Di daratan Tiongkok, kasus makanan beracun terus bermunculan. Setelah sebelumnya terungkap kasus kubis yang diduga menggunakan formaldehida di Hebei, kini Kabupaten Yuzhong, Lanzhou, Provinsi Gansu, kembali terseret dalam kasus “selada batang yang diberi pewarna”. Berikut laporannya.
EtIndonesia.com Seorang blogger yang membahas edukasi keamanan pangan mengungkapkan bahwa dirinya mengunjungi 13 gudang sayuran di Kabupaten Yuzhong. Di lebih dari separuh gudang tersebut, ia melihat orang-orang menggunakan cairan yang tidak diketahui untuk merendam selada batang.
Di lokasi, blogger tersebut melihat sebuah wadah yang diberi label “bahan tambahan pangan campuran” berisi cairan berwarna hijau apel (apple green). Bahan yang tercantum di dalamnya antara lain Tartrazine (Yellow No. 4), Brilliant Blue (Blue No. 1), dan garam.
Setelah kasus tersebut terungkap, Biro Pertanian Kabupaten Yuzhong dan Biro Pengawasan Pasar menyatakan bahwa dari 53 perusahaan pengumpulan dan penyimpanan sayuran di seluruh wilayah kabupaten, ditemukan 6 perusahaan yang secara ilegal menggunakan pewarna “hijau apel” pada tahap pembelian atau pengumpulan sayuran.
Petugas juga menyita 11,8 ton selada batang di lokasi. Namun, pihak berwenang tidak menjelaskan apakah produk tersebut sebelumnya sudah terlanjur didistribusikan ke wilayah lain.
Mantan pekerja media dari Beijing, yang disebut bermarga Jin, mengatakan kepada NTD bahwa masyarakat Tiongkok selama puluhan tahun telah hidup dalam kondisi seperti ini. Menurutnya, masyarakat sudah terbiasa dengan berbagai persoalan makanan yang tidak aman.
“Selama Zhongnanhai memiliki makanan khusus yang hanya diperuntukkan bagi pejabat, keamanan pangan rakyat biasa tidak akan pernah benar-benar terjamin. Jika makanan khusus itu dihapus dan para pejabat Zhongnanhai hidup seperti masyarakat biasa—ketika membeli bahan makanan mereka juga pergi ke pasar tradisional atau supermarket biasa—pada saat itulah keamanan pangan akan memiliki jaminan,” katanya.
Menurut Jin, persoalan tersebut disebabkan oleh sistem yang berlaku di Partai Komunis Tiongkok. Para pedagang yang tidak bertanggung jawab mengejar keuntungan, sementara hukuman terhadap pelanggaran semacam itu dinilai terlalu ringan.
“Di dalam negeri, bahkan jika hal seperti ini ketahuan, mereka tampaknya tidak perlu membayar harga yang terlalu mahal. Tidak banyak metode hukuman, dan tingkat hukumannya juga sangat ringan. Karena itulah mereka berani mengambil risiko. Masyarakat saat ini seperti berada dalam sebuah pola ‘saling merugikan’: rakyat saling merugikan satu sama lain, sementara pihak yang berkuasa tidak terpengaruh karena mereka memiliki makanan khusus,” ujarnya.
Jin juga mengkritik Partai Komunis Tiongkok karena mempromosikan ateisme, menjalankan gerakan “menghancurkan Empat Kebiasaan Lama” (破四舊) dan menghancurkan kuil-kuil, yang menurutnya telah merusak budaya tradisional Tiongkok dan membuat masyarakat kehilangan batasan moral serta spiritual.
“Sekarang, di Tiongkok daratan, seluruh masyarakat seolah-olah sedang memakan makanan beracun. Hal ini juga sangat berkaitan dengan hilangnya keyakinan masyarakat Tiongkok, serta berkaitan erat dengan puluhan tahun pemerintahan Partai Komunis Tiongkok. Manusia telah kehilangan keyakinan, tidak lagi memiliki batas moral, dan tidak memiliki rasa takut atau hormat terhadap sesuatu yang lebih tinggi. Demi mendapatkan keuntungan, seseorang bisa melakukan apa saja,” katanya.
Jin menegaskan bahwa menurut pandangannya, pemerintahan Partai Komunis Tiongkok yang bersifat diktator merupakan akar dari berbagai persoalan tersebut.
“Hilangnya moral dan budaya menyebabkan masyarakat lapisan bawah saling merugikan. Sistem satu partai menciptakan kelompok istimewa yang memiliki akses terhadap makanan khusus. Itulah sebabnya tidak ada yang benar-benar peduli dengan apa yang dimakan masyarakat biasa. Hanya dengan menghapus sistem pemerintahan satu partai, masalah keamanan pangan dapat diselesaikan secara menyeluruh,” ujarnya.
Reporter NTD: Zhang Zhongyuan dan Gao Yu.


