Pada awal Juli, banyak wilayah di Guangxi dilanda hujan deras yang terus-menerus. Tanggul Waduk Liulan di Kota Hengzhou jebol, mengakibatkan beberapa desa di hilir tersapu banjir bandang. Warga setempat menyatakan bahwa keterlambatan pelepasan air dari Waduk Liulan menjadi penyebab jebolnya tanggul, sehingga bencana ini merupakan kelalaian manusia (man-made disaster) yang sebenarnya bisa dihindari.
Beberapa korban yang diwawancarai menggambarkan kondisi daerah bencana saat ini hancur lebur bak “hari kiamat”. Hingga kini, masih ada desa-desa yang akses transportasinya terputus dan kehilangan kontak dengan dunia luar.
EtIndonesia.com Akibat dampak dari Topan “Maysak”, sejak 4 Juli, banyak wilayah di Guangxi diguyur hujan badai yang sangat ekstrem. Mulai 6 Juli, sedikitnya 15 waduk, termasuk Waduk Liulan di Kota Hengzhou, jebol secara berurutan. Akibatnya, banyak kota dan desa di bagian hilir seketika tenggelam oleh banjir bandang.
Warga desa setempat mengungkapkan bahwa bencana ini murni akibat ulah manusia. Waduk Liulan dikontrakkan oleh pemerintah kepada pihak swasta untuk budidaya ikan. Pemilik usaha tersebut khawatir pelepasan air waduk akan menghanyutkan ikan-ikannya, sehingga tidak membuka pintu air tepat waktu, yang akhirnya menyebabkan tanggul waduk jebol.
Chen Jiawei (nama samaran), seorang warga Desa Liulan, Kota Hengzhou, menuturkan: “Pintu air itu tampaknya patah saat ditarik ke atas, lalu terhempas kembali ke dasar. Jika saja ada pelepasan air pada tanggal 5 Juli, air seharusnya tidak sampai meluap melampaui puncak tanggul.”
Pada 6 Juli pagi, Chen Jiawei masih tertidur lelap ketika ia dikejutkan oleh panggilan telepon. Ia segera membangunkan adik perempuannya, dan keduanya yang masih mengenakan baju tidur langsung berlari kencang menuju ke arah gunung.
“Saat itu kami tidak berani membawa barang apapun karena banjirnya sangat besar. Begitu kami berhasil naik ke atas, banjir langsung menerjang di bawah kami, mengejar tepat di belakang kami. Desa kami cukup besar, dan sebagian orang tidak sempat berlari ke arah gunung,” katanya.
Dari desa Chen Jiawei, hanya ada “seribuan orang” yang berhasil menyelamatkan diri ke atas gunung. Ia mengenang betapa mengerikannya kekuatan banjir tersebut, yang tidak hanya membengkokkan struktur baja, tetapi juga mencabut pohon-pohon besar setinggi belasan meter hingga ke akar-akarnya.
Chen Jiawei: “Begitu pintu air jebol dan air menerjang, tidak ada waktu untuk bereaksi. Desa yang paling dekat di bawah waduk adalah Dutian, baru kemudian desa kami, Liulan. Desa Dutian pada dasarnya rata dengan tanah. Sekarang masih ada satu desa lagi di bagian atas yang jalan pegunungannya terputus, sehingga mereka tidak bisa keluar. Saat ini pengiriman barang-barang ke sana harus menggunakan drone.”
Ibu Sun, seorang warga Desa Yabei di Kota Praja Yunbiao, menyatakan bahwa pada tanggal 6 Juli sekitar pukul 5 pagi, ia membawa ketiga anaknya melarikan diri dengan tergesa-gesa ke atas gunung. Jika terlambat melangkah satu saja, akibatnya tidak akan terbayangkan. Paman dan bibinya hanyut terbawa banjir, dan seluruh desa mereka juga hancur.
Ibu Sun, korban bencana dari Desa Yabei, Kota Praja Yunbiao: “Masih hidup saja sudah untung. Malam saat kami melarikan diri ke gunung itu benar-benar menyedihkan! Karena hujan terus turun, anak-anak ingin tidur tetapi tidak ada tempat untuk duduk maupun berbaring. Saya tidak menyikat gigi selama 10 hari, tidak mencuci rambut selama beberapa hari. Tidak ada air, tidak ada listrik, jalanan terputus, dan jaringan internet mati, sehingga sangat sulit untuk menghubungi siapa pun.”
Ibu Sun menceritakan bahwa pada 7 Juli pagi, saat mereka berjalan turun gunung, mereka melihat desa-desa di sepanjang jalan hampir seluruhnya terendam banjir. Banjir tersebut juga menghanyutkan dan mengeluarkan banyak ular. Sejak bencana itu hingga sekarang, ia terus-menerus mengalami mimpi buruk dan kesulitan tidur.
Ibu Sun: “Saya belum pernah menyisir rambut, mencuci muka, ataupun bercermin sejak tanggal 6 Juli. Pada hari-hari pertama setelah berhasil keluar, ketika keluarga menelepon, saya terus menangis di sana dan tidak bisa berkata-kata, otak saya kosong sama sekali. Mobil sudah tidak ada, semuanya hilang, bahkan tanah tempat rumah kami berdiri pun sudah tidak dapat ditemukan lagi.”
Beberapa petugas penyelamat sipil juga menggambarkan kepada jurnalis NTD betapa hancurnya seluruh wilayah Kota Praja Yunbiao setelah banjir surut, yang digambarkan bak “hari kiamat”.
Yang, seorang sukarelawan dari Hengzhou: “Ini adalah salah satu sudut Kota Praja Yunbiao, bahkan tiang listrik beserta fondasi betonnya tersapu hingga beberapa ratus meter jauhnya. Ini belum selesai dibersihkan, masih ada tumpukan besar yang tidak mungkin habis dibersihkan tanpa bantuan alat berat!”
Zhang Jian (nama samaran), seorang sukarelawan penyelamat sipil, mengungkapkan bahwa 90% dari desa-desa yang ia kunjungi kondisinya sangat mengenaskan.
Zhang Jian, sukarelawan penyelamat sipil: “Saya sudah pergi ke banyak tempat, pemandangannya seperti hari kiamat dunia, sangat mencekam dan membuat merinding saat melihatnya. Ada bangkai sapi dan babi berukuran besar tergeletak mati di jalanan. Mengenai korban jiwa, saya tidak akan membicarakannya.”
Zhang Jian menjelaskan bahwa Kota Praja Yunbiao berada di wilayah dataran rendah, sehingga banjirnya bisa menyebar; sedangkan banjir di wilayah pegunungan mengalir deras melalui lembah-lembah dengan daya rusak yang jauh melampaui wilayah dataran rendah.
“Di daerah Zhenlongjiang terdapat banyak gunung yang semuanya mengalami tanah longsor. Pada tepi aliran sungai, kami mengukur dengan jelas bahwa air yang menerjang turun setinggi 8, 9, hingga 15 meter. Debit air banjir bandang dari gunung itu sangat luar biasa besar. Banjir terus menerjang hingga menghancurkan jalan dan merusak apa saja yang dilewatinya,” katanya.
Zhang Jian mengungkapkan bahwa krisis kehidupan yang dihadapi para korban juga sangat diremehkan, di mana 95% desa tidak memiliki air minum. Warga terpaksa menggunakan air sungai untuk bertahan hidup, padahal di sungai tersebut mengapung bangkai-bangkai hewan seperti babi dan ayam mati, yang menimbulkan risiko sanitasi dan kesehatan yang sangat serius.
“Area yang terdampak bencana kali ini sangat luas. Hal tersulit bagi kami adalah menyalurkan bantuan logistik, karena pemerintah menahan barang-barang tersebut dan tidak mengizinkan kami membagikannya. Semua mobil off-road milik sukarelawan menunggu di sana tetapi tidak bisa membagikan bantuan kepada mereka. Ketika warga desa datang untuk mengambil bantuan, mereka justru diusir,” ujarnya.
Otoritas setempat melaporkan bahwa bencana banjir ini menyebabkan 39 orang tewas dan 9 orang hilang. Namun, banyak korban bencana mengatakan bahwa jumlah korban tewas yang sebenarnya setidaknya mencapai “empat digit” (ribuan orang), karena banyak desa yang rata dengan tanah dan seluruh penduduk desa tersebut lenyap.
Saat ini, beberapa desa masih mengalami pemutusan akses transportasi dan komunikasi, sehingga sulit bagi dunia luar untuk mengetahui kondisi nyata para korban di sana.
Editor: Li Yun / Reporter: Gu Xiaohua, Xiong Bin /: Zhong Yuan


