EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ultimatum terakhir kepada Iran. Ia mengatakan bahwa meskipun masih bersedia memberikan satu kesempatan terakhir kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan, Amerika Serikat akan melaksanakan “operasi pemenggalan kepemimpinan” (decapitation strike) apabila perundingan gagal.
Di tengah tekanan dari Amerika Serikat, konflik internal di Iran juga disebut semakin memanas. Sebuah lembaga kajian melaporkan bahwa Mujtaba Khamenei, yang disebut sebagai tokoh berpengaruh di lingkaran kepemimpinan Iran, telah mengambil langkah terhadap Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Langkah tersebut dinilai bertujuan mencegah arah kebijakan pemerintah Iran bergeser ke arah yang lebih mendekati Amerika Serikat.
“Saya ingin memberi mereka (Iran) satu kesempatan terakhir sebelum mengambil tindakan pemenggalan kepemimpinan. Rencana kami sangat tegas dan siap dijalankan kapan saja. Kita lihat saja nanti,” katanya.
Trump menegaskan bahwa Iran kini memiliki kesempatan terakhir untuk mencapai kesepakatan. Jika gagal, Amerika Serikat akan melaksanakan operasi tersebut. Ia juga mengungkapkan bahwa setelah mengetahui rencana militer AS, pejabat Iran menghubungi Washington dan meminta agar dilakukan dialog.
“Dialog ini dilakukan atas permintaan Iran, dan juga mendapat dukungan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, serta banyak negara lainnya yang turut menghubungi kami,” katanya.
Selama pernyataannya, Trump berulang kali menekankan istilah “last chance” (kesempatan terakhir). Menurutnya, apabila kesempatan itu dapat menyelamatkan banyak nyawa, ia bersedia memberikannya.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis rekaman terbaru yang memperlihatkan sebuah pesawat tempur siluman F-22 Raptor menerima pengisian bahan bakar di udara saat menjalankan misi di atas kawasan Timur Tengah sebelum melanjutkan operasinya.
F-22 memiliki tugas utama menguasai ruang udara dengan menyingkirkan seluruh ancaman udara, sehingga membuka jalan bagi pesawat pengebom dan pesawat serang lainnya untuk menghantam sasaran strategis seperti fasilitas nuklir maupun pangkalan rudal.
Pada hari yang sama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran kemungkinan dapat mencapai kesepakatan dalam satu atau dua hari ke depan guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal dagang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengungkapkan perkembangan terbaru: “Saat ini kami terlibat dalam dialog dan perundingan antara Oman dan Iran. Kami membahas bagaimana memastikan kapal-kapal perang dapat melintas dengan aman dalam jangka pendek, sembari melanjutkan pembicaraan jangka panjang menuju denuklirisasi. Dapat dipastikan bahwa perundingan ini telah mengalami kemajuan, meskipun rincian akhirnya belum disepakati. Kami berharap hal itu dapat segera terwujud.”
Namun demikian, menurut laporan The Wall Street Journal, pihak Iran tetap menyatakan bahwa tidak ada perundingan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat maupun rencana pertemuan di masa mendatang.
Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa Teheran tidak menginginkan perang yang lebih besar.
Di sisi lain, lembaga kajian Institute for the Study of War (ISW) melaporkan bahwa seorang ulama senior Iran mengklaim Mujtaba Khamenei telah memperingatkan Presiden Pezeshkian bahwa apabila ia kembali mencoba mengundurkan diri, maka pengunduran dirinya pasti akan disetujui.
Menurut analisis ISW, langkah Mujtaba tersebut dimaksudkan untuk mencegah Presiden Iran menggunakan ancaman pengunduran diri sebagai alat untuk memengaruhi arah kebijakan rezim dalam menghadapi konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, tanda-tanda gelombang pemberontakan baru juga disebut mulai muncul di dalam negeri Iran. Menurut laporan New York Post, tekanan masyarakat telah mendekati titik kritis akibat eksekusi mati di depan umum, memburuknya kondisi ekonomi, serta perang yang telah berlangsung lebih dari lima bulan.
Sejumlah sumber mengatakan bahwa masyarakat Iran kini sedang mempersiapkan gelombang pemberontakan berikutnya dan bertekad memberikan pukulan yang dianggap mematikan terhadap pemerintahan yang berkuasa.
Dilaporkan oleh reporter NTD Television, Wang Ziyi.


