EtIndonesia.com Pada 26 Agustus 2026, banjir bandang dan longsor lumpur yang menghancurkan terjadi secara tiba-tiba di perbatasan Tibet, Tiongkok, dan Nepal, menyebabkan banyak korban jiwa. Hingga kini, Tiongkok dan Nepal telah mengonfirmasi lebih dari 300 orang tewas dan hampir 1.500 orang hilang.
Menurut data yang diumumkan Kepolisian Nepal dan Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal (NDRRMA), hingga pukul 15.50 waktu setempat pada 27 Agustus, setidaknua 332 orang tewas dan lebih dari 900 orang hilang di Nepal, termasuk hampir 517 wisatawan asing.
Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa hingga pagi 27 Agustus, 3 orang telah dipastikan tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing.
Beijing juga mengumumkan bahwa sekitar 100 warga negara Tiongkok hilang di wilayah Nepal. Jumlah tersebut tidak termasuk 558 orang yang dinyatakan hilang dan masih dicari di wilayah Tiongkok.
Penyebab bencana hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Sejumlah pakar Barat menganalisis bahwa runtuhnya gletser dan longsor gunung, yang menyebabkan sejumlah besar material tanah dan batu masuk ke sungai, kemungkinan menjadi salah satu penyebab bencana.
Namun, sejumlah pakar Taiwan mempertanyakan apakah bencana tersebut merupakan bencana akibat ulah manusia, yang disebabkan oleh aktivitas Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama bertahun-tahun, seperti meledakkan gunung untuk membangun jalan dan pembangunan waduk yang merusak lingkungan setempat.
Pakar strategi Taiwan Lin Tinghui, dalam program Critical Moment, mengatakan bahwa Pos Perbatasan Gyirong di Tibet sudah ada sejak zaman Dinasti Tang dan merupakan bagian dari jalur kuno menuju Tianzhu—istilah historis yang digunakan Tiongkok untuk India, termasuk jalur perjalanan ke India dalam kisah “perjalanan ke Barat untuk mengambil kitab suci Buddha”.
Menurutnya, selama ribuan tahun kawasan tersebut tidak pernah mengalami bencana seperti ini. Ia menilai bahwa munculnya bencana dahsyat saat ini sebagian besar disebabkan oleh kerusakan lingkungan dan kondisi pegunungan akibat aktivitas PKT.
AS Menyita Platform Peretas PKT, Mencegah Serangan terhadap Infrastruktur Penting AS
Pada 26 Agustus, Departemen Kehakiman AS dan Biro Investigasi Federal (FBI) mengumumkan penyitaan sejumlah domain internet yang diduga digunakan oleh peretas yang terkait dengan PKT untuk menyembunyikan sumber serangan siber.
Dalam pernyataannya, Departemen Kehakiman AS mengatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan bersama FBI untuk mencegah pelaku serangan siber berbahaya terus menggunakan dua platform peretasan bernama “QScan” dan “QTRouter”.
Penegak hukum mengatakan bahwa kedua platform tersebut digunakan untuk menyerang infrastruktur penting Amerika Serikat dan jaringan sensitif lainnya.
Menurut pernyataan tersebut, kedua platform itu dibuat oleh sebuah organisasi bernama “QTFY”.
Target serangan siber yang dilakukan organisasi tersebut antara lain NASA, serta Departemen Energi AS, Departemen Kehakiman, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, serta Senat AS.
Pelanggan QTFY disebut mencakup Kementerian Keamanan Negara Tiongkok (MSS) dan militer Tiongkok.
Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan dalam pernyataan tersebut bahwa tindakan penyitaan ini merupakan salah satu dari serangkaian langkah teknis yang baru-baru ini dilakukan Amerika Serikat untuk membongkar aktivitas serangan siber yang didukung PKT dan memiliki sasaran yang luas. (***)


