Akhir pekan lalu, film dokumenter peraih berbagai penghargaan “State Organs” yang mengungkap dugaan praktik pengambilan organ tubuh manusia secara sistematis dan rahasia oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), ditayangkan perdana di Jerman. Sejumlah penonton menyatakan bahwa negara-negara demokrasi seharusnya mengambil lebih banyak tindakan untuk membela hak asasi manusia.
EtIndonesia.com Pada 28 Juni 2026, organisasi Doctors Against Forced Organ Harvesting (DAFOH) menyelenggarakan pemutaran perdana versi berbahasa Jerman dari film dokumenter State Organs. Acara tersebut dihadiri oleh kepala distrik dan wakil wali kota setempat yang turut memberikan sambutan.
“Bagi saya, apa yang dilakukan (oleh PKT) benar-benar sulit dibayangkan. Karena itu, kita tidak boleh menutup mata. Kita harus memikul tanggung jawab dan berbicara bagi mereka yang tidak dapat menyuarakan penderitaannya,” kata Bodo Klimpel, Kepala Distrik Recklinghausen.
Claudia Schweppe, Wakil Wali Kota Recklinghausen, mengatakan: “Bahkan di Eropa dan juga di Jerman terdapat sejumlah kasus, struktur organisasi, serta area abu-abu yang menunjukkan bahwa persoalan ini sebenarnya jauh lebih dekat dengan kita daripada yang kita bayangkan.”
Max Lucks, anggota parlemen federal Jerman, menyatakan: “Ini benar-benar merupakan sebuah skandal hak asasi manusia yang sangat serius. Tentu saja kita memiliki standar moral sendiri, seperti yang telah Anda tekankan sebelumnya. Namun hal itu juga berarti kita memiliki kewajiban internasional. Saya yakin perlu diambil tindakan nyata, misalnya memberikan tekanan kepada negara seperti Tiongkok (di bawah PKT).”
Film dokumenter “State Organs”, yang telah memenangkan sekitar 50 penghargaan internasional, mengisahkan dua praktisi muda Falun Gong yang ditangkap secara ilegal oleh polisi PKT lalu menghilang.
Dalam proses panjang pencarian oleh keluarga mereka, perlahan-lahan terungkap dugaan adanya jaringan industri pengambilan organ yang dikendalikan oleh rezim otoriter.
Seorang pensiunan pegawai negeri, Karin Weis, mengatakan: “Saya sama sekali tidak menyangka bahwa praktik seperti ini (rantai industri pengambilan organ) justru mendapat dukungan dari otoritas PKT. Sebelumnya saya benar-benar tidak mengetahui hal ini. Terus terang, ini sangat mengejutkan.”
Konsultan perusahaan Felix Mandel mengatakan: “Bayangkan jika kita bertindak seperti rezim PKT. Apakah kita akan menerobos masuk ke tempat latihan yoga, menangkap para peserta dengan kekerasan, menyiksa dan menembak mereka, lalu mengambil organ tubuh mereka?”
Ia menambahkan:”Kita tidak boleh menyakiti siapa pun, dan tidak boleh merampas kebebasan, martabat, maupun hak setiap orang untuk menentukan nasibnya sendiri.”
Pihak penyelenggara menyatakan bahwa dari sudut pandang dunia medis, penyalahgunaan pengetahuan profesional untuk menganiaya manusia merupakan sebuah bencana.
Perwakilan Doctors Against Forced Organ Harvesting (DAFOH), Andreas Weber, mengatakan:”Sebagai negara-negara berdaulat di luar Tiongkok, satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah bersatu dan menetapkan undang-undang yang melarang perdagangan organ serta menjadikannya sebagai tindak pidana. Terutama, melarang praktik perantara atau broker dalam perdagangan organ.”
Laporan oleh Guo Yuexi, Zheng Tong, dan Wang Yixiao, wartawan New Tang Dynasty Television (NTD) dari Jerman.


