EtIndonesia.com Perkembangan terbaru mengenai nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani memorandum gencatan senjata, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa delegasi Amerika akan berangkat ke Lucerne, Swiss, untuk menghadiri upacara penandatanganan resmi yang dijadwalkan berlangsung pukul 07.00 waktu setempat.
Pada hari yang sama di Gedung Putih, Wakil Presiden AS J.D. Vance menjelaskan berbagai isu terkait pemberlakuan memorandum tersebut. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat telah memulai masa evaluasi selama 60 hari terhadap pelaksanaan komitmen Iran.
Trump dan Presiden Iran Menandatangani Nota Kesepahaman
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman yang mengumumkan dimulainya gencatan senjata antara kedua negara.
Menurut laporan tersebut, Trump yang sedang berada di Istana Versailles, Prancis, menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan menyelesaikan proses penandatanganan dengan membubuhkan tanda tangan khasnya pada dokumen bersejarah tersebut.
Dengan mulai berlakunya kesepakatan ini, kedua pihak berjanji untuk mengakhiri seluruh konflik di berbagai medan, mencabut blokade militer, serta membuka kembali jalur energi global melalui Selat Hormuz.
Trump kemudian menulis di platform Truth Social: “Minyak kembali mengalir tanpa henti. Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir (dunia akan menjadi lebih aman!). Tidak perlu berterima kasih!”
Dalam unggahan berikutnya, ia kembali menegaskan bahwa: “Amerika Serikat berkomitmen pada perdamaian.”
Trump juga mendorong seluruh pihak di Timur Tengah agar tetap memegang komitmen mereka demi kelancaran proses negosiasi, dengan harapan tercapainya gencatan senjata menyeluruh di berbagai front, termasuk yang melibatkan Lebanon, Hizbullah, dan Israel.
Media pemerintah Iran, IRNA, kemudian merilis foto Presiden Iran yang sedang menandatangani perjanjian tersebut, sekaligus memperlihatkan halaman dokumen yang memuat tanda tangan Pezeshkian dan Trump.
AS Memulai Masa Evaluasi 60 Hari
Wakil Presiden J.D. Vance mengatakan: “Perjanjian ini mulai berlaku kemarin, dan hari ini kami memulai hitung mundur selama 60 hari.”
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa atas instruksi presiden, militer AS telah mencabut seluruh blokade lalu lintas laut menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan Iran beserta wilayah pesisirnya.
Meski demikian, kapal-kapal utama Angkatan Laut AS akan tetap berada di kawasan sekitar untuk memastikan Iran mematuhi, melaksanakan, dan menjalankan seluruh ketentuan dalam perjanjian tersebut.
Vance menjelaskan: “Kami mengatakan bahwa kami akan mencabut blokade dan mengizinkan Iran menjual sebagian minyaknya, sementara mereka akan membuka kembali Selat Hormuz. Kami melihat proses itu sudah mulai berjalan, meskipun pemulihan penuh masih membutuhkan waktu.”
Kapal Tanker Mulai Melintasi Selat Hormuz
Menurut data pelacakan kapal, hanya beberapa jam setelah penandatanganan perjanjian, tiga kapal tanker super berbendera Arab Saudi yang membawa sekitar enam juta barel minyak mentah berhasil melintasi Selat Hormuz.
Namun demikian, Vance menegaskan bahwa Washington akan terus memantau perilaku Iran secara ketat.
Ia mengatakan: “Kami akan melihat tindakan mereka. Apakah mereka masih mendanai terorisme? Apakah mereka memicu serangan terhadap pihak lain? Apakah mereka berusaha memperoleh sentrifugal untuk menghidupkan kembali program senjata nuklir mereka? Apakah mereka benar-benar mengizinkan para inspektur masuk seperti yang dijanjikan, atau justru menolaknya? Semua pertanyaan itu akan kami nilai. Jika mereka tidak berubah, kami masih memiliki seluruh kartu di tangan kami.”
Dana Iran dan Rekonstruksi Tetap Diawasi
Vance juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mencairkan aset Iran yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar sebelum Teheran benar-benar memenuhi seluruh komitmennya.
Ia membantah rumor bahwa Qatar telah menyalurkan dana secara sepihak kepada Iran. Selain itu, ia menjelaskan bahwa dana rekonstruksi senilai sekitar 300 miliar dolar AS akan disalurkan melalui investasi negara-negara Teluk sebagai bentuk keterikatan ekonomi yang diharapkan dapat menjadi instrumen untuk menekan Iran sekaligus menjaga stabilitas kawasan.
Vance menambahkan bahwa ia kemungkinan akan berkunjung ke Swiss pada akhir pekan ini untuk membahas rincian tahap berikutnya dari implementasi perjanjian tersebut.
Trump: AS Terus Mengawasi Iran
Sebelumnya, Presiden Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika kemungkinan akan tetap berada di sekitar Teluk Oman dan Selat Hormuz. Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan pemantauan terhadap fasilitas nuklir Iran yang hampir berlangsung selama 24 jam penuh.
Trump mengatakan: “Sistem pengawasan luar angkasa kami mengawasi setiap pintu. Bahkan setiap sudut di kawasan itu. Jika seseorang masuk dengan mengenakan kartu identitas bertuliskan namanya, kami dapat mengenali nama tersebut dan bahkan membaca nomor seri pada kartu identitasnya. Kami siap memulai kembali operasi kapan saja. Teknologi yang kami miliki memang secanggih itu.”
Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, juga menyatakan: “Presiden telah menegaskan bahwa apabila Iran gagal memenuhi komitmennya sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam perundingan ini, kami siap memulai kembali operasi. Departemen Perang telah siap dan dapat melanjutkan tindakan kapan pun diperlukan.”
Laporan disusun berdasarkan pemberitaan NTD Television oleh Wang Ziyi.


