EtIndonesia.com Pada 18 Juni, topik “popok mengandung racun” menjadi perbincangan teratas di media sosial Tiongkok Weibo setelah terungkap bahwa sejumlah merek popok bayi yang dijual di pasar Tiongkok mengandung formamida (甲醯胺/formamide), suatu zat kimia yang bersifat toksik.
Selain itu, zat tersebut juga terdeteksi dalam sampel darah dan urine beberapa bayi dan balita. Menurut laporan, paparan zat ini tidak hanya dapat memengaruhi fungsi hati dan ginjal, tetapi juga berpotensi mengganggu sistem reproduksi.
Keluhan konsumen memicu pengujian
Menurut laporan surat kabar Economic Information Daily (《經濟參考報》) di Tiongkok, belakangan ini sejumlah konsumen mengeluhkan bahwa setelah menggunakan popok dari beberapa merek tertentu, bayi mereka mengalami ruam popok berulang hingga luka pada kulit. Setelah penggunaan popok dihentikan, gejala tersebut dilaporkan berangsur membaik.
Untuk memverifikasi keluhan tersebut, media itu menugaskan sebuah lembaga pengujian profesional melakukan pemeriksaan acak terhadap beberapa merek popok bayi yang beredar di pasaran. Hasil pengujian menemukan adanya kandungan formamida pada sejumlah produk.
Formamida juga ditemukan pada sampel darah dan urine bayi
Lembaga pengujian tersebut juga memeriksa lebih dari seratus sampel darah dan urine bayi serta balita. Hasilnya menunjukkan adanya kandungan formamida dalam kadar yang dinilai berpotensi membahayakan kesehatan manusia.
Seorang pakar yang diwawancarai menjelaskan:
“Formamida adalah zat yang berasal dari luar tubuh dan tidak dapat diproduksi secara alami oleh manusia. Selain itu, zat ini dimetabolisme dengan relatif cepat. Jika ditemukan dalam konsentrasi seperti itu di dalam darah bayi, kemungkinan besar sumbernya berasal dari benda yang telah lama bersentuhan dengan tubuh bayi.”
Menurut para ahli, paparan formamida dalam jumlah kecil tetapi berlangsung terus-menerus dapat menumpuk di dalam tubuh, mengganggu fungsi hati dan ginjal, serta berpotensi mempengaruhi jumlah produksi sperma, sel telur, dan metabolisme hormon reproduksi.
Perbandingan dengan sampel orang dewasa
Sebagai pembanding, lembaga tersebut juga menguji sejumlah sampel darah orang dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa baik tingkat deteksi maupun kadar formamida pada orang dewasa jauh lebih rendah dibandingkan pada bayi dan balita.
Berdasarkan temuan tersebut, laporan menyimpulkan bahwa keberadaan formamida di dalam tubuh bayi kemungkinan memiliki hubungan erat dengan penggunaan popok.
Belum diatur dalam standar nasional
Artikel tersebut menyoroti bahwa Standar Nasional Tiongkok untuk Popok Bayi (GB/T 28004.1–2021) saat ini tidak memasukkan formamida sebagai parameter wajib yang harus diuji maupun menetapkan batas aman kandungannya.
Para pakar mendesak agar pemerintah segera:
- Melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap produk popok di seluruh industri.
- Memfokuskan investigasi pada keberadaan zat beracun seperti formamida.
- Merevisi standar nasional popok dengan memasukkan formamida dan zat berbahaya lainnya ke dalam daftar pemeriksaan wajib.
- Menetapkan batas keamanan yang jelas guna menutup celah pengawasan dan mencegah produk berbahaya terus digunakan oleh bayi.
Memicu kemarahan publik
Setelah kasus ini terungkap, banyak warganet Tiongkok menyampaikan kemarahan mereka di media sosial. Beberapa komentar yang dikutip antara lain:
- “Ini barang yang dipakai bayi… apakah mereka sudah gila?”
- “Siapa yang masih berani punya anak?”
- “Pembalut wanita dan popok sama-sama menyangkut generasi berikutnya. Siapa yang begitu tidak bermoral? Di mana pengawasnya? Sudah berapa lama produk beracun seperti ini beredar?”
- “Benar-benar tidak tahu apa yang dikerjakan instansi terkait. Susu formula bermasalah, sekarang popok juga bermasalah.”
- “Lolos dari skandal susu beracun, ternyata tidak lolos dari popok beracun. Para pelaku usaha ini benar-benar tidak punya hati nurani.”
- “Setiap hari pemerintah mendorong angka kelahiran, tetapi produk untuk bayi justru tidak memenuhi standar kualitas. Di satu sisi ingin orang punya anak, di sisi lain produk untuk bayi malah membahayakan mereka.”
- “Masih ada berapa banyak hal yang belum kita ketahui? Bahkan generasi berikutnya pun tidak luput. Bagaimana mungkin berbicara tentang tingkat kelahiran dan masa depan jika masalah seperti ini terus terjadi?”
Artikel tersebut mencerminkan hasil pengujian dan pandangan yang dilaporkan oleh media yang dikutip. Klaim mengenai hubungan sebab akibat antara penggunaan popok dan dampak kesehatan masih memerlukan evaluasi ilmiah dan penilaian lebih lanjut oleh otoritas terkait.
Sumber : NTDTV.com


