Kemerosotan ekonomi Tiongkok terus berlanjut, dan bahkan Shanghai, yang pernah dijuluki sebagai “Paris dari Timur”, tidak luput dari dampaknya. Seorang warga lanjut usia Shanghai mengeluhkan bahwa kawasan-kawasan komersial yang dahulu ramai kini tampak lengang. Menurutnya, dalam 70 tahun hidupnya, ia belum pernah melihat Shanghai mengalami kemerosotan seperti sekarang.
EtIndonesia.com Media swadaya (self-media) di daratan Tiongkok baru-baru ini melaporkan bahwa pusat perbelanjaan kosong, toko-toko tutup, jumlah pengunjung menurun drastis, harga properti merosot, dan angka pengangguran meningkat. Dampak perlambatan ekonomi Tiongkok kini menyebar dengan cepat ke Shanghai, kota tingkat pertama yang sebelumnya menjadi simbol konsumsi dan kemakmuran nasional.
Seorang warga lama Shanghai yang telah tinggal di kota itu hampir 70 tahun, bernama samaran Zhang Hong, mengaku terkejut dengan kondisi saat ini. Ia menyebut bahwa Aegean Shopping Center, salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Shanghai, dahulu selalu dipadati pengunjung. Namun kini suasananya hampir seperti kota mati.
“Dari luar gedung masih terlihat terang benderang, tetapi ketika masuk ke dalam, baru terlihat bahwa sebagian besar toko sudah tutup. Orang-orang juga sudah tidak ada. Suasananya sepi seperti kota kosong.”
中国 上海 经济萧条 pic.twitter.com/fDOgWukqCs
— Otto Huang (@OttoHuang120) June 4, 2026
Kondisi serupa juga terlihat di kawasan komersial sekitar Stasiun Kereta Shanghai, salah satu pusat transportasi tersibuk di kota tersebut.
Zhang Hong mengatakan bahwa dahulu lorong bawah tanah di sekitar stasiun dipenuhi deretan toko dan lautan manusia. Kini, menurutnya:
“Dari sepuluh toko, sembilan sudah tutup. Hanya satu yang masih beroperasi. Dibandingkan dulu, perbedaannya seperti langit dan bumi.”
Ia pun menghela napas:”Saya hampir berusia 70 tahun, dan belum pernah melihat Shanghai mengalami kelesuan seperti ini.”
Seorang warga Distrik Jing’an juga mengungkapkan bahwa saat pergi makan siang di Jalan Changping, ia mendapati hampir seluruh deretan restoran telah tutup. Banyak merek restoran yang dahulu populer di kalangan pekerja kantoran kini sudah berhenti beroperasi.
经济崩溃到什么地步了?上海核心区域也出现了关店潮
— ziyousuiwo(随时更新中国新闻评论) (@IngWeilai) March 4, 2026
3月3(发布),博主拍摄上海普通区长寿路附近的街道,整条街的商铺大量关闭,而且该区域已经算普陀区比较核心地段了。他说以前排队不断。
评论区网友说:他妹妹在上海普通区宁夏路的商铺,原房主45平卖了400万,现在就卖100多万了 https://t.co/r7Qr3ihL0c pic.twitter.com/giXJNBmK3a
Ia berkomentar :”Bahkan pusat kota pun sudah tidak mampu bertahan.”
Seorang warganet lainnya mengatakan : “Sepuluh tahun lalu, ketika pergi ke Jalan Nanjing, orang-orang berdesakan. Sekarang jumlah pengunjung mungkin bahkan tidak mencapai sepersepuluh dari saat itu.”
Menurut rangkuman media Tiongkok, kelesuan di Shanghai disebabkan oleh berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan, termasuk penurunan jumlah penduduk dan perlambatan ekonomi.
Tingkat kelahiran di kota itu terus menurun, menyebabkan banyak taman kanak-kanak dan sekolah menghadapi penutupan atau penggabungan. Pada saat yang sama, banyak perusahaan gulung tikar. Bahkan sektor internet dan teknologi yang sebelumnya dikenal menawarkan gaji tinggi dan pekerjaan stabil kini mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.
Akibatnya, banyak anak muda dan pekerja pendatang memilih meninggalkan Shanghai. Selain itu, penurunan berkepanjangan di pasar properti telah menyebabkan nilai aset banyak keluarga menyusut secara signifikan.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa persoalannya kini bukan lagi sekadar penurunan konsumsi masyarakat. Ketika pusat perbelanjaan kosong, toko-toko tutup, harga rumah jatuh, dan lapangan kerja menghilang, kepercayaan masyarakat terhadap masa depan juga terus merosot.
Semakin banyak warga biasa yang merasa putus asa menghadapi situasi ekonomi yang terus memburuk.
Sumber : NTDTV.com


