Inikah Penyebab Longsor Lumpur Mematikan Nepal-Tibet ? Analisis Citra Satelit: Gletser Raksasa Patah dan Jatuh Langsung ke Dasar Lembah 

ETIndonesia.com Longsor lumpur dahsyat melanda perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026. Insiden ini menyebabkan setidaknya ratusan orang tewas dan lebih dari seribu orang hilang, termasuk sekitar 90 warga Amerika Serikat. Berdasarkan analisis citra satelit oleh para ahli geologi dan meteorologi, longsor lumpur mematikan tersebut kemungkinan besar dipicu oleh runtuhnya gletser di pegunungan tinggi yang jatuh ke dasar lembah.

Menurut laporan The Washington Post, citra satelit beresolusi tinggi dari Planet Labs menunjukkan bahwa sebuah gletser bernama RGI2000-v7.0-G-15-05732, yang berada di pegunungan tinggi di perbatasan Nepal dan Tibet, mengalami patahan vertikal pada bagian dasarnya. Es seluas sekitar 2 juta kaki persegi—setara dengan luas sekitar 25 lapangan sepak bola standar—terlepas dari ketinggian sekitar 17.000 kaki dan jatuh secara vertikal.

Setelah terlepas, bongkahan es tersebut jatuh sekitar 4.000 kaki atau sekitar 1,2 kilometer sebelum menghantam dasar lembah. Energi potensial gravitasi yang sangat besar membuat es tersebut seketika hancur menjadi campuran air, pecahan es, dan lumpur yang membentuk arus deras. Aliran tersebut dengan cepat masuk ke Sungai Lhende serta Sungai Bhotekoshi/Trishuli.

Aliran lumpur dan puing-puing tersebut dengan cepat menelan bangunan Pelabuhan Perbatasan Gyirong serta orang-orang yang berusaha melarikan diri. Setelah itu, aliran tersebut bergerak masuk ke wilayah Nepal dan memicu banjir bandang berkecepatan tinggi yang menghancurkan jalan serta fasilitas listrik dan menenggelamkan desa-desa.

Getaran dahsyat yang terjadi ketika gletser runtuh awalnya salah diidentifikasi oleh Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sebagai gempa bumi berkekuatan 4,4 magnitudo.

Namun, setelah menganalisis gelombang seismik secara lebih mendalam serta data satelit, USGS kemudian memastikan bahwa sinyal seismik berkekuatan 5,2 magnitudo tersebut sebenarnya disebabkan oleh runtuhnya gletser dan aliran material puing yang menghantam permukaan tanah, bukan gempa bumi yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik.

Hingga kini, penyebab pasti runtuhnya gletser tersebut masih belum diketahui.

Ahli geologi Simon Cook mengatakan bahwa citra satelit sehari sebelum bencana menunjukkan permukaan gletser di kawasan tersebut tertutup salju. Namun, pada hari kejadian, salju tersebut terlihat mencair dengan cepat dan memperlihatkan lapisan es di bawahnya.

Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya pencairan salju secara cepat di kawasan tersebut. Air kemudian meresap ke dalam retakan gletser dan terkumpul di bagian bawah, membentuk semacam “lapisan pelumas”. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan massa es yang sangat besar meluncur menuruni lereng dan runtuh.

Pada Kamis, 27 Agustus, pemerintah Nepal dan Tiongkok sama-sama mengeluarkan peringatan bahwa Pegunungan Himalaya masih menghadapi risiko banjir baru. Hal ini disebabkan oleh dua danau bendungan alami yang terbentuk di kedua sisi perbatasan kedua negara dan kini menghadapi risiko jebol.

INSPIRASI ERABARU

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta...

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine