Belakangan ini, kentang di Mongolia Dalam, Utara Tiongkok mulai memasuki masa panen. Banyak pekerja dari luar daerah datang untuk bekerja memanen kentang. Lebih dari 200 orang, baik pria maupun wanita dari berbagai usia, berdesakan tidur di tempat tidur bersama berukuran besar di sebuah tenda sederhana. Kondisi tempat tinggal mereka sulit dipercaya.
EtIndonesia.com Pada 4 September, seorang warganet mengunggah video mengenai pekerja yang memanen kentang di Mongolia Dalam. Dalam video terlihat bahwa di dalam sebuah tenda sederhana, lantainya berupa tanah. Karena hujan turun, air hujan langsung mengalir masuk ke dalam tenda sehingga lantainya dipenuhi air lumpur keruh.
Di dalam tenda terdapat beberapa deretan tempat tidur model barak. Di antaranya hanya terdapat lorong-lorong sempit. Lebih dari 200 pria dan wanita tidur berdesakan di atas tempat tidur tersebut, satu orang berdempetan dengan orang lainnya, tanpa pembatas apa pun dan sama sekali tidak memiliki privasi.
Seorang pria yang merekam video di dalam tenda berkata: “Celaka, begitu kami sampai di Mongolia Dalam, hujan mulai turun. Kami para pemanen kentang sekarang hanya bisa terjebak di sini. Mata kami sampai terasa biru karena menunggu, tetapi satu sen pun belum berhasil kami dapatkan. Hujannya deras sekali.”
Pria tersebut mengeluh: “Anak-anak muda, kehidupan ke depan tidak akan mudah. Mendapatkan pekerjaan juga tidak mudah… Di dalam ruangan ini semuanya orang. Yang paling tua berusia 75 tahun, yang paling muda 15 tahun. Teman-teman, apakah hidup kami susah? Apakah kami menderita?”
Dalam rekaman lainnya, terlihat sekelompok ibu-ibu yang memanen kentang langsung duduk di ladang untuk makan siang. Makanan mereka sangat sederhana, hanya berupa acar sayuran dan mantou (roti kukus khas tiongkok).
Seorang blogger yang mengaku telah berkecimpung dalam industri kentang di Mongolia Dalam selama delapan tahun mengatakan bahwa banyak orang tidak percaya kondisi tempat tinggal para pekerja pemanen kentang di Mongolia Dalam bisa seburuk itu. Namun, menurutnya, itulah kenyataannya. Karena tekanan kebutuhan hidup, banyak orang tidak memiliki pilihan dan hanya dapat melakukan pekerjaan yang berat dan melelahkan tersebut.
內蒙古撿土豆,幾百人男女混合睡在大棚裏,環境惡劣,但為了生存,許多外省人聚集到這裡做零工。 pic.twitter.com/MQYX20KRSz
— ying tang (@yingtan04410735) September 11, 2026
Video yang diunggah blogger tersebut memperlihatkan seorang perempuan muda yang menggendong seorang anak di punggungnya sambil memanen kentang di ladang. Perempuan itu terus membungkuk, menghadap tanah dengan punggung mengarah ke langit. Kedua tangannya dengan cepat mengambil kentang yang sebelumnya telah dikeluarkan dari tanah, lalu memasukkannya ke dalam kantong yang diikat di pinggang.
Terkadang, ketika merasa kelelahan, ia meletakkan anaknya di tanah dan melanjutkan memanen kentang.
Di antara para pekerja pemanen kentang tersebut terdapat orang lanjut usia dan anak-anak yang masih berusia belasan tahun.
Blogger itu menjelaskan bahwa setiap karung kentang yang berhasil dikumpulkan dibayar 1,8 yuan (RMB). Pekerja yang mampu mengumpulkan banyak kentang dapat memanen beberapa ratus karung dalam sehari dan memperoleh sekitar 500–600 yuan. Sementara itu, pria yang juga bertugas mengangkat karung dapat memperoleh 800–900 yuan per hari.
“Siang hari bekerja keras, malam hari tidur diterpa angin. Badan sangat lelah. Semua uang yang didapat adalah hasil jerih payah.”
Ia juga mengatakan bahwa banyak pekerja dari Yunnan, Guizhou, dan Sichuan datang ke Mongolia Dalam untuk memanen kentang. Menurutnya, khususnya perempuan dari Sichuan dikenal sangat tahan bekerja keras. Bahkan ketika menggendong anak di punggung, mereka terkadang mampu memanen lebih banyak dibandingkan pekerja lainnya.
內蒙古撿土豆,幾百人男女混合睡在大棚裏,環境惡劣,但為了生存,許多外省人聚集到這裡做零工。 pic.twitter.com/8s2DfAqDPZ
— ying tang (@yingtan04410735) September 11, 2026
Setelah kentang dipanen dan dimasukkan ke dalam karung, para pekerja mengangkatnya ke tepi ladang agar mudah dimuat ke kendaraan. Ada pula pekerja yang mengikuti kendaraan dan melemparkan karung satu per satu ke atas truk. Kendaraan terus bergerak maju tanpa berhenti, sementara pekerja yang mengangkat karung harus mengikuti kecepatannya.
Mereka membawa karung dari ujung ladang hingga ke titik pemuatan. Praktis tidak ada kesempatan untuk beristirahat. Pekerjaan fisik yang sangat berat ini umumnya dilakukan oleh pria dewasa.
Pekerjaan memanen kentang berlangsung 10–12 jam sehari. Selain beristirahat untuk makan siang di ladang, pada dasarnya hampir tidak ada waktu untuk berhenti. Setelah menyelesaikan pekerjaan seharian, para pekerja kembali ke tenda sederhana untuk beristirahat dan tidur. Keesokan harinya mereka bangun dan kembali bekerja.
Pekerjaan memanen kentang tidak berlangsung lama, biasanya hanya sekitar setengah bulan hingga 20 hari, dan umumnya terkonsentrasi dari pertengahan September hingga awal Oktober.
Meskipun sangat melelahkan, banyak orang tetap bersedia datang karena pekerjaan tersebut dapat menghasilkan uang.
Bagi para pekerja musiman dari luar daerah ini, penghasilan tersebut merupakan bagian yang cukup besar dari pendapatan mereka sepanjang tahun.
Video mengenai pekerja yang memanen kentang di Mongolia Dalam memicu perdebatan di platform X. Warganet berkomentar:
“Kentang sudah bisa dipanen menggunakan mesin sejak lama. Satu-satunya alasan masih menggunakan tenaga manusia adalah karena tenaga kerja di tiongkok lebih murah daripada mesin.”
Warganet lainnya berkata: “Inilah alasan mengapa sayuran di tiongkok begitu murah.”
Reporter Luo Tingting, dirangkum dari berbagai sumber / Editor Wen Hui


