Air Banjir di Chongzuo, Guangxi, Tiongkok, Naik Hingga Mencapai Lantai Dua atau Tiga Rumah Warga Menyebabkan Kerugian Besar

EtIndonesia.com  Hujan deras mengguyur berbagai wilayah di Guangxi, Tiongkok.  Sebanyak 14 sungai, termasuk Sungai Zuojiang, mengalami banjir yang melampaui batas siaga. Beberapa wilayah di sepanjang sungai di sejumlah kabupaten di Kota Chongzuo terdampak parah, dengan ketinggian air mencapai lantai dua hingga tiga rumah warga.

Menurut pemantauan Pusat Hidrologi Guangxi, dari pukul 08.00 tanggal 24 Agustus hingga pukul 08.00 tanggal 25 Agustus, sebagian wilayah Kota Guilin, Wuzhou, Guigang, Chongzuo, Hezhou, Laibin, dan Nanning mengalami hujan lebat hingga sangat deras.

Sebanyak 14 sungai dan anak sungai, termasuk Sungai Zuojiang, Sungai Heishui, Sungai Pingxiang, dan Sungai Mingjiang, serta 20 stasiun pemantauan, mencatat banjir yang melampaui batas siaga.

Kabupaten Ningming di Kota Chongzuo menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah. Beberapa kecamatan terisolasi oleh banjir selama tiga hari, sementara transportasi dan komunikasi terputus.

Pada 23 Agustus 2026, Ningming, Longzhou, Pingxiang di Chongqing, Guangxi, dan Shangsi di Fangchenggang terdampak Topan No. 19 “Zitan,” yang memicu curah hujan lebat dan menyebabkan gelombang banjir baru. Puncak banjir di Kabupaten Ningming mencapai 123,50 meter, melebihi rekor ketinggian air tertinggi tahun 2008. (Cuplikan video/Komposit Epoch Times)

Seorang warga kota Ningming mengatakan bahwa pasokan air di pusat kota terhenti selama tiga hari dan air mineral di pasaran habis diborong warga. Jembatan Ningming dipenuhi ranting pohon, batang tebu, dan sampah yang terbawa arus dari hulu. Ekskavator bekerja siang dan malam selama dua hari untuk membersihkannya, tetapi belum juga selesai.

 “Seluruh kota tidak memiliki air, dan banyak rumah sudah terendam. Bahkan alun-alun yang lokasinya cukup tinggi juga terendam. Banyak mobil yang terendam air. Di sebelah timur jembatan, yang lokasinya lebih rendah, air sudah mencapai lantai dua bahkan lantai tiga. Kondisinya sangat parah. Kami sampai tidak bisa tidur, benar-benar sangat mencemaskan,” kata Huang, warga Kabupaten Ningming, Chongzuo, Guangxi. 

Kota Chongzuo dikenal sebagai “Ibu Kota Gula Tiongkok”. Luas perkebunan tebunya selama bertahun-tahun mencapai lebih dari 4 juta mu (sekitar 267.000 hektare), menjadikannya wilayah penghasil tebu terbesar di Tiongkok.

Kabupaten Fusui dan Longzhou yang berbatasan dengan Ningming, serta Distrik Jiangzhou di Chongzuo, merupakan kawasan utama perkebunan tebu dan juga terdampak banjir. Video yang beredar di internet memperlihatkan perkebunan tebu dalam skala luas roboh diterjang banjir atau terendam air. Sebagian tanaman mulai membusuk dan menguning pada bagian akarnya.

Chen, warga Kota Dongmen, Kabupaten Fusui, Chongzuo:  “Permukaan air masih terus naik, dan kenaikannya cukup cepat. Arusnya juga sangat deras. Puncak banjir diperkirakan tiba malam ini. Kami tidak tahu sampai setinggi apa air akan naik. Kami agak panik. Tebu ini beberapa bulan lagi sudah bisa dipanen. Sekarang diterjang banjir, kerugiannya tidak bisa dihindari.”

Pada 24–25 Agustus, banjir merendam sejumlah ruas jalan di pusat Kabupaten Longzhou. Banyak warga tidak tidur semalaman dan buru-buru memindahkan barang-barang serta harta benda mereka ke tempat yang lebih aman.

Li, warga Kabupaten Longzhou, Chongzuo:  “Vietnam kembali melepaskan air dari waduk, sehingga airnya sangat besar. Kami tidak bisa tidur malam ini. Kondisinya lebih parah dibandingkan tahun lalu. Jalan Dushan dan Jalan Jiqeng sudah terendam. Semua orang sedang memindahkan barang. Bagian Jalan Xingren dan pasar lama juga terendam hingga lantai dua.”

Di Distrik Jiangzhou, Chongzuo, sejumlah ruas jalan tampak berubah menjadi lautan. Air sungai meluap kembali ke daratan sehingga banyak toko di lantai satu dan kendaraan terendam. Kerugian dilaporkan sangat besar. Warga juga mengeluhkan lambannya bantuan penyelamatan.

Wei, warga Distrik Jiangzhou, Chongzuo, Guangxi:  “Permukaan Sungai Zuojiang sudah terlalu tinggi dan air meluap. Saat ini listrik juga sudah padam. Lantai satu sudah terendam, jadi kami naik ke lantai dua. Biasanya tim penyelamat lebih dulu menyelamatkan orang-orang di jalan, baru kemudian masuk ke desa. Namun biasanya ketika mereka sampai di desa, air juga sudah hampir surut.”

Laporan wartawan NTDTV Xiong Bin dan Chen Jianming

INSPIRASI ERABARU

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta...

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine