Longsor dahsyat terjadi di perbatasan Tiongkok dan Nepal. Namun, apa sebenarnya penyebabnya—tanah longsor atau runtuhnya gletser? Para pakar dari sejumlah negara memiliki pendapat yang berbeda. Sejumlah wisatawan Tiongkok mengatakan bahwa dalam beberapa jam sebelum bencana, mereka mendengar suara gemuruh keras beberapa kali.
EtIndonesia.com Sekitar pukul 10.59 pada 26 Agustus waktu Beijing, kamera pemantau di Pelabuhan Gyirong Tibet merekam saat aliran lumpur dan material longsor dari hulu meluncur deras dan menghantam hingga menghancurkan seluruh kompleks pelabuhan. Namun, sejumlah media daratan Tiongkok mengutip keterangan wisatawan setempat yang mengatakan bahwa sekitar pukul 10.30, mereka sudah mendengar suara gemuruh keras dari kejauhan.
Apa yang sebenarnya terjadi selama rentang waktu sekitar setengah jam antara pukul 10.30 hingga 10.59 masih sulit dipastikan oleh pihak luar.
Saat ini, rekaman kamera pemantau Pelabuhan Gyirong terus diblokir oleh pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sejumlah media daratan Tiongkok menyebut bencana terjadi pada pukul 10.30. Alasan di balik perbedaan waktu tersebut menimbulkan pertanyaan.
Menurut laporan Jiemian News pada 28 Agustus, pada pagi hari tanggal 26, seorang wisatawan sedang mendaki gunung di Kota Gyirong. Sekitar pukul 07.20, ia sudah mendengar suara gemuruh, tetapi saat itu mengira suara tersebut berasal dari petir.
Sekitar pukul 10.30, rombongan tersebut kembali melihat longsoran es dalam skala besar dari arah Gunung Lhotse di seberang. Peristiwa tersebut berlangsung selama sekitar dua hingga tiga menit.
Mengenai penyebab longsor, pihak Tiongkok dan Nepal kini saling menyalahkan. Setiap laporan dari pihak Tiongkok hampir selalu menyebut bahwa “runtuhnya gletser di sisi Nepal menyebabkan longsor.”
Sementara itu, opini publik di Nepal mempertanyakan apakah bencana tersebut justru disebabkan oleh longsor di sisi Tibet, serta menuduh bahwa pihak Tiongkok menjadi pihak yang terlebih dahulu terkena bencana tetapi tidak segera memberikan peringatan kepada Nepal.
Setelah kejadian, sejumlah pakar menganalisis citra satelit dan menyimpulkan bahwa tidak jauh dari hulu Pelabuhan Gyirong, sebuah gletser di puncak gunung tinggi di sisi Nepal mengalami retakan dan pecah, menyebabkan bongkahan es berukuran sangat besar jatuh ke dasar lembah. Karena itu, ada yang berpendapat bahwa jatuhnya bongkahan es raksasa tersebut memicu bencana.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dalam laporan awalnya menyatakan bahwa sekitar pukul 10.52 waktu Beijing, terjadi gempa berkekuatan 4,4 magnitudo di lokasi tersebut. Namun, kemudian dijelaskan bahwa getaran tersebut sebenarnya dipicu oleh runtuhnya gletser dalam skala besar dan kekuatannya setara dengan gempa magnitudo 5,2.
Namun, ada pula pihak yang menilai bahwa teori jatuhnya bongkahan es saja belum cukup untuk menjelaskan terjadinya longsor lumpur dalam skala sebesar itu.
Sejumlah pakar menunjukkan bahwa berdasarkan bukti terbaru, seluruh badan gunung tempat gletser tersebut berada juga mengalami keruntuhan. Karena itu, muncul pandangan bahwa runtuhnya gletser sebenarnya dipicu oleh longsor besar pada badan gunung.
Menurut teori ini, longsoran material dalam jumlah sangat besar untuk sementara waktu membendung aliran sungai dan membentuk danau bendungan alami. Seiring volume air di danau tersebut terus meningkat, bendungan alami akhirnya runtuh seperti jebolnya sebuah bendungan, sehingga menghasilkan banjir bandang dan aliran material yang sangat dahsyat.
Citra satelit menunjukkan bahwa ketika bencana terjadi, aliran lumpur dan material longsor dalam jumlah sangat besar meluncur dari lembah gunung dan membentuk gelombang dahsyat yang menyapu wilayah hingga puluhan kilometer.
Sejumlah pakar menganalisis bahwa untuk menghasilkan bencana sebesar itu, secara kasar diperlukan puluhan juta meter kubik air. Bahkan jika satu gletser mencair seluruhnya, jumlah air yang dihasilkan diperkirakan masih tidak akan sebesar itu.
Ada pula pendapat bahwa berbagai teori di atas masih belum mampu menjelaskan dari mana volume air yang luar biasa besar tersebut berasal.
Dengan demikian, penyebab sebenarnya dari longsor dahsyat tersebut hingga kini masih menjadi misteri. (***)


