Jakarta, 7 September 2026 — Di tengah gejolak ekonomi global yang tak kunjung reda, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan sektor jasa keuangan Indonesia tetap dalam kondisi stabil. Keyakinan ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan yang digelar 26 Agustus lalu dan dipaparkan dalam konferensi pers pada Senin (7/9).
Dunia Dilanda Ketidakpastian, Indonesia Masih Tahan Banting
Konflik berkepanjangan di Iran dan penutupan Selat Hormuz masih menjadi momok utama. Gangguan jalur distribusi energi ini memicu lonjakan harga minyak dan komoditas global. Belum lagi fenomena El Nino yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan di berbagai kawasan, mengancam pasokan pangan dunia.
Akibatnya, pertumbuhan ekonomi global melambat. Amerika Serikat mencatat pertumbuhan di bawah ekspektasi, sementara Tiongkok hanya tumbuh 4,3 persen pada kuartal II-2026.
Namun, di tengah badai itu, ekonomi Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang patut diacungi jempol. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 tercatat solid di angka 5,29 persen secara tahunan, ditopang investasi, belanja pemerintah, dan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.
Pasar Modal Menguat, Investor Asing Masih Masuk
Berita baik juga datang dari pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Agustus 2026 ditutup di level 6.525,48, menguat 4,64 persen dibanding bulan sebelumnya.
Yang menarik, investor asing masih menunjukkan minatnya. Tercatat net buy atau pembelian bersih saham domestik mencapai Rp1,19 triliun sepanjang Agustus 2026. Likuiditas pasar pun membaik, dengan rata-rata nilai transaksi harian naik menjadi Rp15,86 triliun.
Di pasar obligasi, minat asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) juga tetap tinggi dengan net buy Rp15,35 triliun.
Investor Makin Banyak, Dana Korporasi Melimpah
Kabar menggembirakan lainnya: jumlah investor di pasar modal terus melonjak. Hingga Agustus 2026, total investor mencapai 31,14 juta, bertambah 1,07 juta hanya dalam satu bulan.
Penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal juga tetap deras. Nilai total fundraising mencapai Rp128,80 triliun hingga Agustus 2026.
Produk Baru: ETF Emas Mulai Dilirik
OJK juga meluncurkan produk investasi anyar, Exchange Traded Fund (ETF) Emas, pada 10 Agustus 2026. Hanya dalam waktu tiga minggu, tujuh produk ETF Emas dari tujuh manajer investasi berhasil mengumpulkan dana kelolaan Rp90,39 miliar.
Produk ini menarik karena memungkinkan masyarakat berinvestasi emas tanpa perlu menyimpan logam mulia secara fisik. ETF Emas juga telah mendapatkan sertifikasi syariah dari Dewan Syariah Nasional MUI.
Literasi Keuangan Lampaui Target 2029
Pencapaian lain yang tak kalah membanggakan datang dari sisi edukasi masyarakat. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan menyentuh 93,61 persen.
Angka ini bahkan sudah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang baru ditargetkan tercapai pada 2029. Artinya, Indonesia berhasil mencapai target literasi keuangan tiga tahun lebih cepat dari jadwal.
Sepanjang Januari—Agustus 2026, OJK telah menggelar 3.557 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 12 juta peserta.
Perang Melawan Pinjol Ilegal dan Penipuan
Di sisi lain, OJK melalui Satgas PASTI terus memerangi aktivitas keuangan ilegal. Hingga Agustus 2026, sebanyak 1.222 entitas ilegal berhasil dihentikan, terdiri dari 951 pinjaman online ilegal, 242 investasi ilegal, 27 gadai ilegal, dan dua aktivitas ilegal lainnya.
Untuk menangani penipuan transaksi keuangan, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang dibentuk OJK bersama Satgas PASTI telah menerima 668.441 laporan sejak mulai beroperasi November 2024. Total dana korban yang berhasil diblokir mencapai Rp771,2 miliar, dan Rp206 miliar di antaranya telah dikembalikan kepada korban.
Perbankan Tetap Sehat
Kinerja perbankan juga menunjukkan tren positif. Pertumbuhan kredit pada Juli 2026 mencapai 13,58 persen secara tahunan, dengan total penyaluran kredit Rp9.135 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,21 persen menjadi Rp10.336 triliun.
Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan tercatat di level 23,84 persen, jauh di atas ambang batas minimum. Ini menandakan perbankan Indonesia memiliki bantalan modal yang kuat untuk menghadapi berbagai risiko.
Dengan berbagai capaian ini, OJK optimistis sektor jasa keuangan Tanah Air akan terus menjadi pilar penopang ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Masyarakat pun diimbau untuk terus meningkatkan literasi keuangan dan mewaspadai berbagai modus penipuan yang kian canggih.


