oleh Leng Feng
Pada musim gugur tahun 1990, ketika suara rentetan tembakan senjata api di Lapangan Tiananmen tanggal 4 Juni kembali terngiang di telinga Ye Fu, seorang penulis yang sedang diburon di Kota Wuhan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), tiba-tiba telepon rahasia dari Xiong Zhaozheng, sahabat karib yang sekaligus seniornya di Universitas Wuhan berdering-dering.
Pengkhianatan Membelah 2 Kehidupan: 30 Tahun Perseteruan dan Hubungan Antar Penulis Terkenal
Dengan inisiatif untuk mengusulkan pembentukan gerakan bawah tanah demi melakukan propaganda bawah tanah, Xiong Zhaozheng membuat Ye Fu tidak curiga kemudian secara tidak sengaja mengungkapkan bahwa temannya “Axi” memiliki sejumlah dokumen rahasia untuk diserahkan ke pihak di luar negeri. Setelah mendengar berita itu, Xiong yang gembira mendengarnya secara pribadi datang menemui Ye Fu, dan mendesaknya untuk “segera mendapatkan dokumen termaksud.”
Beberapa hari setelah memperoleh dokumen tersebut, Ye Fu ditangkap, dijatuhi hukuman 6 tahun penjara yang membuat keluarganya berantakan. Sedangkan Axi, yang hanya bertindak selaku kurir malahan dijatuhi hukuman 11 tahun penjara. Xiong Zhaozheng, yang secara pribadi menerima materi tersebut, hanya ditahan sebentar kemudian dibebaskan. Namanya bahkan tidak muncul dalam dakwaan. Setelah itu, Xiong meraih ketenaran dan kekayaan, bahkan memenangkan Penghargaan Sastra Mao Dun.
Bertahun-tahun kemudian, Ye Fu mulai angkat bicara ketika meninjau berkas kasus dan menemukan bahwa ketika hakim bertanya soal mengapa Xiong Zhaozheng tidak dituntut. Biro Keamanan Publik Kota Wuhan hanya merespons secara dingin dan singkat dengan mengatakan: “Dia adalah orang kita.” Ketika dicecar oleh jurnalis Chai Jing pada tahun 2024, Xiong Zhaozheng hanya tetap diam untuk waktu yang lama, tanpa memberikan bantahan.
Ini bukan sekadar perseteruan sastra yang memudar seiring berjalannya waktu, melainkan subjek laporan eksklusif Epoch Times yang berjudul “Tembok Tinggi Memiliki Telinga: Sebuah Studi tentang Sistem Intelijen PKT.”
Laporan penelitian eksklusif yang terdiri dari 100.000 lebih kata ini akan segera diterbitkan. Laporan yang menyentuh ketakutan terdalam hati manusia, yakni, ketika negara-partai tidak lagi muncul dalam seragam polisi, tetapi berubah menjadi sahabat terpercaya kita, guru yang paling kita kagumi, atau bahkan teman sekamar kita, lalu kepercayaan dasar yang kita bentuk untuk menopang masyarakat beradab selama ini akan diganti dengan apa?
Bukan Cuma Pengkhianatan Moral Tetapi “Jalur Produksi Model Negara-Partai” yang Lengkap
Setelah mendengar cerita ini, banyak orang yang langsung bereaksi dengan kecaman moral: Pengkhianatan oleh sahabat karib adalah tindakan yang keterlaluan. Namun analisis laporan tersebut jauh lebih mengerikan: hal yang paling menakutkan bukanlah runtuhnya hati nurani yang terisolasi, tetapi seluruh sistem mekanisme negara-partai yang dapat direplikasi dan diterapkan secara sistematis terhadap setiap hubungan persahabatan.
Proses tersebut dalam kerangka operasional sistem keamanan publik Partai Komunis Tiongkok dan keamanan nasional disebut “Mengonstruksi objek,” yang melibatkan identifikasi target dan pembentukan hubungan rahasia. Target dari “mengonstruksi objek” adalah apa yang disebut “agen khusus”—istilah resmi yang digunakan dalam sistem keamanan untuk informan rahasia.
Logika operasional mesin ini sangat kejam. Menyasar 3 hal berikut dengan mengabaikan hati nurani:
Kondisi akses: Siapa yang dapat masuk ke dalam ruang tamu dan lingkaran sosial target tanpa menimbulkan kecurigaan?
Penyamaran identitas: Identitas siapa yang begitu otentik sehingga bahkan orang yang paling waspada pun tidak curiga?
Pengendalian pengaruh: Catatan kriminal siapa, kebutuhan perjalanan siapa, atau kerentanan keluarga siapa yang berada dalam genggaman pihak berwenang?
Laporan menunjukkan bahwa lapisan luar interaksi sosial seperti persahabatan, pernikahan, hubungan guru-murid, dan ikatan kampung halaman tetap sama tidak berubah. Yang berubah adalah bahwa di balik hubungan-hubungan ini, kabel-kabel mesin kontrol partai-negara telah terhubung secara diam-diam.
Keunikan laporan ini terletak pada penetapan batasan yang sangat ketat antara dunia akademis dan peradilan: kita tidak dapat begitu saja menyimpulkan bahwa seseorang adalah informan berdasarkan sikap pro-pemerintah atau pembebasannya setelah penangkapan. Yang benar-benar bisa menentukan adalah apakah enam rantai kriteria, yaitu hubungan, misi, pelaporan, kontrol, perlindungan, dan kerugian sesuai dengan fakta yang terjadi.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa Xiong Zhaozheng terlibat dalam kasus informan rahasia, karena kesesuaiannya dengan enam rantai kriteria tersebut.
Luka Pertama: “Misi Rahasia” yang Disembunyikan dalam Keramah-tamahan Sehari-hari yang Palsu
Pada tahun 1957, Feng Yidai, seorang penerjemah dicap sebagai “golongan kanan.” Bagi teman-temannya, ia adalah seorang intelektual yang kurang beruntung yang mengalami penganiayaan politik, sehingga mereka sama sekali tidak menaruh kecurigaan terhadap dirinya. Selama beberapa tahun berikutnya, ia sering mengunjungi ruang tamu politisi yang berpengaruh seperti Zhang Bojun, minum teh, mengunjungi sahabat yang dirawat di rumah sakit, dan mencurahkan isi hatinya kepada mereka.
Namun, dalam buku catatan hariannya berjudul “Mengenang Penyesalan” yang diterbitkan pada masa tuanya ia benar-benar menyingkap topeng kehangatan pura-puranya yang pernah dipakai pada masa lalu. Dalam catatan di halaman akhir Agustus 1960, ia mengungkapkan sendiri ritme dingin operasi intelijen yang telah ia lakukan: Pagi pergi mengunjungi target, untuk dilaporkan kepada kontak person. Atasan menganggap informasi tidak cukup, sorenya terpaksa kembali menemui target. Lalu malam hari saya habiskan untuk menyusun materi agar dapat disampaikan pada keesokan paginya.
Yang muncul dalam buku catatan hariannya bukanlah kenangan kehangatan dan suasana santai bersama sahabat lama, tetapi soal “kecemasan mendalam karena tidak berhasil menggali informasi berharga dari target,” dan desakan dari kontak person mengenai masalah informasi yang “tidak cukup.” Tuntutan atasan menentukan apa yang harus ia peroleh di sore hari dan di malam harinya ia gunakan untuk memproses dan menyusun percakapan santai menjadi intelijen politik.
Inilah aspek paling berbahaya dari seluruh sistem: identitas “korban” menjadi kedok yang paling ampuh dan alami. Ruang keluarga, meja makan, sisi tempat tidur rumah sakit—sudut-sudut pribadi yang dianggap orang paling aman, tempat yang membuat orang lengah, mengendurkan kewaspadaan justru menjadi tempat kerja favorit bagi agen rahasia.
Luka Kedua: Memperlakukan Keluarga Sebagai Alat, Penjara Sebagai “Pabrik Daur Ulang”
Lapisan kegelapan lain yang terungkap dalam laporan ini adalah bahwa sistem intelijen PKT bahkan dapat mengubah keluarga menjadi unit pengintai, bahkan mereka yang menjalani hukuman di penjara dapat “didaur ulang” dan diaktifkan kembali. Pengalaman pasangan aktor terkenal Ying Ruocheng dan Wu Shiliang adalah contoh ekstrem dari trauma manusia.
Pada tahun 1950, pasangan pengantin baru tersebut dihubungi oleh petugas keamanan publik PKT yang meminta informasi tentang aktivitas seorang guru asal Amerika Serikat. Pada tahun 1952, Peng Zhen, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Walikota Beijing, secara pribadi berbicara dengan Ying Ruocheng, menekankan bobot politik dari tugas sebagai informan yang diembannya. Selama kurang lebih satu dekade berikutnya, keduanya mempertahankan kontak satu jalur dengan keamanan publik dengan menggunakan nama samaran “Wu Ying.” Setiap kesempatan menghadiri jamuan makan, piknik—semuanya merupakan tempat mereka pengumpulan intelijen—mereka menerima instruksi sebelum berangkat menghadiri pertemuan dan segera memberikan laporan setelahnya.
Namun, kesetiaan selama bertahun-tahun tidak membuahkan hasil bagi pasangan tersebut. Pada tahun 1966 di mana Revolusi Kebudayaan berkecamuk, mereka dipenjara selama hampir 3 tahun. Lebih absurd lagi, setelah dibebaskan, mereka kembali melakukan “pelayanan intelijen” setelah sekian lama tertangguh.
Dalam otobiografinya yang berbahasa Inggris, Ying Ruocheng mengungkapkan tentang penyimpangan kejiwaan tidak terjelaskan yang ia alami. “Bahkan soal ‘diizinkan untuk terus melaksanakan tugas informan’ saja membuatnya terharu, bersyukur dan berterima kasih kepada dinas intelijen,” tulisnya.
Luka Ketiga: Omong Kosong Setelah Mabuk Menjadi Bukti Kuat dalam Putusan
Laporan tersebut mengungkapkan mekanisme operasi tergelap dari sistem intelijen ini—”hak untuk menafsirkan konteks”: intelijen yang dikumpulkan dalam hubungan pribadi seperti dengan kerabat dan rekan sejawat yang tidak mungkin diverifikasi oleh pihak luar, informan berhak menafsirkan seluruh konteksnya.
Pada Mei 1999, Li Yuzhou, seorang pemuda dari Beijing, mulai secara diam-diam menghubungi personel keamanan negara, mengirimkan “laporan” setiap dua atau tiga minggu sebagai imbalan mendapatkan uang saku. Pada bulan Agustus tahun berikutnya, ia bergabung dengan “Masyarakat Pemuda Baru,” sebuah kelompok pemuda idealis. Organisasi ini tidak memiliki sarana penyaringan anggota yang ketat, sepenuhnya bergantung pada berbagi pengetahuan dan kepercayaan murni.
Namun, banyak perubahan setelah bergabungnya Li Yuzhou. Ia tidak lagi hanya menyampaikan gosip jalanan, ia menjadi “penerjemah” kiriman Biro Keamanan Negara untuk menilai kelompok ini: Siapa yang memiliki bobot dalam bebricara? Siapa yang hanya membual? Reaksi apa yang ditimbulkan oleh pernyataan-pernyataan yang membual di meja makan? Di bawah tuntutan berulang Biro Keamanan Negara untuk “melengkapi detailnya,” laporan akhirnya dapat disimpulkan dalam dua kata kunci, yakni “organisasi” dan “kecenderungan kekerasan.”
Pada tahun 2003, 4 orang anggota muda dari perkumpulan tersebut dituduh melakukan “subversi dengan kekerasan” dan dijatuhi hukuman penjara. Pernyataan resmi yang ditandatangani Li Yuzhou, termasuk laporan tulisan tangannya, dan kesaksian di tempat kejadian semuanya dijadikan bukti tak terbantahkan oleh pengadilan.
Hal ini mengungkapkan kebenaran yang absurd dan mengerikan: Li Yuzhou memiliki hak istimewa yang tidak mungkin dimiliki anggota lain—”hak menafsirkan konteks.” Ia dapat mengubah lelucon saat mabuk minuman keras menjadi rencana gerakan bersenjata, atau sepenuhnya menghapus pendapat yang berbeda. Apa yang sebenarnya dikatakan di meja malam itu tetap tersembunyi di balik bayangan yang tidak terlihat oleh hakim.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan ini dapat membuat kerusakan menembus ke sudut-sudut yang tidak dapat dijangkau oleh pengawasan berteknologi tinggi.
Kesimpulan: Ketika Hubungan Keluarga dan Pertemanan Diperlakukan Sebagai Senjata
Identitas Xiong Zhaozheng sebagai sehabat lama, sofa di ruang tamu Feng Yidai, ruang makan keluarga pasangan Ying Ruocheng dan istrinya, dan persahabatan teman seperkumpulan Li Yuzhou—keempat tragedi yang terjadi selama beberapa dekade ini, semuanya diatur oleh logika dingin dan keras yang sama, yaitu setelah menemukan seseorang yang memiliki identitas nyata sehingga tidak dicurigai orang, dengan cara yang tidak terdeteksi atau sulit ditolak, secara diam-diam menyambungkan hubungan pribadi yang seharusnya bersih di satu pihak ini dengan aparatur partai-negara di pihak lain.
Laporan ini mengungkapkan bahwa negara-partai tidak membutuhkan setiap orang menjadi agen mata-mata, mereka hanya membutuhkan setiap warga Tiongkok hidup dalam ketidakpastian, beraktivitas dalam ketakutan kalau-kalau “ada telinga di balik dinding yang sedang mendengarkan.” Karena ini lebih murah dan lebih efektif daripada memelihara sejumlah pasukan polisi rahasia.
Analisa Li Linyi, seorang komentator Epoch Times menyebutkan bahwa laporan eksklusif “Tembok Tinggi Memiliki Telinga” mempertahankan sikap akademis yang terkendali sepanjang isinya, tanpa satu pun penilaian emosional, namun meninggalkan pertanyaan yang terukir di benak setiap pembacanya:
Jika persahabatan yang sejati, ikatan keluarga yang paling pribadi, dan hubungan karena kedekatan geografis seperti teman sekelas, rekan kerja dan sebagainya dapat dijadikan “objek konstruksi” dan diperlakukan sebagai “senjata” oleh negara-partai untuk kepentingannya, maka, tidakkah kita perlu curiga dan bertanya-tanya, apakah orang yang duduk di hadapan kita saat ini adalah seorang sahabat yang sedang mendengar pembicaraan kita, atau sedang menuliskan isi pembicaraan kita menurut persepsinya ke dalam berkas tugasnya sebagai seorang informan?


