Masyarakat Tiongkok telah minum teh selama ribuan tahun, dan alasan kesehatan untuk mengonsumsinya cukup kuat: daun teh mengandung folat, vitamin, protein, dan mineral yang memberikan manfaat nyata bagi tubuh. Polifenol membantu menetralkan radikal bebas. Kafein meningkatkan konsentrasi. Efek diuretik membantu membuang limbah metabolisme dari tubuh. Hal-hal tersebut telah banyak diketahui.
Namun, yang jarang mendapat perhatian adalah betapa mudahnya manfaat tersebut justru terbuang, serta bagaimana beberapa kebiasaan umum secara perlahan dapat mengubah minuman yang menyehatkan menjadi sesuatu yang justru merugikan.
Apa sebenarnya manfaat teh bagi tubuh?
Mari kita mulai dari antioksidan. Polifenol dalam teh, terutama teh hijau, termasuk salah satu penangkal radikal bebas paling kuat yang ditemukan dalam berbagai makanan atau minuman yang umum dikonsumsi.
Suhu air saat menyeduh teh ternyata lebih penting daripada yang disadari kebanyakan orang. Air dengan suhu sekitar 80 derajat Celsius (176 derajat Fahrenheit) dapat mempertahankan kandungan nutrisi sekaligus cita rasa lembut teh hijau segar. Sementara itu, air mendidih pada dasarnya dapat membuat daun teh terlalu matang sehingga merusak senyawa yang justru ingin Anda dapatkan.
Bukti mengenai perlindungan terhadap radiasi bahkan lebih jauh dari yang diperkirakan banyak orang. Sejumlah penelitian klinis menemukan bahwa ekstrak daun teh yang digunakan bersamaan dengan radioterapi pada pasien kanker menunjukkan tingkat efektivitas di atas 90 persen dalam menangani gejala ringan akibat paparan radiasi, termasuk pada pasien yang mengalami penurunan jumlah sel darah putih akibat pengobatan.
Teh juga mendukung pencernaan. Kandungan kafein, vitamin B1, dan vitamin C dalam teh dapat merangsang sekresi asam lambung sehingga membantu tubuh memecah makanan dan memetabolisme lemak. Kafein yang sama juga membantu menghilangkan kelebihan asam laktat dari jaringan otot. Itulah sebabnya secangkir teh dapat benar-benar membantu mengurangi kelelahan, bukan sekadar menutupinya.
Lima kesalahan yang perlu dihindari
1. Jangan terburu-buru minum teh yang baru dipanen
Teh yang dipetik dalam waktu kurang dari sebulan belum sepenuhnya stabil. Beberapa senyawa tertentu dalam daun yang masih sangat segar belum sempat mengalami oksidasi. Bagi orang yang memiliki lambung sensitif, kondisi tersebut dapat menyebabkan kembung atau rasa tidak nyaman.
Sebaiknya, biarkan teh disimpan setidaknya selama satu bulan setelah dipanen sebelum diseduh.
2. Jangan menyeduh teh terlalu pekat
Teh yang terlalu pekat dapat memberikan stimulasi berlebihan pada sistem kardiovaskular dan saraf. Bagi orang yang memiliki penyakit jantung, risikonya cukup nyata, seperti jantung berdebar dan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan irama jantung tidak teratur.
Bahkan bagi orang yang sehat, kebiasaan menyeduh teh terlalu pekat secara terus-menerus dapat memberikan beban tambahan pada tubuh yang terakumulasi seiring waktu.
3. Jangan minum teh yang sudah didiamkan semalaman
Teh yang dibiarkan selama berjam-jam dapat mengalami peningkatan konsentrasi senyawa tertentu, menjadi lebih rentan terhadap kontaminasi dari udara, serta berpotensi mengganggu penyerapan kalsium.
Sebaiknya, seduh teh dalam keadaan segar.
4. Jangan minum teh segera setelah mengonsumsi alkohol
Minum teh segera setelah mengonsumsi alkohol ternyata dapat memberikan beban lebih besar pada tubuh daripada yang disadari kebanyakan orang.
Alkohol membutuhkan waktu untuk diuraikan oleh tubuh, sementara teh dapat mempercepat pengeluaran cairan melalui ginjal sebelum proses tersebut selesai.
Pengobatan tradisional Tiongkok telah lama mengingatkan agar kedua hal tersebut tidak dikombinasikan. Logika di balik anjuran tersebut cukup masuk akal: berikan waktu kepada tubuh untuk memproses alkohol terlebih dahulu.
Tunggu beberapa jam sebelum kembali minum teh.
5. Jangan minum teh bersamaan dengan makan
Ini adalah hal yang hampir tidak diketahui banyak orang, tetapi cukup penting.
Teh sebaiknya diminum sebelum atau setelah makan, dengan jeda setidaknya 30 menit di kedua sisinya. Polifenol dalam teh dapat berikatan dengan kalsium, zat besi, dan seng yang terdapat dalam makanan sehingga mengurangi jumlah mineral yang dapat diserap tubuh.
Jika Anda terbiasa minum teh bersamaan dengan makanan, dalam jangka panjang Anda mungkin secara perlahan mengurangi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Kondisi tersebut mungkin tidak menimbulkan gejala yang jelas sampai kekurangan nutrisi tersebut terakumulasi selama berbulan-bulan.
Mengubah waktu minum teh tidak membutuhkan biaya apa pun. Namun, manfaatnya nyata.
Untuk mendapatkan teh berkualitas tinggi, Chá Yuán Tea (茶缘茶) di naturenergy.us dapat menjadi pilihan untuk dieksplorasi.
Sumber : Visiontimes.com


