EtIndonesia.com— Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. Setelah gelombang serangan militer Amerika Serikat terhadap berbagai sasaran Iran dalam beberapa hari terakhir, Teheran kini mengumumkan jumlah korban yang ditimbulkan, sementara Israel meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan serangan balasan pada pertengahan September.
Pemerintah Iran pada 3 September 2026 menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat telah menyebabkan sedikitnya 18 orang tewas dan 108 lainnya terluka. Di antara korban tewas disebut terdapat tiga pilot Iran, enam personel Angkatan Laut, empat anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, serta seorang jenderal.
Komposisi korban tersebut memperkuat dugaan bahwa operasi militer Amerika Serikat tidak hanya diarahkan terhadap infrastruktur, tetapi juga kemampuan tempur dan personel penting militer Iran.
Namun, perhatian kini mulai beralih pada perkembangan berikutnya yang berpotensi jauh lebih berbahaya.
Ketegangan Bergeser ke Lebanon Selatan
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah kompleks Taher di Lebanon selatan. Menurut laporan yang beredar, Iran sebelumnya memperingatkan Amerika Serikat bahwa Teheran dapat melancarkan serangan besar terhadap Israel apabila pasukan Israel menyerbu kompleks tersebut.
Ancaman itu muncul setelah pasukan Israel mengepung bunker di kawasan tersebut. Di dalam kompleks dilaporkan terdapat anggota Hizbullah serta sedikitnya 12 personel IRGC, termasuk dua perwira senior.
Namun pada Kamis, 3 September 2026, Israel tetap melanjutkan operasinya.
Divisi ke-36 militer Israel dilaporkan berhasil merebut kawasan strategis Taher, yang disebut telah dikembangkan Hizbullah selama lebih dari dua dekade dengan dukungan Iran.
Dalam operasi tersebut, dua kompleks bawah tanah dihancurkan. Pasukan Israel kemudian mengambil alih kendali operasional di permukaan maupun jaringan bawah tanah.
Fasilitas yang ditemukan dilaporkan mencakup pusat komando, gudang senjata, ruang generator, tempat tinggal personel, dan berbagai fasilitas pendukung. Sejumlah anggota Hizbullah serta personel IRGC dilaporkan tewas, sedangkan sebagian lainnya berhasil melarikan diri.
Apabila ancaman Iran sebelumnya benar-benar merupakan sebuah garis merah, operasi Israel tersebut kini menimbulkan pertanyaan besar: apakah Teheran akan membalas secara langsung?
Israel Bersiap Menghadapi Serangan Iran
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada 3 September memperingatkan bahwa Iran yang semakin tertekan justru dapat menjadi semakin berbahaya.
Menurut Katz, Israel melihat tanda-tanda tekanan ekonomi di Iran semakin berat. Pemerintah Teheran pada saat yang sama disebut menghadapi kekhawatiran terhadap meningkatnya ketidakpuasan masyarakat dan ancaman terhadap stabilitas pemerintahannya.
Dalam pandangan Israel, kombinasi tekanan ekonomi, militer, dan domestik tersebut dapat mendorong Iran mengambil tindakan yang lebih ekstrem.
Katz menegaskan bahwa militer Israel telah mempersiapkan kemampuan pertahanan maupun serangannya untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Apabila Iran menyerang, Israel mengancam akan memberikan respons dalam skala besar.
Peringatan Israel bahkan menyentuh sektor yang sangat sensitif. Infrastruktur energi dan berbagai fasilitas strategis Iran disebut dapat menjadi sasaran apabila perang kembali mengalami eskalasi besar.
Israel juga menaruh perhatian khusus terhadap periode pertengahan September 2026, bertepatan dengan rangkaian hari raya Yahudi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, Israel menilai periode hari raya dapat menjadi salah satu waktu yang dipertimbangkan lawannya untuk melancarkan serangan.
Karena itulah tingkat kesiapan militer Israel terus ditingkatkan.
Netanyahu: Jangan Coba Mengusik Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengeluarkan pernyataan keras pada hari yang sama.
Netanyahu mengatakan Israel yakin mampu menghilangkan ancaman yang dihadapinya secara permanen dan menyebut tujuan tersebut kini semakin dekat.
Ia kemudian menyampaikan peringatan langsung kepada musuh-musuh Israel agar tidak mencoba menyerang negaranya.
Pernyataan Netanyahu memperlihatkan bahwa Israel tampaknya tidak hanya mempersiapkan pertahanan, tetapi juga mempertahankan opsi operasi ofensif berskala besar apabila Iran melancarkan serangan.
Sementara Israel meningkatkan tekanan militernya, pemerintahan Presiden Donald Trump sejauh ini masih memadukan kekuatan militer dengan tekanan ekonomi untuk memaksa Iran mengubah kebijakannya.
Sejumlah laporan menyebut terdapat perdebatan di dalam pemerintahan Trump mengenai bagaimana perang harus dilanjutkan menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026.
Sebagian pejabat disebut ingin mencegah eskalasi besar sebelum pemilu, sementara Washington tetap mempertahankan kemampuan militernya di Timur Tengah.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga dilaporkan telah memperpanjang penempatan sebagian pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Beberapa pengerahan bahkan berpotensi berlanjut hingga 2027.
Washington Memperluas Tekanan Ekonomi
Pada saat bersamaan, Amerika Serikat mulai memperluas kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran menjadi upaya diplomatik internasional.
Menurut laporan media Amerika, Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah menginstruksikan kedutaan-kedutaan Amerika Serikat di berbagai negara untuk menyampaikan démarche atau nota diplomatik kepada pemerintah setempat.
Washington meminta negara-negara tersebut mengurangi dan memutus berbagai hubungan perdagangan dengan Iran.
Artinya, strategi Amerika Serikat kini tidak lagi hanya mengandalkan serangan terhadap kemampuan militer Iran. Washington juga berusaha mempersempit akses Teheran terhadap perdagangan, sistem keuangan, dan mitra ekonomi internasional.
Jika kampanye tersebut berhasil memperoleh dukungan luas, tekanan terhadap perekonomian Iran dapat meningkat secara signifikan.
JD Vance: Hormuz Menentukan Arah Konflik
Perkembangan penting lainnya muncul di Washington pada Kamis, 3 September 2026, ketika Wakil Presiden JD Vance memimpin konferensi pers Gedung Putih.
Dalam konferensi pers tersebut, isu Iran dan keamanan Selat Hormuz menjadi salah satu pembahasan utama.
Vance menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan kembali ke meja perundingan selama Iran masih mengancam kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Ketika ditanya apakah perang dapat berakhir sebelum pemilu paruh waktu pada 3 November, Vance mengatakan durasi konflik sangat bergantung pada kesediaan Iran untuk membiarkan jalur pelayaran di Hormuz tetap terbuka.
Menurut Vance, tingginya harga bahan bakar juga berkaitan dengan gangguan terhadap jalur pelayaran akibat konflik. Serangan terhadap kapal komersial membuat sebagian operator menghindari Selat Hormuz.
Namun, dengan meningkatnya operasi pengawalan militer Amerika Serikat, Washington mengklaim arus transportasi minyak melalui selat strategis tersebut secara bertahap mulai mendekati tingkat sebelum konflik.
Hormuz memiliki arti sangat penting karena merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia. Karena itu, setiap gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi jauh melampaui Timur Tengah.
Amerika Serikat Juga Berbicara dengan Tiongkok
Vance turut mengonfirmasi bahwa Washington telah melakukan pembicaraan dengan Beijing mengenai Iran.
Ketika ditanya apakah Presiden Trump secara langsung meminta Presiden Tiongkok Xi Jinping mencegah bank-bank Tiongkok memberikan layanan keuangan kepada Iran, Vance mengatakan dirinya tidak mengetahui apakah komunikasi langsung antara kedua pemimpin mengenai persoalan tersebut telah berlangsung.
Namun, ia memastikan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Tiongkok memang telah dilakukan.
Menurut Vance, Beijing bahkan telah memberikan respons terhadap sejumlah permintaan Washington.
Ia juga mengklaim banyak negara lain secara diam-diam membantu meningkatkan tekanan terhadap Iran. Vance menyinggung Turki, Arab Saudi, Qatar, Rusia, sejumlah negara Asia, serta negara-negara lain yang menurutnya telah mengambil langkah tertentu di belakang layar meskipun tidak selalu mengumumkannya kepada publik.
Dengan demikian, konflik Iran kini berkembang dalam beberapa lapisan sekaligus.
Di lapangan, Amerika Serikat dan Israel terus menekan kemampuan militer Iran. Di Selat Hormuz, pengamanan jalur perdagangan minyak menjadi pusat perebutan kendali. Sementara di bidang ekonomi, Washington berusaha mempersempit ruang gerak Teheran melalui kampanye internasional.
Perhatian berikutnya akan tertuju pada pertengahan September 2026.
Apabila Iran benar-benar memilih membalas operasi Israel di Lebanon atau menyerang Israel selama periode hari raya Yahudi, konflik yang saat ini masih berada dalam batas tertentu dapat memasuki babak baru yang jauh lebih besar.
Sebaliknya, apabila Teheran menahan diri, tekanan ekonomi dan diplomatik Amerika Serikat kemungkinan akan terus diperketat.
Dengan Israel berada dalam kesiapan tinggi, pasukan Amerika Serikat tetap bertahan di kawasan, dan Iran menghadapi tekanan dari berbagai arah, beberapa pekan mendatang berpotensi menentukan apakah konflik bergerak menuju deeskalasi—atau justru berubah menjadi konfrontasi regional yang lebih luas. (***)


