EtIndonesia.com Pertemuan Puncak Kelompok Tujuh Negara Industri Utama (G7) akan berlangsung dari Senin hingga Rabu (15–17 Juni) di Prancis. Menurut para pengamat, praktik perdagangan tidak adil dan dampak penumpukan barang yang dilakukan Tiongkok akan menjadi salah satu topik utama yang dibahas dalam pertemuan ini.
Pertemuan Puncak G7 tahun ini diadakan di kota kecil Évian-les-Bains, Prancis, yang terletak di tepi Danau Jenewa, pada 15 hingga 17 Juni.
Isu keamanan global, seperti situasi di Timur Tengah dan Ukraina, serta penguasaan sumber daya strategis, menjadi agenda prioritas utama tahun ini.
Namun, Profesor Hubungan Internasional Cédric Dupont dari Institut Hubungan Internasional Tingkat Lanjut Jenewa memperkirakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memanfaatkan pertemuan ini untuk menguji seberapa besar keinginan negara-negara mitra untuk mendukung posisi Amerika Serikat dalam persaingan dengan Tiongkok.
“Ia lebih berfokus untuk mengajak negara-negara ini mendukung agenda yang ia susun. Agendanya adalah menyeimbangkan pengaruh Tiongkok. Sebenarnya ia kurang menaruh perhatian pada Rusia; ia lebih memikirkan cara menandingi Tiongkok dan tetap mempertahankan posisi kepemimpinan, serta bagaimana negara-negara ini bisa membantunya dalam hal itu, atau membantu menekan Iran, atau keluar sepenuhnya dari masalah yang berbelit dengan Iran dan membuka kembali akses di Selat Hormuz,” katanya.
Perdagangan tidak adil yang dilakukan PKT, serta penguasaan pasokan bahan tambang langka yang sangat penting, menjadi isu utama yang tidak bisa diabaikan dalam pertemuan ini.
Sebagai tuan rumah, Presiden Prancis Emmanuel Macron secara khusus mengatur waktu agar para pemimpin negara dapat membahas cara menyeimbangkan kembali hubungan perdagangan dengan PKT. Mereka khawatir lonjakan ekspor mobil dan produk lain dari Tiongkok dapat merusak industri-industri di negara-negara anggota G7.
“Tujuan tersembunyi mereka adalah mencari cara untuk mengelola urusan dunia bersama-sama tanpa harus bergantung pada Tiongkok,” tambah Cédric Dupont.
Sementara itu, mulai Senin (15 Juni), pihak berwenang Prancis dan Swiss akan memberlakukan pembatasan perbatasan selama seminggu, mirip dengan aturan yang diterapkan saat masa pandemi. Di sisi lain, panitia penyelenggara khawatir akan terjadinya demonstrasi yang berujung pada kekerasan.
Laporan disusun ulang oleh Yan Feng dan Wang Yanqiao, wartawan NTDTV.


