah dengan cepat, terutama setelah pandemi COVID-19. Transformasi digital menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari, dan guru-guru di...

Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada Tubuh Kitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine