EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (20/6/2026) dalam sebuah wawancara menegaskan bahwa melalui nota kesepahaman (memorandum of understanding) antara Amerika Serikat dan Iran, dunia telah berhasil terhindar dari ancaman depresi ekonomi global. Ia juga menanggapi kritik yang menuduhnya bersikap terlalu lunak dengan menegaskan bahwa harga minyak kini turun tajam dan pasar saham mencapai rekor tertinggi, yang menurutnya membuktikan bahwa keputusan yang diambilnya sudah tepat.
Dalam wawancara dengan media Axios, Presiden Trump mengatakan bahwa kesepakatan dengan Iran tidak hanya mengakhiri perang, tetapi juga berhasil mencegah dunia jatuh ke dalam depresi ekonomi.
“Ada orang-orang yang mengatakan mungkin saya tidak cukup tegas. Saya telah melumpuhkan Iran. Saya menghancurkan jembatan terbesar mereka. Setelah itu mereka mengatakan dalam perundingan bahwa mereka sangat tidak puas karena kami mengebom jembatan itu—saya menganggapnya seperti Jembatan George Washington mereka. Saya menghancurkannya hanya dalam tiga menit. Saya juga menguasai Pulau Khark dan menghancurkan hampir semua yang ada di sana. Namun saya berkata, jangan sentuh pipa-pipa minyak itu, karena saya tidak ingin merusak ekonomi dunia. Jadi menurut saya tindakan kami sangat tegas,” ujarnya.
Menanggapi kritik dari kalangan yang lebih keras, Trump mengatakan bahwa selama pengeboman masih berlangsung, Selat Hormuz secara otomatis akan tetap tertutup, yang berpotensi memicu depresi ekonomi berskala global.
Dalam unggahan sebelumnya di media sosial, Trump menyatakan tidak terlalu memedulikan tuduhan bahwa dirinya “lemah”. Ia menegaskan bahwa pasar saham Amerika Serikat kini mencetak rekor tertinggi dan harga minyak turun drastis, yang menurutnya menjadi bukti bahwa kebijakannya benar.
Selama wawancara tersebut, Trump juga menyinggung nasib Israel. Ia mengatakan bahwa seandainya bukan karena dirinya menghentikan perjanjian nuklir Iran yang dibuat pada masa pemerintahan Obama, maka Israel “tidak akan ada lagi saat ini.”
Sebelumnya, Wakil Presiden JD Vance memperingatkan dengan keras para anggota kabinet Israel yang mengkritik kesepakatan AS-Iran. Ia menyatakan bahwa Trump adalah satu-satunya sekutu terkuat Israel, bahkan menyebut sekitar dua pertiga persenjataan pertahanan yang diterima Israel dalam tiga bulan terakhir diproduksi dan dibiayai oleh Amerika Serikat. Vance meminta para penentang memahami kondisi Israel saat ini.
Menurut laporan Fox News, seorang pejabat senior Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon telah mulai berlaku.
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, pada hari Jumat menulis di platform X bahwa Israel “berkomitmen penuh untuk segera melaksanakan gencatan senjata.”
Ia menuliskan:”Pagi ini pukul 11.30, Israel menghentikan seluruh operasi ofensif.”
Ia juga membantah klaim Hizbullah yang menyatakan telah menjadi sasaran serangan, serta menegaskan bahwa selama Hizbullah mematuhi perjanjian dan menghentikan aksi permusuhan, situasi akan tetap tenang.
Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa meskipun ada pembatasan akibat gencatan senjata, mereka akan tetap mengambil tindakan apabila menghadapi ancaman dari Hizbullah.
Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Defrin, mengatakan: “Selama warga Israel di wilayah utara masih menghadapi ancaman, kami akan mempertahankan posisi pertahanan di garis depan. Selama Hizbullah masih menjadi ancaman, kami akan terus mempertahankan penempatan pasukan di garis depan.”
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa putaran pembicaraan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 23–25 Juni di Washington.
Sementara itu, Reuters, mengutip delapan sumber dari Irak, melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah membentuk sebuah “kelompok rahasia baru” di wilayah Irak.
Menurut laporan tersebut, organisasi misterius ini terdiri atas tiga hingga empat “tim elit”, yang sebagian besar anggotanya berasal dari Islamic Resistance in Iraq dan melapor langsung kepada Garda Revolusi Iran. Antara 20 April hingga 17 Mei tahun ini, mereka diduga telah melancarkan sedikitnya tujuh serangan pesawat nirawak terhadap sasaran di Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Para analis menilai bahwa akibat tekanan sanksi ekonomi Amerika Serikat, kondisi keuangan Iran menjadi semakin sulit sehingga negara itu terpaksa merampingkan sumber dayanya. Dalam situasi tersebut, kelompok-kelompok kecil yang fanatik, sangat tertutup, dan dikendalikan secara ketat dianggap sebagai produk dari dinamika baru yang sedang berkembang. (***)
oleh wartawan NTD Television, Wang Ziyi


