Pada 26 Agustus, terjadi bencana banjir bandang dan longsor lumpur berskala besar di wilayah perbatasan Tiongkok dan Nepal, yang menyebabkan banyak korban jiwa. Pos Perbatasan Gyirong di Tibet hancur rata dengan tanah. Perkiraan dari kalangan masyarakat menyebutkan sedikitnya lebih dari 1.000 orang tertimbun hidup-hidup, jauh lebih banyak dibandingkan angka yang diumumkan secara resmi.
EtIndonesia.com Sekitar pukul 11.00 pada 26 Agustus, Pos Perbatasan Gyirong di Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Tibet, hancur diterjang longsor lumpur.
Rekaman kamera pengawas menunjukkan bahwa bangunan pos perbatasan dan kendaraan yang berada di area parkir ditelan longsor lumpur setinggi puluhan meter. Sejumlah besar orang yang berusaha melarikan diri dengan berlari seketika terkubur hidup-hidup.
Berdasarkan berbagai informasi yang diungkapkan warganet, Pos Perbatasan Gyirong merupakan salah satu pos perbatasan terbesar di Tibet. Di lokasi tersebut terdapat personel bea cukai, penjaga perbatasan, polisi, polisi bersenjata, petugas penjaga perbatasan, serta polisi pembantu. Diperkirakan terdapat sedikitnya 350 hingga 450 personel.
Jika ditambah para pedagang di sekitar lokasi, wisatawan yang sedang menunggu pemeriksaan dan berbagai orang lainnya, diperkirakan lebih dari 1.000 orang berada di lokasi ketika bencana terjadi.
Hingga pukul 08.00 pada 27 Agustus, pemerintah Tiongkok secara resmi hanya melaporkan 3 orang tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing.
Karena akses jalan menuju daerah bencana terputus dan ketebalan lumpur yang menumpuk rata-rata mencapai lebih dari 1,5 meter, proses penyelamatan menjadi sangat sulit. Jumlah korban tewas dikhawatirkan dapat meningkat secara signifikan.
“Di Pos Perbatasan Gyirong saja jumlah wisatawannya sudah sangat banyak. Semuanya menggunakan bus besar. Bahkan kalau bisa terbang pun mungkin tidak akan sempat menyelamatkan diri. Setelah melihat video ini, saya mempelajarinya selama satu setengah jam. Tidak ada satu pun tempat untuk berlindung. Longsor lumpurnya setinggi lebih dari 50 meter dan dalam sekejap begitu banyak orang harus melarikan diri. Rekamannya bahkan sudah diturunkan, sekarang tidak bisa ditemukan di internet,” ujar seorang petugas penyelamat bermarga Su.
Banjir bandang dan longsor lumpur juga menghancurkan desa, jalan, jembatan, serta sejumlah pembangkit listrik tenaga air di Nepal.
Pihak Nepal telah mengumumkan 163 orang tewas dan 484 wisatawan hilang, termasuk 391 warga negara asing.
Seorang warga Tiongkok bermarga Zhou yang tinggal di Nepal mengungkapkan bahwa biaya hidup di Nepal relatif rendah. Nepal juga memberlakukan bebas visa bagi warga Tiongkok, sementara bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang umum digunakan. Kondisi tersebut menarik banyak warga Tiongkok untuk datang ke Nepal guna berbisnis, berwisata, atau belajar bahasa Inggris.
Pos Perbatasan Gyirong berjarak lebih dari 100 kilometer dari ibu kota Nepal. Setiap hari, sedikitnya ratusan orang melintasi perbatasan tersebut.
“Di daerah pos perbatasan terjadi longsor lumpur, mungkin dipengaruhi oleh hujan yang turun setiap hari. Banyak warga Tiongkok yang datang dan membuka toko di kawasan pecinan, terutama bisnis makanan,” ujar warga Tiongkok bermarga Zhou yang tinggal di Nepal.
“Saya juga sering melihat mereka membawa anak-anak untuk bersekolah. Ada juga yang datang saat liburan musim panas karena ingin belajar bahasa Inggris dengan biaya serendah mungkin,” katanya.
Pemerintahan Komunis Tiongkok tidak mengumumkan penyebab terjadinya longsor lumpur tersebut. Sejumlah warganet di dalam maupun luar Tiongkok menduga bahwa bencana tersebut mungkin disebabkan oleh jebolnya bendungan akibat faktor manusia.
Sebuah video yang beredar di internet menunjukkan banjir menghancurkan sebuah pembangkit listrik tenaga air. Seorang pekerja yang mengenakan rompi bertuliskan “Tiongkok Power Construction” terlihat berhasil melarikan diri ke lereng gunung.
Seorang pengguna platform X berkomentar di bawah video tersebut: “Ini adalah bencana akibat ulah manusia yang dipicu oleh bendungan yang dibangun Tiongkok.”
Reporter NTD Xiong Bin dan Chen Jianming melaporkan.


