Lansia Shanghai Keluhkan Pusat Perbelanjaan dan Kawasan Sekitar Stasiun Sepi, 9 dari 10 Toko Tutup — Kelesuan Terburuk dalam 70 Tahun

Kemerosotan ekonomi Tiongkok terus berlanjut, dan bahkan Shanghai, yang pernah dijuluki sebagai “Paris dari Timur”, tidak luput dari dampaknya. Seorang warga lanjut usia Shanghai mengeluhkan bahwa kawasan-kawasan komersial yang dahulu ramai kini tampak lengang. Menurutnya, dalam 70 tahun hidupnya, ia belum pernah melihat Shanghai mengalami kemerosotan seperti sekarang.

EtIndonesia.com Media swadaya (self-media) di daratan Tiongkok baru-baru ini melaporkan bahwa pusat perbelanjaan kosong, toko-toko tutup, jumlah pengunjung menurun drastis, harga properti merosot, dan angka pengangguran meningkat. Dampak perlambatan ekonomi Tiongkok kini menyebar dengan cepat ke Shanghai, kota tingkat pertama yang sebelumnya menjadi simbol konsumsi dan kemakmuran nasional.

Seorang warga lama Shanghai yang telah tinggal di kota itu hampir 70 tahun, bernama samaran Zhang Hong, mengaku terkejut dengan kondisi saat ini. Ia menyebut bahwa Aegean Shopping Center, salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Shanghai, dahulu selalu dipadati pengunjung. Namun kini suasananya hampir seperti kota mati.

“Dari luar gedung masih terlihat terang benderang, tetapi ketika masuk ke dalam, baru terlihat bahwa sebagian besar toko sudah tutup. Orang-orang juga sudah tidak ada. Suasananya sepi seperti kota kosong.”

Kondisi serupa juga terlihat di kawasan komersial sekitar Stasiun Kereta Shanghai, salah satu pusat transportasi tersibuk di kota tersebut.

Zhang Hong mengatakan bahwa dahulu lorong bawah tanah di sekitar stasiun dipenuhi deretan toko dan lautan manusia. Kini, menurutnya:

“Dari sepuluh toko, sembilan sudah tutup. Hanya satu yang masih beroperasi. Dibandingkan dulu, perbedaannya seperti langit dan bumi.”

Ia pun menghela napas:”Saya hampir berusia 70 tahun, dan belum pernah melihat Shanghai mengalami kelesuan seperti ini.”

Seorang warga Distrik Jing’an juga mengungkapkan bahwa saat pergi makan siang di Jalan Changping, ia mendapati hampir seluruh deretan restoran telah tutup. Banyak merek restoran yang dahulu populer di kalangan pekerja kantoran kini sudah berhenti beroperasi.

Ia berkomentar :”Bahkan pusat kota pun sudah tidak mampu bertahan.”

Seorang warganet lainnya mengatakan : “Sepuluh tahun lalu, ketika pergi ke Jalan Nanjing, orang-orang berdesakan. Sekarang jumlah pengunjung mungkin bahkan tidak mencapai sepersepuluh dari saat itu.”

Menurut rangkuman media Tiongkok, kelesuan di Shanghai disebabkan oleh berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan, termasuk penurunan jumlah penduduk dan perlambatan ekonomi.

Tingkat kelahiran di kota itu terus menurun, menyebabkan banyak taman kanak-kanak dan sekolah menghadapi penutupan atau penggabungan. Pada saat yang sama, banyak perusahaan gulung tikar. Bahkan sektor internet dan teknologi yang sebelumnya dikenal menawarkan gaji tinggi dan pekerjaan stabil kini mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.

Akibatnya, banyak anak muda dan pekerja pendatang memilih meninggalkan Shanghai. Selain itu, penurunan berkepanjangan di pasar properti telah menyebabkan nilai aset banyak keluarga menyusut secara signifikan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa persoalannya kini bukan lagi sekadar penurunan konsumsi masyarakat. Ketika pusat perbelanjaan kosong, toko-toko tutup, harga rumah jatuh, dan lapangan kerja menghilang, kepercayaan masyarakat terhadap masa depan juga terus merosot.

Semakin banyak warga biasa yang merasa putus asa menghadapi situasi ekonomi yang terus memburuk.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Sosok Moch. Afan Zulkarnain: Mengajar dengan Hati, Menginspirasi Generasi Digital

oleh: Sang Fajar Dunia pendidikan Indonesia terus berubah dengan cepat, terutama setelah pandemi COVID-19. Transformasi digital menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari, dan guru-guru di...

Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada Tubuh Kitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine