Manokwari Selatan – Ketergantungan petani terhadap cuaca menjadi salah satu penghambat pascapanen. Di kawasan transmigrasi Margorukun, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, proses pengeringan hasil panen selama ini bergantung pada kondisi alam dan pasokan listrik yang kerap terganggu. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pun menawarkan solusi: Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk menggerakkan mesin pengering padi.
Tim yang dipimpin Muhammad Lukman Hakim ST MT itu menghadirkan PLTS dengan sistem*off-grid. Sistem ini memungkinkan mesin pengering beroperasi tanpa bergantung pada jaringan listrik umum. “Dengan sistem ini, PLTS dapat menjadi alternatif sumber energi untuk mendukung operasional mesin pengering padi di Kampung Margorukun,” terang Lukman.
PLTS yang dirancang memiliki kapasitas daya puncak 5 kilowatt-peak (kWp) atau sekitar 5.000 watt-peak, dilengkapi sembilan panel fotovoltaik. Dengan daya tersebut, sistem diperkirakan mampu mendukung mesin pengering padi berkapasitas hingga 2 ton. Daya listrik yang dihasilkan dalam penggunaan nyata bergantung pada intensitas sinar matahari, kondisi panel, dan konfigurasi sistem.
Agar petani mampu mengoperasikan secara mandiri, tim ITS menggelar sosialisasi dan pelatihan di Balai Kampung Margorukun, Senin (19/10). Kegiatan ini menghadirkan Elok Faizatul Hikmah, insinyur kelistrikan yang berfokus pada sistem energi terbarukan, serta Volta Amcos Kusuma, pakar teknik elektro, sebagai pemberi materi.
Pelaksana Tugas Kepala Distrik Oransbari I Gede Wisnu Wardana menyambut baik kegiatan tersebut. “Apresiasi yang tinggi kami berikan atas terselenggaranya sosialisasi dan pelatihan untuk merencanakan, memasang, dan merawat sistem PLTS secara mandiri,” ujarnya.
Bagi petani, kehadiran PLTS ini bukan sekadar soal energi. Pengeringan yang tidak lagi bergantung cuaca dapat mempercepat proses pascapanen, menekan risiko kerusakan gabah, dan menjaga kualitas hasil panen. Dalam jangka panjang, ketahanan pangan lokal dan pendapatan petani berpeluang lebih stabil.
Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pemanfaatan energi surya untuk pengeringan padi menjadi alternatif sumber energi bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan proses pascapanen ketika cuaca dan pasokan listrik menjadi kendala.


