Dari meningkatkan daya pikir dan kreativitas hingga meredakan stres, menghidupkan kembali sisi kanak-kanak dalam diri kita ternyata penting untuk menjalani hidup yang sehat, bermakna, dan memuaskan di setiap tahap usia.
Anak-anak menghabiskan sebagian besar masa kecil mereka dengan bermain. Dan memang seharusnya demikian.
Menurut National Institute for Play (NIP), “bermain merupakan bagian penting dari cara manusia dan spesies lainnya berkembang, berfungsi, serta berinovasi.”
NIP menjelaskan bahwa bermain telah tertanam kuat dalam sistem saraf manusia dan berakar dalam biologi kita. Para ahli saraf afektif telah mengidentifikasi tujuh sistem emosi utama yang dibawa manusia sejak lahir—dan bermain merupakan salah satunya.
Sirkuit bermain di otak tengah mengaktifkan jaringan saraf yang luas, sekaligus memperkuat koneksi yang berkaitan dengan kemampuan bersosialisasi, gerakan tubuh, dan pengaturan emosi.
Otak Memang Dirancang untuk Bermain: Bagaimana Bermain Membentuk Otak yang Sedang Berkembang
Bagi anak-anak, bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Bermain merupakan bagian penting dari proses tumbuh dan belajar, mulai dari bayi, balita, anak-anak, hingga remaja dan seterusnya.
Bermain membantu bayi mengembangkan koordinasi tubuh dan kemampuan mengikuti gerakan dengan mata. Pada usia balita, bermain membantu membangun ketangguhan fisik sekaligus emosional.
Anak-anak yang diberi kebebasan yang wajar untuk bermain juga memiliki peluang lebih besar mengembangkan kreativitas. Imajinasi mereka tidak dibatasi dan dapat menjelajah tanpa batas, menciptakan permainan dari apa pun yang ada di sekitar mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa mendorong rasa ingin tahu melalui aktivitas bermain dapat meningkatkan hasil belajar. Sebaliknya, kekurangan kesempatan bermain berkaitan dengan munculnya berbagai persoalan emosional dan perilaku.
Melalui imajinasi dan permainan, anak mulai memahami dunia, bermimpi, menciptakan sesuatu, dan bereksperimen.
Mereka belajar bahwa sebagian aktivitas manusia yang paling penting dilakukan bukan semata-mata demi hasil praktis, melainkan karena aktivitas itu sendiri menyenangkan dan memberikan kepuasan.
Bermain juga dapat memunculkan minat yang kemudian membentuk karakter dan berkembang menjadi kegemaran seumur hidup, bahkan karier.
Anak yang tergila-gila bermain sebagai ksatria mungkin kelak tertarik mempelajari sejarah. Anak yang tidak bisa lepas dari Lego mungkin suatu hari menapaki jalan menuju dunia teknik.
Dengan demikian, bermain dapat menjadi pintu gerbang menuju panggilan hidup seseorang.
Namun, kebutuhan untuk bermain tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan masa kanak-kanak.
Kecenderungan biologis untuk bermain tidak menghilang begitu saja seiring bertambahnya usia. Kita semua tetap membutuhkan kesenangan dalam kadar tertentu.
NIP menyatakan bahwa bermain merupakan mekanisme biologis, psikologis, dan sosial yang mendasar dalam membentuk cara manusia belajar, beradaptasi, terhubung, dan berkembang sepanjang hidup.
Ketika bermain tidak ada atau terus-menerus ditekan, penelitian mengaitkan kekurangan tersebut dengan depresi, gangguan perkembangan sosial, serta kesulitan mengatur emosi dan belajar.
Bermain Bukan Kekanak-kanakan: Manfaat Besarnya bagi Orang Dewasa
Manfaat bermain bagi orang dewasa sangat beragam.
Bermain dapat:
- merangsang kreativitas;
- meredakan ketegangan akibat stres;
- meningkatkan fungsi otak;
- memperkuat hubungan dengan orang lain.
Dalam bukunya Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less, Greg McKeown menganjurkan agar orang dewasa—terutama mereka yang sibuk dengan karier—menjadwalkan waktu khusus untuk bermain secara rutin.
Untuk melakukannya, kita harus terlebih dahulu menyingkirkan anggapan bahwa bermain adalah kegiatan remeh dan tidak produktif—sebuah pandangan yang sering tertanam ketika kita mulai meninggalkan masa kanak-kanak.
Mengapa McKeown begitu menekankan pentingnya bermain?
Salah satu alasannya adalah karena bermain membantu kita berpikir dengan cara yang berbeda. Kemampuan tersebut dapat membantu kita memecahkan masalah dan bekerja lebih baik dalam berbagai bidang.
McKeown mengutip sebuah penelitian mengenai beruang grizzly yang menemukan bahwa beruang yang paling sering bermain cenderung bertahan hidup lebih lama.
Mengapa?
Karena bermain melatih mereka untuk berpikir kreatif dan mencari solusi ketika menghadapi masalah.
Hal yang sama berlaku bagi manusia.
Seperti ditulis McKeown, bermain memperluas pikiran sehingga kita mampu mengeksplorasi, melahirkan gagasan baru, atau melihat gagasan lama dari sudut pandang yang berbeda.
Bermain membuat kita lebih ingin tahu, lebih peka terhadap hal-hal baru, dan lebih terlibat dalam kehidupan.
Melampaui Taman Bermain: Menjadikan Bermain sebagai Bagian dari Hidup Orang Dewasa
Aristoteles pernah mengatakan bahwa “kita bekerja agar memiliki waktu luang.”
Bermain dan waktu luang memang bukan hal yang sepenuhnya sama. Namun, keduanya memiliki hubungan erat karena keduanya dapat dipandang sebagai tujuan yang ingin dicapai melalui pekerjaan, bukan sekadar jeda dari pekerjaan.
Aristoteles berpendapat bahwa hal-hal paling penting dan paling memanusiakan dalam kehidupan—seperti merenungkan kebenaran, membangun hubungan dengan orang lain, dan menikmati keindahan—tidak secara langsung berkaitan dengan tuntutan praktis pekerjaan.
Sebaliknya, kita bekerja agar memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang membebaskan dan memanusiakan tersebut.
Bermain—meskipun tidak seserius apa yang dimaksud Aristoteles dengan “waktu luang”—tetap mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar masuk kerja, pulang kerja, lalu menjatuhkan diri ke sofa karena kelelahan.
Ketika bermain, kita sering memasuki kondisi yang disebut “flow”, yaitu keadaan ketika waktu seolah menghilang dan kekhawatiran, tuntutan, serta target praktis kehidupan sehari-hari menghilang ke latar belakang.
Untuk sesaat, kita hanya hidup dan menikmati keberadaan kita, seperti seorang anak.
Bermain Mempererat Hubungan
Aspek sosial dalam bermain juga tidak boleh diremehkan.
Aktivitas yang ringan, menyenangkan, dan dilakukan secara interaktif memberi keluarga maupun kelompok sahabat sesuatu yang dapat dinikmati bersama.
Karena melibatkan interaksi secara langsung, ikatan emosional lebih mudah terbentuk melalui bermain dibandingkan sekadar duduk bersama menatap layar—atau yang lebih sering terjadi, masing-masing sibuk dengan layar sendiri.
Bagaimana Memulai Bermain Lagi?
Seperti apa penerapannya dalam kehidupan sehari-hari?
Berikut beberapa ide sederhana:
- Adakan malam permainan bersama keluarga atau teman.
- Jangan hanya menonton anak atau cucu bermain. Ikut bermain bersama mereka.
- Kembali melakukan olahraga yang pernah Anda sukai ketika muda, atau coba olahraga baru.
- Luangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama orang yang Anda cintai tanpa agenda yang sudah ditentukan. Lihat apa yang bisa Anda lakukan bersama secara spontan.
- Coba hobi atau kerajinan baru.
- Bermain musik atau sekadar mendengarkan musik.
- Habiskan waktu menjelajahi alam terbuka.
- Ceritakan kisah-kisah lucu dan tertawalah bersama.
Bermain adalah dunia liar tempat kita menikmati hal-hal yang tampaknya tidak perlu, tidak produktif, bahkan kadang terasa konyol.
Namun, justru di situlah letak paradoksnya:
Hal-hal yang tampaknya tidak perlu itu ternyata sangat diperlukan untuk menjaga kesejahteraan kita.
Menikmati sesuatu bukan karena menghasilkan uang, meningkatkan status, atau mencapai target tertentu, melainkan semata-mata karena aktivitas itu menyenangkan, merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.
Sepanjang hidup, kita tetap membutuhkan kesempatan untuk berhenti mengejar sesuatu dan sekadar menikmati kenyataan bahwa kita masih hidup.
Walker Larson pernah mengajar sastra dan sejarah di sebuah akademi swasta di Wisconsin sebelum menjadi jurnalis lepas dan penulis budaya. Ia tinggal di Wisconsin bersama istri dan putrinya. Ia meraih gelar magister dalam bidang sastra dan bahasa Inggris. Tulisannya telah diterbitkan di The Hemingway Review, Intellectual Takeout, dan Substack miliknya, The Hazelnut. Ia juga merupakan penulis dua novel, “Hologram” dan “Song of Spheres.”


