Shoba Rajamani
Anda sibuk, terlalu banyak bekerja, dan mengalami stres. Terkadang Anda bahkan hampir tidak menyadari apa yang sedang Anda makan—atau siapa yang duduk di hadapan Anda. Dengan gaya hidup yang serba cepat saat ini, tidak ada yang dapat menyalahkan Anda karena makan terburu-buru. Namun, tahukah Anda bahwa Anda hanya dapat benar-benar menikmati makanan ketika memperlambat cara makan?
Suatu ketika, seorang teman baik mengundang saya ke sebuah restoran terkenal di Bangalore untuk merayakan keberhasilannya mendapatkan pekerjaan baru. Karena sedang berada di bawah tekanan pekerjaan, saya sempat ragu. Namun, penulis berpikir, “Saya harus pergi untuk ikut merasakan kebahagiaannya; lagi pula, mungkin penulis tidak akan mendapatkan kesempatan lain untuk datang ke restoran ini!”
Penulis menerima undangan tersebut meskipun jadwal penulis padat, tetapi penulis tidak benar-benar dapat menikmati makanan. Pikiran penulis terus kembali kepada pekerjaan.
Ketika melihat ke belakang, saya menyadari betapa mudahnya kita melewatkan hal-hal baik dalam hidup. Kita makan dengan terburu-buru, nyaris tidak memperhatikan makanan atau orang yang menemani kita, lalu beralih ke tugas berikutnya.
Makan Tergesa-gesa Membuat Banyak Hal Terbuang
Meskipun kita mungkin meluangkan waktu untuk memilih makanan berkualitas, bahkan menyiapkan dan menyajikannya dengan indah, apa gunanya jika makanan tersebut hanya ditelan dengan tergesa-gesa? Ketika kita makan terburu-buru, yang hilang bukan sekadar kenikmatan makan.
Nutrisi yang Hilang
Mengunyah merupakan langkah pertama dalam proses pencernaan. Mengunyah memecah makanan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dengan luas permukaan lebih besar sehingga enzim dalam usus dapat bekerja dan mengekstrak nutrisi. Proses mengunyah juga melepaskan enzim di dalam mulut yang membantu memulai proses pencernaan.
Ketika kita tidak meluangkan waktu untuk mengunyah dengan benar, banyak vitamin dan mineral penting dapat hilang—terperangkap di dalam partikel makanan yang lebih besar sehingga tidak tersedia untuk diserap tubuh.
Pada saat yang sama, lambung mendapat beban kerja yang lebih besar daripada yang mampu ditanganinya. Ketika tubuh berusaha menghasilkan enzim yang diperlukan untuk menyelesaikan pencernaan, proses tersebut dapat tertunda sehingga penyerapan nutrisi menjadi lebih lambat.
Makanan yang hanya dikunyah sebagian juga dapat mengubah kandungan air dalam tinja dan menyebabkan diare. Diare kronis maupun diare yang terjadi segera setelah makan juga dikaitkan dengan hilangnya nutrisi.
Dalam jangka panjang, berkurangnya asupan nutrisi dapat menyebabkan kekurangan zat gizi dan masalah kesehatan serius.
Kenyamanan yang Berkurang
Menelan makanan dengan tergesa-gesa dapat menyebabkan kita ikut menelan udara, yang dapat menyebabkan kembung dan sendawa—suatu kondisi yang disebut aerophagia.
Selain itu, karena makanan yang tidak dikunyah dengan baik dapat memicu pertumbuhan bakteri berlebih di dalam usus, makan terlalu cepat dapat berkontribusi terhadap kembung, gangguan pencernaan, dan kondisi yang lebih serius seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) serta penyakit refluks gastroesofagus (GERD).
Berkurangnya Kepuasan
Makanan seharusnya dinikmati. Ketika kita terburu-buru menghabiskan makanan, kita hampir tidak menyadari aroma, rasa, tekstur, atau tampilannya. Jika kita memperlakukan makan hanya sebagai tugas lain yang harus segera diselesaikan, kita gagal menghargai makanan tersebut. Meskipun makanan itu membuat kita kenyang, kita tetap dapat merasa tidak puas.
Hilangnya Koneksi
Secara tradisional dan dalam berbagai budaya, makanan dianggap sakral. Sebagai anugerah dari Sang Pencipta, makanan dihormati dan disantap dengan penuh rasa syukur. Ketika kita tidak meluangkan waktu untuk menghargai makanan, kita gagal menyadari berkah tersebut dan menjadi terputus dari Yang Ilahi.
Setiap kali kita duduk sambil menikmati camilan di depan layar, kita kehilangan kesempatan untuk terhubung dengan orang lain.
Selain itu, makan secara sekadarnya dapat membuat kita kehilangan hubungan dengan tubuh sendiri. Jika kita makan hanya berdasarkan waktu, kita sering mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh. Makan dengan cepat membuat kita mudah memasukkan terlalu banyak makanan ke dalam mulut sebelum otak menerima pesan bahwa lambung sudah kenyang, sehingga menyebabkan makan berlebihan.
Cara Memaksimalkan Kenikmatan Makanan
Seperti yang dapat dilihat, makan terburu-buru mungkin menghemat waktu, tetapi dapat menimbulkan kerugian dalam hal lain. Untungnya, ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu kita memaksimalkan manfaat dan kenikmatan makanan.
Fokus pada Makanan Anda
Berikan perhatian penuh pada makanan. Singkirkan ponsel agar Anda tidak tergoda untuk menggulir layar, mengirim pesan, atau menonton video.
Jika memungkinkan, makanlah di meja. Menciptakan suasana makan yang tenang dapat membuat waktu makan lebih menyenangkan.
Perhatikan makanan Anda. Perhatikan tampilannya, aroma, rasa, dan teksturnya. Dapatkah Anda mengenali bahan-bahan yang digunakan? Bagaimana Anda akan menggambarkannya kepada seorang teman? Apakah Anda akan mengubah resepnya?
Perlambat
Ambillah suapan yang lebih kecil dan kunyahlah dengan baik. Luangkan waktu untuk benar-benar merasakan makanan dan membuatnya lunak sebelum menelannya.
Letakkan alat makan Anda di meja di antara setiap suapan. Kebiasaan sederhana ini secara alami memperlambat ritme makan dan memberi Anda waktu untuk berhenti sejenak sebelum mengambil suapan berikutnya.
Makan dengan Penuh Syukur
Makanlah dengan penuh rasa syukur. Sebuah hidangan tidak harus mahal atau mewah agar dapat dihargai. Bahkan makanan sederhana yang dimasak di rumah merupakan sebuah berkah yang luar biasa.
Renungkan perjalanan luar biasa setiap bahan makanan hingga akhirnya tiba di piring Anda, serta semua orang yang berperan dalam proses tersebut.
Panjatkan doa sebagai ungkapan penghargaan atas makanan lezat dan bergizi yang diberikan oleh Sang Pencipta, serta bagikan rasa syukur tersebut kepada orang lain.
Bahan untuk Direnungkan
Kita sering begitu terburu-buru menghabiskan makanan sehingga lupa untuk benar-benar menikmatinya. Kita mungkin menganggap makan sekadar sebagai cara untuk memuaskan rasa lapar atau memberi nutrisi kepada tubuh. Namun, bagaimana kita makan dapat sama pentingnya dengan apa yang kita makan.
Ketika kita memperlambat cara makan, kita mendapatkan nutrisi yang lebih baik, kepuasan yang lebih besar, kesehatan yang lebih baik, serta hubungan yang lebih kuat dalam berbagai aspek kehidupan.
Pelajaran sederhananya adalah:
“Makanan bukan untuk disantap dengan terburu-buru. Makanan untuk dihargai, dinikmati, dan dibagikan.”
Itulah cara Anda mendapatkan manfaat dan kenikmatan maksimal dari makanan.
Sumber : Visiontimes.com
Shoba tinggal di Bangalore dan menggambarkan dirinya sebagai pribadi kreatif, suka berpetualang, pencinta film, pembaca novel, dan pemain bulu tangkis. Ia bermimpi suatu hari nanti dapat menulis buku anak-anaknya sendiri.


