Nasib Tragis Pemilik Toko di Xi’an SEG Tiongkok, Rekan Pedagang Ungkap Dugaan Latar Belakang Kasus yang Menjeratnya

EtIndonesia.com Pada 1 Juli siang, Yan Peng, pemilik sejumlah toko di SEG International Shopping Center (Xi’an SEG), Xi’an, meninggal dunia setelah melompat dari gedung pusat perbelanjaan tersebut. Peristiwa ini memicu perhatian luas di media sosial Tiongkok. 

Seorang pedagang yang mengaku mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sengketa antara Yan Peng dan manajemen mal telah berlangsung selama empat tahun. Menurutnya, denda lebih dari 11 juta yuan yang dikenakan kepada Yan Peng, ditambah keputusan mal yang meminta seluruh tokonya ditutup tahun ini, diduga menjadi faktor yang mendorongnya ke jalan buntu.

Informasi terbaru menyebutkan bahwa pada masa kejayaannya Yan Peng pernah memiliki sekitar 500 gerai, dan hingga sebelum meninggal masih mengelola sekitar 300 gerai.

Rekan Pedagang: Hanya Yan Peng yang Dikenai Denda Besar

Sekitar pukul 12.10 siang pada 1 Juli, Yan Peng, penanggung jawab Shaanxi Lihe Trading Co., Ltd., meninggal setelah melompat dari gedung. Banyak karyawan, mantan karyawan, dan teman-temannya kemudian menyampaikan belasungkawa melalui media sosial. Perusahaannya diketahui merupakan agen penjualan berbagai merek pakaian olahraga.

Wartawan media Tiongkok Shangyou News, berdasarkan informasi dari keluarga, mendatangi dua toko yang sebelumnya disewa Yan Peng di lantai bawah tanah dan lantai lima pusat perbelanjaan tersebut. Toko di lantai lima telah dibongkar, sedangkan toko di lantai bawah tanah telah digantikan oleh merek olahraga lain. Seorang pegawai mengatakan bahwa toko baru itu mulai beroperasi pada 2 Juli dan barang-barangnya baru saja tiba.

Pada 2 Juli, seorang pedagang yang mengaku mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada The Epoch Times bahwa Yan Peng merupakan salah satu penyewa terbesar di Xi’an SEG. Ia mengelola beberapa toko yang menjual merek-merek terkenal dan setiap tahun menghasilkan omzet lebih dari 100 juta yuan bagi pusat perbelanjaan. Namun, pembayaran hasil penjualan langsung masuk ke rekening pihak mal.

Menurut sumber tersebut, sekitar empat tahun lalu saat pusat perbelanjaan mengadakan promosi ulang tahun, diberikan kupon belanja kepada konsumen. Demi meningkatkan penjualan, hampir semua toko membagi penggunaan kupon itu.

Sebagai contoh, kupon diskon 200 yuan untuk pembelanjaan minimal 1.200 yuan dipecah menjadi potongan 100 yuan untuk pembelian 600 yuan. Praktik tersebut, menurut sumber itu, dilakukan hampir seluruh pedagang dan selama itu dianggap lumrah oleh manajemen.

Namun, ia mengklaim hanya Yan Peng yang kemudian dianggap melanggar aturan dan dikenai denda lebih dari 11 juta yuan.

“Lebih dari 11 juta yuan itu jumlah yang sangat besar. Ia masih harus menggaji banyak karyawan dan membayar pemasok. Dana usahanya akhirnya macet sehingga perputaran modal terhenti. Masalah empat tahun lalu itu tidak pernah benar-benar diselesaikan. Tahun ini pihak mal juga ingin menutup seluruh tokonya. Itu membuatnya benar-benar kehilangan jalan keluar,” ujar sumber tersebut.

Surat yang Beredar di Internet

Tangkapan layar yang beredar di internet memperlihatkan sebuah surat yang disebut ditulis Yan Peng kepada Ketua Xi’an SEG, Zhao Gui, sebelum meninggal dunia.

Dalam surat itu disebutkan bahwa empat tahun lalu pegawainya membagi penggunaan kupon belanja agar penjualan meningkat. Praktik tersebut, menurut Yan, selama ini juga diketahui bahkan dibiarkan oleh pihak manajemen.

Meski demikian, ia tetap dikenai denda sebesar 11,456 juta yuan, yang menyebabkan pembayaran hasil penjualan tertunda selama berbulan-bulan dan membuat perusahaannya kesulitan memperoleh stok barang baru.

“SEG sebenarnya tidak memiliki kewenangan hukum untuk menjatuhkan denda sebesar itu. Tetapi mereka begitu saja memutuskan denda 11,456 juta yuan tanpa dasar hukum yang jelas. Ini tidak adil dan tidak sesuai hukum. Tuan Zhao, saya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan ini. Masalah ini terus membebani hati saya. Berkali-kali saya ingin mati di SEG. Apakah SEG baru akan menyelesaikan persoalan ini setelah benar-benar memaksa seseorang sampai mati?” kata Yan Peng. 

Disebut Mengalami Depresi Berat

Pedagang yang sama mengatakan bahwa hampir semua toko menggunakan metode pembagian kupon saat promosi, tetapi hanya Yan Peng yang menerima hukuman besar.

Menurutnya, selama empat tahun pihak mal menahan pembayaran lebih dari 11 juta yuan, sementara Yan Peng harus meminjam uang, bahkan disebut meminjam dengan bunga tinggi, demi membayar gaji karyawan. Ia juga harus menghadapi beban sewa yang tinggi dan tekanan pembayaran utang sehingga akhirnya mengalami depresi berat.

Sumber tersebut menambahkan bahwa Xi’an SEG kini ingin mengelola toko-toko secara langsung sehingga meminta Yan Peng mengosongkan seluruh gerainya tanpa diberi kesempatan menjual stok barang.

Pada 1 Juli, Yan Peng disebut datang untuk bernegosiasi mengenai rencana tersebut, tetapi tidak mencapai kesepakatan.

Demi membayar gaji karyawan, ia dikabarkan menjual salah satu merek yang diageninya. Setelah kontrak penjualan selesai ditandatangani, ia memerintahkan seluruh tokonya untuk melunasi gaji para pegawai terlebih dahulu. Setelah mengunggah pesan terakhir di media sosial, ia memilih melompat dari bagian gedung yang berada di atas taman batu buatan yang relatif sepi.

Sumber tersebut menggambarkan Yan Peng sebagai seorang atasan yang bertanggung jawab dan sangat memikirkan kesejahteraan karyawannya.

Ia juga mengklaim bahwa jenazah Yan Peng telah dipindahkan oleh petugas pusat perbelanjaan sebelum polisi tiba di lokasi.

“Sekitar satu jam setelah kejadian semuanya sudah dibersihkan, lalu pusat perbelanjaan kembali beroperasi seperti biasa,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pada hari itu ia tidak lagi memiliki semangat untuk berjualan. Menurutnya, sejumlah video mengenai peristiwa tersebut yang sempat memperoleh banyak perhatian di media sosial kemudian dihapus.

Dari 500 Gerai Menjadi 300 Gerai

Data aplikasi Qichacha menunjukkan bahwa Shaanxi Lihe Trading Co., Ltd. didirikan pada September 2005 dengan Yan Peng sebagai perwakilan hukum. Perusahaan itu bergerak di bidang grosir pakaian, produksi pakaian, pengelolaan merek, serta penjualan berbagai produk.

Seorang teman Yan Peng bermarga Zhang mengatakan kepada Xiaoxiang Morning News bahwa mereka telah saling mengenal sejak 1984.

Pada 1989, Yan Peng mulai berwirausaha dengan membuka toko kecil di Xi’an yang menjual kaset, radio, dan peralatan elektronik rumah tangga. Beberapa tahun kemudian ia beralih menjual pakaian bersama pemilik toko di sebelahnya.

Usahanya berkembang pesat hingga pada masa terbaik memiliki sekitar 500 gerai di Provinsi Shaanxi.

Namun dalam beberapa tahun terakhir bisnisnya mulai menurun. Demi mempertahankan pembayaran gaji pegawai, ia menjual sebagian tokonya sehingga sebelum meninggal hanya tersisa sekitar 300 gerai.

Menurut Zhang, Yan Peng dulunya dikenal sebagai pribadi yang ceria dan sangat menghargai persahabatan. Setelah bisnisnya sukses, setiap tahun ia mengundang teman-temannya berkumpul di Xi’an.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, teman-temannya mulai menyadari gejala depresi yang dialaminya. Ia sering mengunggah renungan tentang kehidupan pada dini hari dan mengirim pesan kepada teman-temannya agar “tetap hidup dengan baik.”

Pada malam 1 Juli, Zhang mengetahui kabar kematian Yan Peng melalui internet dan mengaku tidak bisa tidur semalaman. Ia juga mengetahui bahwa sejumlah sahabat telah mendatangi rumah keluarga Yan Peng untuk mendampingi mereka dan membantu mengurus pemakaman.

Perhatian Publik Terus Berlanjut

Kematian Yan Peng terus menjadi perbincangan di media sosial Tiongkok.

Seorang blogger pengasuhan anak dengan nama akun “Daxi Sisters Daily” menulis bahwa perjalanan Yan Peng dari pemilik 500 gerai hingga akhirnya mengakhiri hidupnya merupakan kisah yang sangat menyedihkan.

Menurut unggahan tersebut, Yan Peng pernah menjadi salah satu tokoh terbesar dalam industri pakaian olahraga di Shaanxi, dengan penjualan tahunan mencapai sekitar 850 juta yuan.

Unggahan itu mempertanyakan apakah denda lebih dari 11 juta yuan yang dijatuhkan atas praktik pembagian kupon empat tahun lalu terlalu berat, terutama ketika kondisi usaha sedang sulit dan perusahaan harus menjual aset serta menggadaikan saham demi memperoleh modal kerja.

Blogger tersebut menulis bahwa aturan bisnis memang penting, tetapi apabila praktik yang sebelumnya dianggap lazim tiba-tiba dijadikan dasar pemberian hukuman besar hingga menghancurkan arus kas perusahaan, maka kondisi itu layak dipertanyakan.

Menurutnya, tragedi tersebut bukan sekadar kematian seorang pengusaha, melainkan juga mencerminkan perjuangan banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang harus bertahan di tengah aturan yang ditetapkan perusahaan-perusahaan besar.

Sementara itu, pengelola akun media sosial “Firefly Online” menilai bahwa tragedi ini menunjukkan lemahnya posisi pedagang kecil di hadapan pusat perbelanjaan besar. Ia berharap tim investigasi gabungan yang telah dibentuk pemerintah dapat melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan adil.

Artikel ini sebelumnya terbit di Epoch Times edisi bahasa mandarin

INSPIRASI ERABARU

Cara Memaksimalkan Liburan Anda

Liburan terbaik adalah liburan yang memberi Anda kenangan bahagia yang bertahan lama, meskipun diwarnai berbagai tantangan. Oleh Mike Donghia Liburan biasanya tidak datang sesering yang kita...

Ketahui Jalan Kehidupan yang Dapat Menyelamatkan Anda dari Kesalahan yang Memakan Waktu Puluhan Tahun

Sebagian besar jalan memutar dalam hidup bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, melainkan oleh kesalahan penilaian kecil yang dilakukan berulang kali.  Apa yang akan dibahas berikut...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine