Setelah kapal perang militer AS diserang rudal oleh Iran, pada Sabtu (5 September), militer AS segera melakukan serangan balasan dengan menghantam tiga kapal tanker minyak Iran. Dua diantaranya dilumpuhkan, sedangkan satu lainnya dihancurkan.
EtIndonesia.com Militer AS dalam pernyataannya pada Sabtu mengatakan bahwa sebuah kapal induk AS dan sebuah kapal perusak sedang melakukan patroli ketika berhasil menghindari beberapa serangan yang disebut berasal dari Iran dan tidak beralasan. Tidak ada personel militer AS yang terluka.
Setelah itu, militer AS melancarkan serangan balasan. Satu kapal tanker minyak Iran diserang di lepas pantai Pulau Kharg, kapal lainnya dihantam di dekat Jask, sementara sebuah tanker yang sedang tidak mengangkut muatan dihancurkan di Teluk Oman. Militer AS juga merilis video terkait serangan tersebut.
Amerika Serikat menyatakan bahwa kapal-kapal tanker tersebut merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai “jaringan bayangan” Iran (shadow network). Jaringan tersebut diduga membantu Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan kelompok-kelompok bersenjata yang menjadi proksinya di Timur Tengah untuk memperoleh dana.
Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, mengatakan bahwa militer AS akan melindungi pasukannya dan, jika diperlukan, akan terus menghancurkan armada kapal tanker minyak Iran yang jumlahnya terbatas dan berada dalam posisi terbuka.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan pada Jumat bahwa Amerika Serikat mungkin akan segera menyerang lokasi yang disebut “Pickaxe Mountain” di Iran. Lokasi tersebut berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang telah mengalami kerusakan parah dan memiliki dua kelompok terowongan bawah tanah.
Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat mengetahui siapa saja yang beraktivitas di lokasi tersebut dan, jika terjadi masalah, AS akan mengambil tindakan.
Trump juga mengatakan bahwa Amerika Serikat telah membersihkan ranjau laut yang dipasang Iran di Selat Hormuz. Pada saat yang sama, berbagai pihak di Timur Tengah kini sedang membangun jalur pipa minyak baru. Dengan demikian, sekalipun Iran masih menguasai Selat Hormuz di masa depan, arti penting strategis selat tersebut mungkin akan jauh berkurang.
Selain itu, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman telah menyusun rancangan resolusi yang bertujuan mendorong Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk membawa masalah nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB. Rancangan tersebut masih dalam tahap pembahasan dan kemungkinan akan dilakukan pemungutan suara pada pekan depan. (***)


