Wabah Demam Babi Afrika Merebak di Tiongkok, Penjualan Panik Picu Anjloknya Harga Babi

Demam Babi Afrika merebak secara luas di Tiongkok. Peternakan babi menjual ternak mereka secara panik tanpa memperhitungkan biaya, sehingga menyebabkan harga babi anjlok. Dalam beberapa hari terakhir, harga rata-rata babi hidup di Tiongkok kembali turun hingga di bawah 5 yuan RMB per jin (setengah kilogram). Banyak peternak tidak sanggup menanggung kerugian dan memilih keluar dari bisnis peternakan babi. Sementara itu, otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) justru menutupi wabah tersebut dan membiarkan babi yang terinfeksi masuk ke pasar.

EtIndonesia.com Harga babi di Tiongkok terus merosot. Pada 18 Oktober, harga rata-rata babi hidup secara nasional tercatat sebesar 4,89 yuan per jin. Pada 19 Oktober, harga penawaran untuk babi standar dengan berat sekitar 110 jin hampir seluruhnya turun di bawah 5 yuan per jin.

Pemilik peternakan babi mengungkapkan bahwa harga transaksi sebenarnya bahkan lebih rendah. Banyak peternak tidak sanggup menanggung kerugian dan akhirnya meninggalkan usaha tersebut. 

Dahulu, seekor anak babi dapat dijual seharga 200–300 yuan, tetapi sekarang bahkan ketika diberikan secara cuma-cuma pun tidak ada yang mau memeliharanya. Para penjual pakan dan obat-obatan untuk babi juga ikut terdampak.

Yang, pemilik peternakan babi di Yunnan, mengatakan, “Semua orang mengeluhkan harga babi yang terus lesu. Harga babi standar turun dari 6 yuan, menjadi 5 yuan, lalu 4 yuan, bahkan ada yang jatuh hingga 3 yuan.” 

“Dalam dua hari terakhir, saya menjual babi dengan berat lebih dari 400 jin seharga 5,8 yuan per jin. Saya rugi! Kerugian saya lebih dari 600 yuan untuk setiap ekor babi. Tahun ini saya sudah merugi 200.000 yuan. Tahun ini, siapa pun yang berkaitan dengan bisnis babi pasti merugi.”

Pemilik peternakan tersebut juga mengungkapkan bahwa penyebab utama anjloknya harga babi di Tiongkok adalah wabah Demam Babi Afrika. Tahun ini, virulensi galur virus yang bermutasi disebut semakin kuat dan penyebarannya berlangsung cepat. Hampir semua babi di Jiangxi dilaporkan mati, sedangkan di Guangxi, setelah banjir melanda, hanya tersisa sedikit babi yang masih hidup. Para peternak khawatir babi mereka terinfeksi sehingga seluruh modal akan lenyap. Akibatnya, mereka menjual ternak secara panik tanpa mempedulikan kerugian.

Wang, pemilik peternakan babi di Henan, mengatakan, “Ketika menghadapi wabah, rasanya benar-benar ingin menangis tetapi tak ada yang bisa dilakukan. Sejujurnya, berapapun uang yang ditawarkan, kami akan menjualnya. Harga 4 yuan per jin atau 3 yuan per jin pun tetap bisa dijual. Kehidupan peternak babi benar-benar menyedihkan. Semuanya merugi.” 

“Ada yang baru mencapai titik impas pada harga di atas 6 yuan per jin, ada pula yang harus menjual dengan harga 7 yuan. Itu juga bergantung pada ukuran babi yang dipelihara. Untuk babi berbobot lebih dari 400 jin, harga 7,5 yuan per jin baru cukup untuk menutup biaya.”

Li, pemilik peternakan babi di Hubei, mengatakan, “Demam Babi Afrika merebak secara luas. Di wilayah Jiangxi yang mengalami wabah parah, tingkat penyebarannya mencapai 80 hingga 90 persen. Di seluruh wilayah kabupaten kami, hampir semua babi mulai menunjukkan gejala dalam waktu sekitar satu minggu.” 

“Ini merupakan pukulan yang mematikan, sehingga harga babi tidak mungkin naik. Perusahaan-perusahaan peternakan besar pun tidak mampu bertahan. Banyak yang mengosongkan seluruh peternakannya. Mereka tidak akan memberitahu Anda. Jika hal ini diungkapkan, bukankah harga saham mereka akan hancur?”

Pada akhir Maret hingga April tahun ini, harga babi hidup di sejumlah wilayah Tiongkok juga pernah turun di bawah 5 yuan per jin, mencatat titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala peternakan babi dari sebuah grup perusahaan besar di Henan mengungkapkan bahwa kapasitas produksi peternakan milik grup tersebut sudah berlebihan dan kondisi keuangannya sedang tertekan. Mereka menjual babi secara besar-besaran sehingga mendorong harga turun. Setelah wabah Demam Babi Afrika merebak, harga babi semakin terpuruk hingga mengalami kehancuran. Sementara itu, pihak berwenang menutupi wabah tersebut dan membiarkan babi yang terinfeksi masuk ke pasar.

Zhang, kepala peternakan babi di Henan, mengatakan, “Peternakan milik grup perusahaan terus menjual babi standar secara besar-besaran. Pemimpin industri, Muyuan, bahkan menjual babi-babi kecil standar dengan berat di bawah 90 kilogram dan 105 kilogram. Hasil pemeriksaan laboratorium dan laporan pengujian dari Universitas Pertanian Henan menunjukkan hasil positif. Kalian sama sekali tidak akan mengetahuinya, karena mereka menjual babi pada malam hari.”

Laporan wawancara dan liputan oleh Xiong Bin dan Bai Ni, NTD.

INSPIRASI ERABARU

5 Rahasia Menjalani Hari Tua dengan Hati Lapang dan Bebas dari Kepahitan

Mike DonghiaMensyukuri hal-hal baik yang kita miliki merupakan salah satu cara untuk melawan pandangan hidup yang dipenuhi kepahitan.Kita semua mungkin pernah bertemu seseorang yang...

Terjebak dalam Kesibukan: Mengapa Tak Punya Waktu Justru Menjadi Kebanggaan, dan Bagaimana Membebaskan Diri

Oleh Shoba Rajamani Jika Anda bertanya kepada teman atau rekan kerja tentang kabar mereka, kemungkinan besar Anda akan mendapatkan jawaban satu kata yang sama: “Sibuk!”Kesibukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine