ITS Siap Terima Mahasiswa Disabilitas Tahun Depan, Sembilan Prodi Jadi Garda Terdepan

Surabaya – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mempercepat pemenuhan fasilitas inklusif untuk menerima mahasiswa disabilitas mulai tahun depan. Keseriusan ini disampaikan dalam kegiatan Inclusive Campus Implementation Academy: Seminar dan Workshop Kampus Inklusif, Akomodasi yang Layak dan Kesiapan Departemen Berbasis GEDSI dan Gender Action Plan di Auditorium Gedung Research Center ITS, Selasa (20/10).

Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Teknologi Sistem Informasi ITS Imam Baihaqi ST MSc PhD memaparkan enam bidang aksi Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) di ITS. Keenam bidang itu meliputi target privileged access management dan pengakuan, fondasi kelembagaan, kapasitas dan kesadaran, kemitraan dan pembelajaran, audit kampus inklusif, serta tindak lanjut.

Imam menegaskan ITS siap menerima mahasiswa baru disabilitas tertentu pada 2027 melalui seleksi jalur Mandiri Prestasi atau Reguler. Sembilan departemen yang disiapkan menerima mahasiswa disabilitas adalah Statistika, Biologi, Aktuaria, Studi Pembangunan, Manajemen Bisnis, Teknik Sistem dan Industri, Teknik Kelautan, Teknik Informatika, serta Perencanaan Wilayah dan Kota.

Tim Ahli Pusat Layanan Difabel Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Rofah SAg BSW MA PhD menekankan empat aspek dalam membangun kampus inklusif: pola pikir, tanggung jawab, penganggaran, dan layanan. “Institusi perlu membuat kebijakan yang mengikutsertakan dan mendukung mahasiswa disabilitas dari segi fasilitas hingga pengajaran,” ujarnya.

Rofah menyoroti masih minimnya teknologi bantu untuk mahasiswa disabilitas di Indonesia. Karena itu, riset teknologi di ITS diharapkan mempercepat pemenuhan alat bantu, seperti *screen reader* untuk mahasiswa tunarungu atau transfer file dengan spesifikasi bacaan khusus bagi mahasiswa disleksia.

Founder & Chair of Advocacy for Disability Inclusion (AUDISI) Foundation Yustitia M Arief SH Adv menegaskan pemahaman tepat tentang disabilitas menjadi bekal penting bagi sivitas akademika. Ia menekankan hambatan sesungguhnya ada pada lingkungan, bukan semata kondisi individu. “Disabilitas bukan semata kondisi pada diri seseorang. Hambatan sesungguhnya ada pada lingkungan, baik berupa tangga tanpa jalur landai maupun stigma yang masih melekat,” ujarnya.

Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2016, ragam disabilitas terbagi menjadi fisik, sensorik, intelektual, dan mental. Yustitia mengimbau istilah tuna ditinggalkan dan diganti dengan penyebutan yang lebih menghormati, seperti disabilitas netra atau tuli. Ia juga meluruskan perbedaan disabilitas mental dan intelektual: disabilitas mental berkaitan dengan kejiwaan dan interaksi sosial, termasuk autisme, sedangkan disabilitas intelektual berkaitan dengan daya pikir.

Langkah ITS ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin ke-10 tentang Pengurangan Kesenjangan. Bagi dunia pendidikan tinggi, kesiapan fasilitas dan layanan inklusif menjadi investasi jangka panjang untuk memperluas akses sumber daya manusia unggul dari seluruh kelompok masyarakat.

INSPIRASI ERABARU

Menguak Mekanisme Otak dalam Melindungi Ingatan Tertentu

Shoba Rajamani Jika seseorang ditanya apa yang mereka makan siang dua hari lalu, kemungkinan besar mereka hanya akan menatap dengan pandangan kosong. Namun, jika orang...

Jangan Menunda untuk Memaafkan

Setiap hari kita menunda memberikan maaf akan memperdalam lingkaran kebencian dan luka batin yang semakin sulit untuk dilepaskan Mike Donghia Ada kalanya penulis berharap suatu hubungan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine