Iran Mulai Bergejolak! Toko-Toko Tutup Massal, Teheran Tiba-Tiba Ingin Berdamai dengan AS

EtIndonesia.com Pada Rabu, 16 September 2026, sejumlah kota di wilayah barat Iran mengalami gelombang penutupan toko dan pasar secara luas. Aksi tersebut berlangsung ketika tekanan politik, keamanan, dan ekonomi terhadap pemerintah Iran terus meningkat, sementara Teheran pada saat yang sama mulai menunjukkan sinyal untuk kembali mengedepankan jalur diplomasi dalam menghadapi Amerika Serikat.

Rekaman video dan laporan yang diterima Iran International memperlihatkan deretan toko dengan pintu tertutup di sejumlah kota, termasuk Saqqez, Sanandaj, Marivan, Baneh, Kermanshah, Oshnavieh, Bukan, Paveh, dan Divandarreh. Aksi serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa kota lain yang memiliki populasi Kurdi cukup besar.

Penutupan kegiatan perdagangan tersebut bertepatan dengan peringatan empat tahun wafatnya Mahsa Jina Amini pada 16 September 2022. Perempuan muda Kurdi berusia 22 tahun itu meninggal setelah ditahan polisi moral Iran. Kematiannya kemudian memicu gelombang demonstrasi besar yang dikenal melalui slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” atau Woman, Life, Freedom.

Menurut IranWire, aksi pada 16 September 2026 berlangsung luas. Di Saqqez, kampung halaman Amini, penutupan tidak hanya terjadi di kawasan perdagangan utama, tetapi juga merambah toko-toko di jalan sekunder dan kawasan permukiman. Sehari sebelumnya, pada 15 September, pejabat lokal disebut telah bertemu perwakilan kelompok perdagangan dan meminta agar aktivitas komersial tetap berjalan. Namun, pada keesokan harinya banyak pedagang tetap memilih menutup usaha mereka.

Situasi keamanan pun diperketat.

Laporan dari beberapa organisasi pemantau hak asasi manusia menyebut aparat keamanan dikerahkan di sejumlah kota. Polisi, unit anti-huru-hara, serta kendaraan keamanan terlihat berpatroli. Kurdistan Human Rights Network juga melaporkan bahwa aparat keamanan telah berada dalam kondisi siaga menjelang peringatan tersebut.

Dengan demikian, penutupan toko kali ini bukan semata-mata persoalan ekonomi. Aksi tersebut memiliki dimensi politik dan simbolis yang kuat karena berlangsung tepat empat tahun setelah kematian Amini dan gelombang demonstrasi besar pada 2022.

Di tengah perkembangan domestik itu, perhatian internasional justru tertuju pada langkah diplomatik Iran.

Pada 16 September 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berada di Beijing dan mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Pertemuan tersebut menjadi penting karena berlangsung ketika hubungan Iran-Amerika Serikat masih diliputi ketegangan dan jalur pelayaran strategis di kawasan menghadapi gangguan serius.

Dalam pertemuan tersebut, Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak berkepentingan untuk terus memperpanjang konflik dengan Amerika Serikat. Teheran, menurut pernyataannya, tetap terbuka terhadap jalur diplomasi selama kepentingan dan hak-hak Iran dapat dijamin.

Sementara itu, Wang Yi menyampaikan pesan yang cukup jelas kepada kedua pihak.

Tiongkok mendorong Iran dan Amerika Serikat untuk tetap rasional, menahan diri, serta kembali pada kerangka Nota Kesepahaman Islamabad yang dicapai pada Juni 2026 melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Beijing juga menyerukan agar mekanisme perundingan kembali dibangun berdasarkan konsensus yang sebelumnya telah dicapai.

Yang tidak kalah penting, Wang Yi secara terbuka menyerukan langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz sesegera mungkin.

Bagi Beijing, persoalan Selat Hormuz bukan sekadar konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Gangguan berkepanjangan berpotensi memengaruhi harga minyak, biaya transportasi, hingga stabilitas rantai pasokan internasional.

Wang mengatakan semua pihak perlu mengambil langkah efektif untuk menjamin keamanan dan kelancaran jalur pelayaran internasional serta menjaga stabilitas transportasi energi global. Tiongkok juga menyatakan tidak menginginkan ketegangan kawasan semakin meluas ke Yaman dan Laut Merah.

Pertemuan Araghchi-Wang menjadi semakin menarik karena berlangsung menjelang rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Karena itu, sikap Beijing terhadap Iran kini mendapatkan perhatian lebih besar. Di satu sisi, Tiongkok tetap menegaskan Iran sebagai mitra strategis dan menyatakan kesediaannya melindungi kepentingan sah Teheran. Namun di sisi lain, Beijing secara terbuka meminta Iran dan Amerika Serikat menahan diri, kembali berunding, serta memulihkan kelancaran pelayaran di Hormuz.

Ada pula persoalan lain yang membayangi hubungan Washington-Beijing.

Dalam laporan yang diterbitkan The Wall Street Journal, pejabat Amerika Serikat disebut mengaitkan citra satelit beresolusi tinggi yang diperoleh Iran dari entitas Tiongkok dengan serangan rudal Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada 17 Juli 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan tiga personel militer Amerika dan melukai empat lainnya.

Namun, terdapat perbedaan penting yang perlu diperjelas.

Laporan itu tidak menyimpulkan bahwa pemerintah Xi Jinping secara langsung memberikan citra satelit kepada Iran. Kekhawatiran Washington berpusat pada keterlibatan entitas atau perusahaan Tiongkok serta kemungkinan teknologi dan data tersebut membantu meningkatkan kemampuan Iran dalam menentukan sasaran. Beijing sendiri membantah tuduhan melakukan tindakan yang melanggar hukum internasional.

Karena itu, klaim yang beredar di media sosial bahwa insiden tersebut membuat Xi Jinping sangat khawatir atau bahwa Perdana Menteri Li Qiang menyarankan Xi membatalkan perjalanan tertentu tidak dapat diperlakukan sebagai fakta tanpa bukti tambahan dari sumber yang kredibel.

Jika seluruh perkembangan pada 16 September 2026 dilihat secara bersamaan, Iran kini menghadapi tekanan dari beberapa arah.

Di dalam negeri, aksi penutupan toko di kota-kota wilayah barat memperlihatkan bahwa simbol dan ingatan terhadap gerakan protes 2022 masih memiliki pengaruh. Pada saat yang sama, tekanan ekonomi dan keamanan terus menjadi persoalan serius bagi pemerintah.

Di luar negeri, Teheran harus menghadapi konflik dengan Amerika Serikat sekaligus mempertahankan hubungan dengan Tiongkok, salah satu mitra ekonomi dan pembeli minyak Iran yang paling penting.

Beijing juga berada dalam posisi yang rumit. Tiongkok berkepentingan mempertahankan hubungan strategis dengan Iran, tetapi pada saat bersamaan membutuhkan stabilitas jalur perdagangan energi dan berusaha mencegah konflik Timur Tengah semakin mengganggu perekonomian global.

Itulah sebabnya pertemuan Araghchi dan Wang Yi di Beijing menjadi lebih dari sekadar pertemuan diplomatik rutin.

Pesan yang muncul pada 16 September cukup jelas: Iran mulai kembali membuka ruang diplomasi, sementara Tiongkok mendorong deeskalasi dan pemulihan jalur pelayaran internasional.

Apakah perkembangan ini benar-benar menjadi awal dari kembalinya Iran dan Amerika Serikat ke meja perundingan, atau hanya langkah taktis menjelang pertemuan Trump-Xi, masih harus dilihat dari perkembangan berikutnya.

Namun satu hal terlihat jelas. Ketika tekanan domestik di Iran kembali muncul dan ketidakstabilan kawasan mengancam jalur energi dunia, ruang bagi diplomasi kini kembali mendapatkan perhatian besar—dan Beijing berusaha menempatkan dirinya di tengah proses tersebut. (***)

INSPIRASI ERABARU

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

Mid Autumn dalam Syair: Bagaimana Para Penyair Timur dan Barat Menemukan Inspirasi dari Pergantian Musim

Dari Danau Dongting yang diterangi cahaya bulan dalam puisi Li Bai hingga angin barat yang liar dalam karya Shelley, para penyair selama berabad-abad di...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine