Jumlah Warga Jepang Berusia 100 Tahun untuk Pertama Kalinya Menembus 100 Ribu, Meningkat 700 Kali Lipat dalam Lebih dari 60 Tahun 

Menjelang perayaan Hari Penghormatan kepada Lansia di Jepang, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang mengumumkan bahwa jumlah penduduk berusia 100 tahun ke atas kembali mencatat rekor tertinggi dan untuk pertama kalinya menembus angka 100 ribu orang.

EtIndonesia.com Hingga 1 September 2026, jumlah warga Jepang yang berusia 100 tahun ke atas mencapai 107.677 orang, bertambah 7.914 orang dibandingkan tahun lalu. Perempuan menyumbang hampir 90 persen (87,6 persen), atau sebanyak 94.298 orang, sedangkan laki-laki berjumlah 13.379 orang.

Perempuan tertua di Jepang adalah Fuyo Kishimoto dari Kota Kyoto. Ia lahir pada 20 Desember 1911 dan kini berusia 114 tahun. Sementara itu, pria tertua adalah Hikaru Kato dari Kota Kumamoto. Ia lahir pada 2 Mei 1914 dan kini berusia 112 tahun.

Jumlah penduduk Jepang yang berusia 100 tahun ke atas terus meningkat sejak statistik ini mulai dicatat pada 1963. Ketika Undang-Undang Kesejahteraan Lansia diberlakukan pada 1963, jumlah warga berusia 100 tahun ke atas di seluruh Jepang hanya 153 orang. 

Pada 1998, jumlahnya untuk pertama kali melampaui 10 ribu orang, kemudian menembus 50 ribu orang pada 2012, dan kini telah mencapai lebih dari 100 ribu orang. Dibandingkan dengan 1963, jumlah tersebut meningkat lebih dari 700 kali lipat dalam kurun lebih dari 60 tahun.

Setiap tahun dalam perayaan Hari Penghormatan kepada Lansia, perdana menteri Jepang mengirimkan surat ucapan selamat dan hadiah kenang-kenangan kepada warga yang berusia 100 tahun. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka terhadap perkembangan masyarakat, sekaligus meningkatkan perhatian dan pemahaman publik terhadap kesejahteraan lansia.

Selain memiliki banyak warga berusia 100 tahun ke atas, Jepang juga memiliki angka harapan hidup yang tinggi. Statistik tahun 2025 menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup perempuan Jepang mencapai 87,33 tahun, tertinggi di antara negara-negara di dunia. Sementara itu, rata-rata harapan hidup laki-laki mencapai 81,35 tahun, menempati peringkat ketujuh dunia. Dibandingkan tahun sebelumnya, harapan hidup perempuan meningkat 0,20 tahun, sedangkan laki-laki meningkat 0,25 tahun.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup perempuan Jepang umumnya lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Salah satu penyebabnya adalah laki-laki memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi, seperti kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan. 

Selain itu, laki-laki juga menghadapi risiko kematian dini yang lebih tinggi akibat faktor eksternal seperti bunuh diri dan kecelakaan. Perbedaan ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan jumlah perempuan berusia 100 tahun ke atas di Jepang jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki. (***)

INSPIRASI ERABARU

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

Mid Autumn dalam Syair: Bagaimana Para Penyair Timur dan Barat Menemukan Inspirasi dari Pergantian Musim

Dari Danau Dongting yang diterangi cahaya bulan dalam puisi Li Bai hingga angin barat yang liar dalam karya Shelley, para penyair selama berabad-abad di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine