BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50% di Tengah Perang Timur Tengah, Ini Langkah-Langkahnya

Jakarta, 9 Juni 2026 – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%. Suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%.

Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Bank Indonesia menyebut gejolak global akibat perang di Timur Tengah yang terus berlanjut menjadi pemicu utama. Pelemahan nilai tukar Rupiah yang lebih dalam dari perkiraan, tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, serta aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia memaksa BI mengambil langkah pre-emptif.

Sasaran Ganda: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Terkendali

Gubernur BI menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah sekaligus menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 agar tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah. Dengan meningkatkan imbal hasil, BI berharap dapat menarik kembali aliran masuk investasi portofolio asing ke Tanah Air.

Langkah-Langkah Lanjutan yang Ditempuh BI

Tidak hanya menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia juga mengeluarkan serangkaian langkah penguatan stabilisasi nilai tukar:

  1. Kenaikan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan sesuai mekanisme pasar, agar investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain.
  2. Insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10%, untuk meningkatkan daya tarik serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.
  3. Pembukaan kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan, guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. BI menargetkan pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap double digit di atas 10%.
  4. Peningkatan intensitas operasi moneter, baik Rupiah maupun valuta asing. Lelang SRBI akan dibuka dua kali seminggu, sementara intervensi valas dilakukan melalui transaksi spot, DNDF di pasar domestik, dan NDF di pasar luar negeri.

Koordinasi Fiskal-Moneter Makin Diperkuat

Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan kebijakan fiskal Pemerintah. Seperti disampaikan dalam penjelasan bersama Menteri Keuangan dan Gubernur BI pada 6 Juni lalu, koordinasi ini dijalankan agar seirama saling mendukung dan saling memperkuat.

Dua poin utama dalam koordinasi tersebut: pertama, meningkatkan imbal hasil bagi masuknya aliran investasi portofolio asing pada SRBI dan SBN; kedua, menjaga kecukupan likuiditas dengan pengelolaan kas Pemerintah yang tetap berada di Bank Indonesia.

Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

BI meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi gejolak global. Dengan langkah-langkah ini, ketahanan eksternal ekonomi Indonesia diharapkan tetap terjaga, sasaran inflasi tercapai, dan stabilitas nilai tukar Rupiah dapat dipulihkan.

Masyarakat dan pelaku pasar diminta mencermati perkembangan ini, terutama bagi mereka yang memiliki eksposur terhadap valuta asing atau instrumen keuangan berbasis suku bunga.

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine